Pengertian Hukum Waris Islam, Landasan, dan Pembagian Warisan Menurut Alquran

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Jumat, 19 November 2021 06:00
Pengertian Hukum Waris Islam, Landasan, dan Pembagian Warisan Menurut Alquran
Hukum waris Islam ini berlandaskan pada Al-Quran dan hukum Islam yang ada di Indonesia.

Dream – Warisan menjadi hal yang cukup sensitif. Karena tak sedikit permasalahan yang muncul karena warisan. Manusia bisa meninggalkan dunia ini kapan saja. Harta yang ditinggalkan oleh orang yang sudah meninggal itulah yang disebut dengan warisan.

Warisan yang ditinggalkan kerap kali menjadi suatu masalah tersendiri yang melibatkan keluarga besar atau keluarga yang ditinggalkan dalam mempermasalahkan siapa sebenarnya yang berhak mendapatkan warisan tersebut. Nah, untuk menghindari masalah yang berkaitan dengan warisan tersebut, maka perlu adanya hukum waris Islam yang mengatur dengan baik.

Tanpa adanya hukum waris Islam, maka perebutan warisan bisa saja menghancurkan hubungan keluarga. Tentunya hal seperti itu tidak ingin terjadi kan, sahabat Dream?

Untuk mengetahui lebih jelas tentang apa itu hukum waris Islam dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan hukum waris Islam, berikut sebagaimana telah dirangkum oleh Dream melalui berbagai sumber.

1 dari 4 halaman

Pengertian Hukum Waris Islam

Pengertian Hukum Waris Islam© Freepik.com

Kata waris sendiri sebenarnya sudah umum di tengah masyarakat. Pengertian waris dalam hukum waris Islam adalah aturan yang diciptakan dalam upaya mengatur suatu perpindahan harta dari seseorang yang sudah meninggal dunia pada orang lain atau pun keluarga yang telah disebutkan sebagai ahli waris tersebut.

Sedangkan untuk pengertian hukum waris Islam sebagaimana terdapat dalam kompilasi hukum Islam pasal 171 adalah hukum yang diciptakan dalam upaya mengatur tentang pemindahan hak kepemilikan harta peninggalan dari pewaris, dan juga turut menentukan siapa saja orang yang memiliki hak milik atas harta peninggalan pewaris. Selain itu juga menentukan siapa saja orang yang memiliki hak untuk menerima dan menjadi ahli warisnya serta menentukan jumlah bagian untuk setiap ahli waris.

Sehingga dalam hukum waris Islam itu sudah jelas menerangkan siapa saja orang yang akan menerima warisan atau disebut ahli waris, jumlah yang akan diterima oleh masing-masing, dan harta jenis apa yang akan diberikan.

Dalam pengaturan hukum waris islam ini pun tidak lepas dari keterlibatan Alquran di dalamnya. Bahkan kitab suci ini menjadi landasan yang utama sebagai dasar hukumnya. Karena di dalam Alquran tidaklah dijelaskan secara mendetail tentang pewarisan, maka sumber lainnya yang digunakan adalah hadis Nabi.

2 dari 4 halaman

Ayat Alquran dan Pasal Tentang Wasiat dan Hukum Waris Islam

Ayat Al-Quran dan Pasal Tentang Wasiat dan Hukum Waris Islam© Pixabay.com

Jika membahas tentang waris, tentunya tidak akan terlepas dengan wasiat. Oleh karena itu, dalam hukum waris Islam sendiri juga turut membahas peralihan harta dari pewaris kepada ahli waris melalui wasiat.

Nah, hal-hal yang mengatur tentang wasiat dan ahli waris ini pun juga didasarkan pada kitab suci Al-Quran pada ayat-ayat di dalamnya. Berikut adalah ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan mengenai wasiat:

Al-Baqarah ayat 180

Artinya: “ Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput di antara kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.”

An-Nisa ayat 11 hingga 12

Artinya:“ Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa ayat 11)

Artinya: “ Dan bagianmu (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istri-istrimu) itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan setelah dibayar) utang-utangmu. Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau seorang saudara perempuan (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu, setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris). Demikianlah ketentuan Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.” (QS. An-Nisa ayat 12)

3 dari 4 halaman

Ayat Alquran dan Pasal Tentang Wasiat dan Hukum Waris Islam

Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam, pasal-pasal yang mengatur tentang wasiat terdapat dalam Bab V pada pasal 194 hingga pasal 209 yang isinya sebagai berikut:

Pasal 194 hingga 208

Dalam Kompilasi Hukum Islam pada pasal 194 hingga pasal 208 hal ini mengatur tentang wasiat secara biasa. Lalu di pasal 209 mengatur tentang wasiat secara khusus yang nantinya akan diberikan pada orang tua angkat atau pun pada anak angkat.

Pasal 195

Kemudian di pasal 195 dalam Kompilasi Hukum Islam, isinya menjelaskan tentang bentuk wasiat yang terdiri dari dua jenis, yakni yang lisan dan tertulis. Untuk yang jenis tertulis ini bentuknya bisa berupa akta di bawah tangan maupun akta notaris. Keduanya adalah sah jika telah disaksikan oleh minimal dua orang yang menjadi saksinya.

4 dari 4 halaman

Pembagian Warisan Secara Islam

Pembagian Warisan Secara Islam© Pixabay.com

Dalam pembagian warisan, hal ini telah dijelaskan dalam Islam sebagaimana dilansir dari Finance.detik.com melalui buku yang ditulis oleh Ali Ash-Shabuni berjudul “ Pembagian Warisan Menurut Islam”. Dalam hal ini, pembagian warisan yang dijelaskan Alquran ada enam macam sebagai berikut:

Setengah

Ashhabul furudh yang memiliki hak untuk mendapat setengah dari harta waris yang ditinggalkan pewaris ada lima. Yakni satu dari golongan laki-laki dan empat dari perempuan. Mereka adalah suami, anak perempuan, cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki, saudara kandung perempuan, dan saudara perempuan yang seayah.

Seperempat

Pewaris yang memiliki hak untuk mendapatkan seperempat dari warisan hanya berjumlah dua, yakni terdiri dari suami dan istri saja.

Seperdelapan

Pewaris yang memiliki hak untuk mendapatkan warisan sebanyak seperdelapan bagian adalah istri. Baik seorang maupun lebih, tetap sama akan mendapatkan seperdelapan harta dari suaminya, jika sang suami memiliki anak atau pun cucu. Anak tersebut bisa lahir dari rahimnya maupuan dari istri yang lainnya.

Dua per tiga

Pewaris yang berhak mendapatkan dua per tiga bagian harta waris ada empat orang yang kesemuanya perempuan. Mereka adalah dua anak perempuan kandung atau lebih, dua cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih, dua saudara kandung perempuan atau lebih, dua saudara perempuan seayah atau lebih.

Sepertiga

Pewaris yang berhak mendapatkan sepertiga bagian harta waris hanyalah dua orang yang terdiri dari ibu dan dua saudara, baik itu laki-laki maupun perempuan yang sama ibu.

Seperenam

Pewaris yang berhak mendapat seperenam harta waris ada tujuh orang. Mereka adalah ayah, kakek asli (bapak dari ayah), ibu, cucu perempuan keturunan anak laki-laki, saudara perempuan seayah, nenek asli, saudara laki-laki dan perempuan yang seibu.

Beri Komentar