Peristiwa Genting Rencana Penghancuran Kabah Saat Maulid Nabi

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 9 November 2019 06:01
Peristiwa Genting Rencana Penghancuran Kabah Saat Maulid Nabi
Akibat peristiwa itulah, tahun lahirnya Rasulullah Muhammad SAW disebut dengan Tahun Gajah.

Dream - Rabiul Awal menjadi salah satu bulan sangat penting bagi umat Islam. Bulan ini dikenal sebagai saat di mana bayi suci yang kelak menjadi junjungan umat manusia sepanjang zaman terlahir ke dunia. Masyarakat Indonesia mengenal hari bersejarah ini sebagai Maulid Nabi

Bayi itu lahir dari rahim Aminah bin Wahab, istri dari Abdullah bin Abdul Muthalib yang meninggal dalam perjalanan dagang menuju Syam. Sang kakek, Abdul Muthalib, memilih kata 'Muhammad' untuk bayi itu.

Dikutip dari NU Online, Abdul Muthalib sendiri adalah pemimpin Mekah dan menjadi pelayan Kabah. Dia bertugas menyediakan layanan akomodasi, makanan serta menyiapkan air dan kebutuhan pokok lainnya untuk para peziarah Kabah.

Momen indah kelahiran Muhammad terjadi di sela situasi genting yang melanda Mekah. Abrahah, saat itu memegang kekuasaan Yaman, berencana menghancurkan Kabah dengan bala tentaranya dan membawa serta beberapa ekor gajah.

Sebelum menyerang Kabah, Abrahah sempat merampas puluhan ekor unta milih Abdul Muthalib. Meski sudah uzur, Abdul Muthalib tidak gentar menemui Abrahah untuk meminta haknya.

1 dari 4 halaman

Motif Penghancuran Kabah oleh Abrahah

Motif Abrahah menghancurkan Kabah yaitu agar situs suci itu tidak menjadi kiblat masyarakat Arab. Dia ingin masyarakat Arab berziarah ke Yaman.

Untuk mewujudkannya, Abrahah membangun tempat ibadah megah Al Qullais berlokasi di Shan'a, Ibu Kota Yaman. Harapannya, dengan hancurnya Kabah orang-orang pindah berziarah ke Yaman.

Motif lainnya yaitu soal ekonomi. Penguasa Yaman itu ingin agar para pedagang yang selalu memenuhi Mekah di musim haji pindah ke daerah kekuasaannya.

Berangkatlah Abrahah dengan bala tentara untuk mewujudkan rencananya. Ada delapan ekor gajah (riwayat lain menyebut 12 ekor) yang dibawa sebagai kendaraan perang.

 

2 dari 4 halaman

Perampasan Unta Milik Abdul Muthalib

Rombongan tentara Abrahah sempat beristirahat di Al Mughammas, 3,6 kilometer dari Mekah arah Thaif. Abrahah kemudian mengutus seseorang menemui pemimpin Suku Quraisy untuk menyampaikan pesan rencana penghancuran Kabah, tetapi bukan untuk berperang.

Tetapi, jika penduduk Mekah ingin berperang, maka Abrahah mempersilakan pemimpin mereka menemuinya. Selain itu, dia juga merampas harta Suku Quraisy, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib.

Karena tidak terima, Abdul Muthalib akhirnya menemui Abrahah untuk meminta kembali semua untanya. Semula, Abrahah menaruh hormat kepada Abdul Muthalib namun kemudian tidak lagi.

Penyebabnya, kedatangan Abdul Muthalib tidak untuk membahas rencana penghancuran Kabah. Melainkan hanya untuk meminta untanya.

" Aku pada mulanya kagum kepadamu begitu melihatmu, tetapi kekagumanku sirna setelah engkau berbicara meminta 200 ekor untamu itu dan tidak menyinggung tentang rumah yang engkau dan leluhurmu agungkan dan yang aku datang untuk merubuhkannya," kata Abrahah kepada Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib lalu menjawab perkataan Abrahah dengan singkat.

" Unta-unta itu aku pemiliknya, sedangkan Rumah itu (Kabah) ada juga pemiliknya yang akan membelanya," kata Abdul Muthalib.

 

3 dari 4 halaman

Kecongkakan Abrahah

Tetapi, Abrahah membalas perkataan Abdul Muthalib dengan congkah. Dia menyatakan Sang Pemilik (Allah) tidak akan mampu menghalanginya menghancurkan Kabah.

Abdul Muthalib lalu mempersilakan Abrahah menjalankan rencananya. Kemudian, Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang disitanya kepada pemiliknya.

Abdul Muthalib kemudian menyembelih unta-unta tersebut untuk persembahan kepada Kabah. Sembari berdoa agar Allah menjaga Kabah dari serangan Abrahah.

 

4 dari 4 halaman

Bujukan Abdul Muthalib

Abdul Muthalib sebenarnya sudah membujuk Abrahah untuk mengurungkan niatnya. Bahkan Abdul Muthalib bersedia memberikan sepertiga kekayaan Tihamah agar Abrahah tak menghancurkan Kabah. Tetapi, Abrahah menolak tawaran itu dan kukuh dengan rencananya.

Abdul Muthalib kembali dengan perasaan campur aduk. Sadar masyarakat Mekah tidak bisa melawan kekuatan Abrahah yang sudah terlatih berperang.

Dia pun bertawakal kepada Allah. Setelah gagal melalukan upaya membendung serangan Abrahah, Abdul Muthalib memerintahkan seluruh penduduk untuk menyingkir sementara waktu.

Abrahah pun memerintahkan pasukannya menuju Kabah. Muncul keanehan, gajah yang dinaiki Abrahah tidak mau berjalan menuju Kabah. Sementara jika diarahkan menuju titik lain, gajah itu mau berjalan.

Beberapa saat kemudian, peristiwa yang disebutkan dalam Surat Al Fil terjadi. Abrahah dan bala tentaranya tewas mengenaskan karena serangan burung-burung ababil atas perintah Allah SWT.

Sumber: NU Online

Beri Komentar
Umroh Bareng Pasangan, Foto Sweet Selebritis Saat di Mekkah