Mualaf dan Rezeki dari Langit yang Penuh Haru

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 13 Juni 2019 09:00
Mualaf dan Rezeki dari Langit yang Penuh Haru
Kisah ini bisa menjadi panutan agar umat Islam tidak putus asa dalam rahmat Allah.

Dream - Sebuah kisah luhur ini patut menjadi cermin bagi umat Islam untuk berpasrah diri dan tidak putus asa akan rahmat Allah. Kisah yang tercantum dalam kitab Al Ushrufiyah menceritakan begitu indahnya pengalaman spiritual keluarga mualaf.

Sepasang kakak beradik penyembah api di negeri nun jauh di sana kecewa dengan sesembahan mereka. Mereka hendak membuktikan benar tidaknya api menjadi dingin ketika disentuh karena telah disembah puluhan tahun.

Yang mereka dapati, api sesembahannya tidak juga menjadi dingin. Malah jari adiknya terbakar akibat menyentuh api tersebut.

Dalam kegundahan, keduanya mendengar kabar mengenai tersebarnya ajaran agama baru yaitu Islam. Mereka juga mendapat kabar, ada pendakwah masyhur yang menyebarkan Islam, Malik bin Dinar.

Kakak beradik ini lalu memutuskan pergi jauh meninggalkan kampung halaman demi bertemu dengan Malik bin Dinar. Mereka juga membawa serta istri dan anaknya.

Di tengah jalan, sang kakak mengurungkan niat mengenal Islam karena khawatir pada cacian dari keluarga dan tetangga. Sementara si adik tetap teguh dan melanjutkan perjalanan.

1 dari 5 halaman

Memutuskan Peluk Islam

Sesampai di majelis Malik bin Dinar, keluarga kecil ini turut serta mendengarkan ceramah sampai selesai. Setelah itu, mereka menemui Malik bin Dinar dan menyampaikan maksud ingin mengenal Islam.

Pernyataan itu disambut tangis haru para hadirin di majelis tersebut. Malik bin Dinar pun sempat berencana mengumpulkan sejumlah uang dari para hadirin untuk membantu penghidupan pria penyembah api yang mualaf tersebut beserta keluarganya.

Tetapi, pria itu menolak. Dia tidak ingin menjual agamanya dengan uang, lalu bersama keluarganya pamit meninggalkan majelis.

Mereka lalu menuju rumah kosong yang hampir roboh dan tinggal di sana. Kondisi rumah baru mereka sangat jauh dari tempat tinggal yang telah ditinggalkan.

Tiba di rumah itu, sang istri meminta pria itu untuk pergi ke pasar mencari pekerjaan. Berharap sang suami mendapat upah untuk dibelikan makanan.

Pria itu mengiyakan dan pergi ke pasar menawarkan tenaga. Setelah beberapa lama di pasar, tidak ada yang mau menggunakan tenaga pria itu.

" Bagaimana jika aku bekerja pada Allah saja?" pikirnya di tengah keputusasaan.

2 dari 5 halaman

Diterpa Kesulitan Hidup

Dia lalu menuju masjid dan sholat hingga malam. Lalu pulang dengan tangan kosong.

" Hari ini kau tidak dapat apa-apa?" tanya sang istri.

" Hari ini aku bekerja kepada Allah yang menguasai segenap kerajaan. Tapi Dia belum memberikan ongkos, mungkin besok akan membayarnya," kata si suami.

Keluarga kecil itu terpaksa melewatkan malam dengan menaham lapar. Keesokan harinya, pria itu mencoba berusaha seperti hari kemarin, pergi ke pasar menawarkan tenaga dan pergi ke masjid jika tidak ada hasil.

Lagi-lagi, pria itu tidak mendapatkan rezeki. Dia pun pulang tanpa membawa apapun sehingga selama dua hari keluarganya hanya minum air.

3 dari 5 halaman

Jumat Penuh Berkah

Di hari ke tiga, bertepatan hari Jumat, pria itu mengulangi aktivitasnya seperti dua hari sebelumnya. Tetap saja dia tidak mendapatkan apa-apa.

Dalam langkah gontai, pria itu menuju masjid. Dia ambil air wudhu, sholat dua rakaat, lalu mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berdoa.

" Ya, Tuhanku. O, Sayyidi. Wahai Maulaya. Engkau telah memuliakanku dengan mengenal agama Islam. Memahkotaiku dengan mahkota Islam. Menunjukkanku dengan mahkota hidayah. Demi agama yang Kau-rezekikan padaku dan dengan kemuliaan hari mulia yang Kau katakan berderajat agung, yakni hari Jumah. O, Tuhanku. Aku memohon kepada-Mu. Hilangkan himpitan nafkah keluargaku ini dari dada. Berilah hamba rezeki yang tiada disangka. Aku, O, Allah! Malu pada keluargaku. Aku takut, karena baru masuknya Islam, hati mereka akan berubah."

Setelah berdoa, dia melanjutkan sholat. Dia baru pulang ketika hari sudah malam.

4 dari 5 halaman

Pria Tampan dan Bejana Emas

Saat pria itu sedang sholat di masjid, rumahnya diketuk seseorang. Sang istri membukakan pintu lalu terkaget menjumpai pria tampan membawa bejana emas tertutup kain emas yang berisi emas juga.

" Ini adalah upah suamimu. Katakan padanya kalau ini baru ongkos dua hari kerjanya. Kalau hari ini dia semakin giat, maka kami akan menambahkan ongkos khusus, di hari Jumat yang istimewa ini," kata pria itu.

Pria tampan pergi, dan wanita itu segera menukarkan sebagian emas dengan uang yang berlaku saat itu. Pemilik toko dibuat kaget lantaran mendapati emas yang dibawa wanita itu memiliki kualitas yang tidak ada di bumi.

" Ini, kualitas emas yang di bumi tidak ada. Pasti dari akhirat!" batin pemilik toko.

 

5 dari 5 halaman

Kantung Kain Berisi Pasir

Sementara, suami wanita itu kembali pulang dengan perasaan gusar. Dia mengambil pasir, membungkusnya dalam kain.

Pikirannya terlintas kata tepung. Itulah jawaban yang akan diberikan ketika istrinya bertanya isi dari kantong kain yang dibawanya.

Begitu sampai di pelataran rumah, pria itu takjub dan terheran-heran. Rumahnya berubah total, penuh dengan hiasan dan makanan lezat.

Setelah masuk, dia letakkan kantung kain itu di pinggir lalu bertanya apa yang terjadi pada istrinya. Setelah mendapat penjelasan dari sang istri, dia segera sujud syukur.

Setelah itu, sang istri bertanya apa yang dibawa pria itu dalam kantung kain.

" Entahlah, jangan kau tanya aku," kata pria itu.

Jawaban itu membuat istrinya penasaran. Wanita itu lalu mengambil dan membuka kantung kain yang diletakkan suaminya.

Wanita itu bersyukur mendapati isi kantung itu adalah tepung. Suaminya sempat kaget mendapati isi kantung itu dan segera bersujud syukur kembali.

Sumber: NU Online

Beri Komentar