Orangtua Utang ke Anak, Bagaimana Statusnya?

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 14 Juli 2019 18:01
Orangtua Utang ke Anak, Bagaimana Statusnya?
Salah satu tugas orangtua kepada anak adalah membesarkannya.

Dream - Sebagai orangtua, memenuhi kebutuhan anak merupakan tugasnya. Anak menjadi tanggungan orangtua sedari kecil hingga mampu mandiri dalam mencari rezeki.

Sementara kewajiban anak yang telah mandiri kepada orangtuanya yaitu memuliakan mereka. Caranya dengan merawat serta membiayai keperluan mereka.

Terkadang, ada orangtua harus berutang pada sang anak. Misalnya untuk kebutuhan yang sifatnya mendesak sementara orangtua sedang tidak memegang uang. '

Jika anak punya tugas memuliakan orangtua, bagaimana status utang orangtua pada anaknya?

Dikutip dari NU Online, para ulama menggolongkan utang orangtua kepada anak selaiknya utang kepada orang lain. Orangtua punya tanggungan untuk melunasi dan anak punya hak untuk menagih

Ketentuan ini seperti ditetapkan dalam Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah.

" Jika seorang ayah berutang pada anaknya, maka sang anak berhak untuk menagih utang tersebut menurut selain mazhab Imam Hambali, sebab utang ayah tersebut merupakan sebuah tanggungan yang tetap (tsabit). Boleh (bagi anak) untuk menagih utang tersebut, seperti halnya utang-utang yang lain. Sedangkan menurut mazhab Hambali, utang orangtua tidak boleh untuk ditagih."

 

1 dari 6 halaman

Hak Menjatuhkan Sanksi

Tetapi, utang ini memiliki kekhususan yaitu mengenai hak memberikan sanksi anak kepada orangtuanya. Dalam literatur fikih, pemberi utang berhak menjatuhkan sanksi kepada pengutang jika tidak memenuhi perjanjian berupa habsu (menahan atau memenjarakan.

 Memberi Utang Pada Orang yang Membutuhkan, Ini Keutamaannya

Hak ini tidak ada dalam utang orangtua kepada anaknya. Sebab, syariat tidak membenarkan anak memberikan hukuman kepada orangtuanya, seperti dijelaskan Syeikh Syamsuddin Ar Ramli dalam kitab Nihayah Al Muhtaj.

Ketentuan tersebut berlaku jika transaksi antara orangtua dan anak disebutkan secara jelas sebagai utang piutang sesuai hukum syariah.

Berbeda jika anak memberikan uang kepada orangtua tanpa ada penegasan penyerahan tersebut merupakan transaksi apa.

 

2 dari 6 halaman

Orangtua Sedang Tidak Mampu, Jadi Nafkah

Soal lain yang juga diperhatikan adalah perlunya anak mempertimbangkan keadaan orangtua. Jika orangtua dalam keadaan tidak mampu, maka akad yang terjadi dengan anak seharusnya bukan utang melainkan nafakah atau nafkah.

 Utang Piutang Lunasi Utang

Anak memang punya kewajiban menafkahi kedua orangtuanya. Kewajiban ini berlaku ketika anak memiliki harta cukup dan orangtua tidak memilikinya.

Kewajiban anak memberi nafkah akan gugur jika yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu orangtua punya harta cukup sedangkan anak tidak memilikinya.

 

3 dari 6 halaman

Mengutamakan Asas Kekeluargaan

Meski begitu, sangatlah penting orangtua dan anak mengutamakan asas kekeluargaan. Sangat tidak elok jika seorang anak memberi utang kepada orangtua yang sejak awal mendedikasikan hidup demi membesarkan buah hatinya.

 Karena Inflasi, Pelunasan Utang Harus Dilebihkan?

Terdapat riwayat yang menjelaskan hal. Dalam riwayat Imam Baihaqi, Rasulullah Muhammad SAW pernah didatangi oleh seorang lelaki.

" Seorang lelaki mendatangi Nabi, lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, aku memiliki harta dan anak, sedangkan orangtuaku membutuhkan hartaku.' Rasulullah lalu bersabda, 'Dirimu dan hartamu milik orang tuamu, sungguh anak-anak kalian itu termasuk yang paling baik dari usaha kalian. Maka makanlah dari hasil kerja anak-anak kalian."

(ism, Sumber: NU Online)

4 dari 6 halaman

Tata Cara Menagih Utang Sesuai Ketentuan Islam ....Masya Allah

Dream - Sudah jamak dipahami, utang merupakan transaksi yang dibolehkan dalam Islam. Tentunya dengan memperhatikan kemampuan untuk mengembalikannya.

Utang yang dalam fikih dikenal dengan istilah qard sebenarnya dikenal dengan sebutan aqad al irfaq atau akad yang terjadi atas dasar belas kasih. Sehingga, utang yang sifatnya memberatkan orang yang berutang tidak dibolehkan menurut syariat.

Dikutip dari NU Online, terdapat beberapa ketentuan yang patut diperhatikan terkait utang piutang. Utamanya berkaitan dengan penagihan utang.

Pertama, syariat bahkan tidak membolehkan pemberi utang menetapkan tenggat waktu kepada pengutang untuk membayar pinjamannya. Sebab, hal itu bertentangan dengan dasar pensyariatan utang meski dalam pandangan Mazhab Maliki dianggap wajar.

Syeikh Wahbah Az Zuhaily dalam kitab Al Fiqhul Al Islami wa Adillatuh bahkan secara tegas menyatakan tidak sah akad utang jika si pemberi utang menetapkan batas waktu pembayaran.

 

 

5 dari 6 halaman

Boleh Menagih, Asal...

Kedua, dibolehkan pemberi utang untuk menagih kepada pengutang. Kondisi demikian apabila si pengutang mampu membayar dan memiliki harta yang cukup.

Tetapi, jika pengutang dalam keadaan tidak mampu untuk bayar utang maka pemberi utang diharamkan melakukan penagihan. Dia wajib menuunggu sampai pengutang dalam keadaan mampu.

Hal ini seperti difatwakan oleh Kementerian Wakaf dan Urusan Keagamaan Kuwait dalam Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah.

" Dampak-dampak dari adanya utang adalah adanya hak menagih utang dan hak membayar utang. Dan disunahkan bersikap baik dalam menagih utang serta wajib menunggu orang yang dalam keadaan tidak mampu membayar sampai ketika ia mampu membayar utangnya, menurut kesepakatan para ulama."

 

6 dari 6 halaman

Dilakukan dengan Baik dan Sopan

Hal ini dikuatkan dengan pandangan Syeikh Fakhruddin Ar Razi dalam kitab Mafatih Al Ghaib yang merupakan karya tafsirnya atas Alquran. Syeikh Fakhruddin menegaskan haram hukumnya pemberi utang menahan pengutang yang tidak mampu membayar agar tidak kabur, juga haram menagih utang kepadanya.

Jika meragukan ketidakmampuan pengutang melakukan pembayaran, dibolehkan untuk menahannya sampai jelas ketidakmampuannya.

" Jika orang yang berutang mengaku dalam keadaan tidak mampu, namun orang yang memberi utang tidak mempercayainya, maka dalam keadaan demikian terdapat dua perincian: Jika utangnya berupa harta yang diserahkan padanya, seperti akad penjualan (yang belum dibayar) atau akad utang (qardl), maka wajib bagi orang yang utang untuk membuktikan dengan dua orang saksi bahwa harta yang diserahkan padanya telah tiada. Sedangkan jika utangnya berupa harta yang tidak diserahkan padanya, seperti ia telah merusak harta orang lain dan berkewajiban untuk mengganti rugi atau ia utang pembayaran mahar nikah, maka ucapan dari orang yang memiliki tanggungan dalam hal ini secara langsung dapat dibenarkan, sedangkan bagi orang yang memiliki hak harus menyertakan bukti yang mementahkan pengakuan orang yang memiliki tanggungan tadi, hal ini dikarenakan hukum asal dari orang yang memiliki tanggungan berada dalam keadaan tidak mampu."

Selain itu, ketika menagih utang sepatutnya dilakukan dengan cara yang baik dan sopan. Tidak boleh menggunakan nada tinggi, mengancam, apalagi menuntut pembayaran dengan nominal lebih dari jumlah yang terutang. Hal ini merupakan kebiasaan buruk masyarakat Arab jahiliyah.

Sumber: NU Online

Beri Komentar
ANGRY BIRDS 2, Animasi Lucu dengan Pesan Tersembunyi - Wawancara Eksklusif Produser John Cohen