Indonesia Masih Jauh dari Ramah Disabilitas?

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 20 Februari 2020 06:02
Indonesia Masih Jauh dari Ramah Disabilitas?
Selama ini, mereka hanya dipandang sebelah mata.

Dream - Penyandang disabilitas acapkali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Tak hanya itu, fasilitas bagi penyandang disabilitas tak tersedia di semua tempat.

Padahal, penyandang disabilitas juga memiliki kesetaraan yang sama dengan semua orang dan ingin dipandang sebagai manusia normal.

Kesetaraan sangatlah penting agar para penyandang disabilitas tidak merasa menyesal akan kehidupan yang dijalaninya. Terlebih dahulu, kita perlu mengetahui arti dari kesetaraan itu sehingga kita dapat melakukannya.

 Pendiri Thisable, Angkie Yudistia.© Dream.co.id/Cindy Azari


“ Prinsip dasar kesetaraan atau kesamaan, yaitu bagaimana mendapatkan kesempatan yang sama. Kita berbeda, tapi yang membuat setara adalah hak dan kewajiban,” kata pendiri Thisable Enterprise, Angkie Yudistia, dalam “ Indonesia Butuh Anak Muda” di Jakarta, Rabu 19 Februari 2020.

Angkie mengatakan, fasilitas penyandang disabilitas di Indonesia masih sangat kurang. Kadang fasilitas yang dijumpai tak layak digunakan.

“ Masih jauh sekali Indonesia menjadi negara yang ramah disabilitas. Tidak semua akses yang diperlukan untuk penyandang disabilitas tersedia,” kata dia.

1 dari 5 halaman

Harus Lebih Buka Mata

Angkie mengatakan Indonesia harus lebih membuka mata terhadap para penyandang disabilitas. Misalnya, membangun fasilitas yang layak dan menyertakan pendamping yang layak.

Dengan perhatian masyarakat dan pemerintah, Indonesia akan menjadi negara yang ramah dengan penyandang disabilitas.

Dia juga meminta keluarga juga bisa memahami isu disabilitas. Angkie menilai keluarga bisa membangun karakter seorang anak sehingga bisa bertahan hidup di dunia luar.

“ Orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas seharusnya tidak malu dan mengajak anaknya untuk meng-explore dirinya seperti layaknya manusia normal,” kata Staf Khusus Milenial Presiden Jokowi ini. 

(Laporan: Cindy Azari)

2 dari 5 halaman

Kisah Penyandang Disabilitas Ikut Seleksi CPNS: `Saya Takut Banget`

Dream - Setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi abdi negara. Pemerintah juga membuka peluang bagi para disabilitas untuk mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). 

Tekad mengabdikan diri untuk negara inilah yang sedang diperjuangan Alia Nur Fatimah. Mengidap cerebral palsy atau gangguan syaraf dan otot tak membuatnya patah arang untuk menjadi PNS.

Mengutip laman menpan.go.id, Senin 3 Februari 2020, Alia semula pesimistis memgikuti seleksi CPNS 2020. Dia khawatir kondisi kesehatannya akan membuatnya gugur dalam penerimaan PNS.

 

 © Dream

 

Keraguan itu perlahan hilang saat Alia mengetahui pemerintah membuka kesempatan formasi khusus disabilitas.

“ Saya takut banget dengan tes kesehatannya. Tapi, ketika Pak Tjahjo Kumolo (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) mengatakan menerima yang disabilitas, saya ingin untuk lebih baik bagi Indonesia,” kata dia di Jakarta.

Dengan adanya formasi khusus, Alia yakin bisa mendorong penyandang disabilitas untuk maju, terutama mencari pekerjaan.

“ Disabilitas, kan, susah mencari pekerjaan,” kata dia.

3 dari 5 halaman

Bagaimana Hasilnya?

Lulusan Universitas Padjadjaran ini mempersiapkan diri sebelum mengikuti tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Dia mengunduh soal-soal latihan tes CPNS yang tersebar di internet, bahkan menonton tayangan di YouTube tentang latihan soal.

Seperti diketahui, SKD menerapkan sistem Computer Assisted Test (CAT). Alia mengakui, sistem CAT mempermudahnya dalam mengerjakan soal. Sistem komputerisasi ini menjamin keamanan soal serta transparansi nilai peserta.

Sebelum masuk ke ruangan tes, Alia bersama peserta lainnya diberikan petunjuk teknis mengenai cara mengerjakan soal.

Seperti peserta lainnya, ada passing grade atau nilai ambang batas yang harus Alia lalui menuju tahap Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Passing grade untuk formasi disabilitas sedikit berbeda dengan formasi umum. Pada formasi umum, nilai ambang batas untuk TIU adalah 80. Sedangkan pada formasi disabilitas, nilai ambang batasnya adalah 70. Sementara untuk nilai kumulatif minimal 260.

Usai melaksanakan SKD, Alia enggan mengungkapkan nilainya. Namun, dia mengatakan bahwa hasilnya baik. Selama pelaksanaan SKD, Alia menilai panitia bertugas dengan baik dan rapi.

4 dari 5 halaman

Kedai Kopi Kito Rato, Bukti Penyandang Disabilitas Bisa Mandiri

Dream - Sebagian besar penyandang disabilitas Sampai kini masih terus berjuang untuk bisa diterima masyarakat. Umumnya, yang dihadapi oleh penyandang disabilitas adalah ketidakmampuan bersaing dalam berbagai sektor, terutama memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang layak.

PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) turut mendorong penyandang disabilitas untuk mendapatkan kesetaraan dengan program Brave (Because Everyone is Able and Creative).

“ Program Brave ini bertujuan untuk menciptakan kesetaraan bagi penyandang disabilitas,” kata Head of Corporate Affairs Permata Bank, Richele Maramis, di Jakarta, Selasa 3 Desember 2019.

 

 © Dream



Richele mengatakan dukungan yang diberikan perusahaan berupa pendidikan literasi, inklusi keuangan dan pemberdayaan kewirausahaan. Untuk menggelar acara ini, pihaknya bekerja sama dengan Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong.

Dari kerja sama ini, BBRVPD melatih penyandang disabilitas dalam berbagai keterampilan, seperti pembentukan karakter serta literasi keuangan dan perbankan. Kemudian, mitra akan memilih pekerjaan sesuai dengan bidang yang disukai, seperti berbisnis.

5 dari 5 halaman

Dibangun Tiga Pemuda Penyandang Disabilitas

Michele mencontohkan bisnis kopi “ Kito Rato” didirikan oleh sebagian besar pendirinya berasal dari Disable Associate Program dari Permata Bank.

 Kito Rato© Dream.co.id

Kedai kopi Kito Rato diketahui dibangun oleh tiga pemuda penyandang disabilitas. Mereka adalah Wahyu Alistia (25) asal Lampung yang beraktivitas tanpa satu tangan, Saldi Rahman (23) asal Padang tanpa satu kaki, dan Rendy Agusta (25) asal Pekanbaru tanpa satu tangan.

Bukan membuka toko, kedai kopi itu menggunakan konsep food truck. VW Combi berwarna cokelat putih itu menjadi tempat berdagang sehari-hari.

Sebelumnya, para pemuda asal Pulau Sumatera ini telah bekerja di perusahaan. Sekian lama menjadi pekerja, mereka memutuskan keluar dari zona nyaman demi mengubah hidup lebih bermanfaat dan mandiri.

" Kami ingin menunjukkan bahwa kami mampu berwirausaha seperti anak muda lainnya, tidak ada batasan dan alasan bagi kami untuk menggapai cita-cita yang sama," kata Wahyu dikutip Dream dari Liputan6.com

(Laporan : Diah Tamayanti)

Beri Komentar
5 Kiat Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Biar Nggak Gampang Sakit Bersama Tolak Angin