Iba Lihat Nenek Masih Cari Nafkah, Bocah 10 Tahun Keliling Jual Gorengan

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 14 Agustus 2019 14:36
Iba Lihat Nenek Masih Cari Nafkah, Bocah 10 Tahun Keliling Jual Gorengan
Setiap pulang sekolah, Dinda mengayuh sepeda menyusuri jalanan menjajakan gorengan.

Dream - Usia Dinda Eka Wati baru 10 tahun. Meski begitu, dia sudah harus menanggung beban hidup cukup berat untuk anak seusianya.

Dinda tidak lagi merasakan kasih sayang ayah dan ibunya lantaran bercerai. Dinda kini tinggal bersama neneknya di Dusun Tales, Desa Kentangan, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Ayah maupun ibunya juga tidak pernah memberikan uang kepada Dinda untuk memenuhi kebutuhan hidup. Alhasil, bocah itu harus berjuang untuk mencukupi segala keperluannya sendiri, termasuk biaya sekolah.

Siswa SDN 1 Kentangan ini terpaksa berjualan gorengan dengan bersepeda berkeliling desa. Hal ini harus dia lakukan untuk menyambung hidup.

" Saya sehari-hari berjualan gorengan setelah sekolah. Pulang sekolah jam 12.00 WIB, terus bantu nenek di dapur menyiapkan dagangan, menggoreng tahu isi, bakwan, pisang goreng, dan masih banyak lagi," ujar Dinda, dikutip dari Liputan6.com.

Setelah selesai digoreng, Dinda menempatkan dagangannya di kotak plastik. Kotak itu kemudian diletakkan di bagian belakang sepeda butut yang dia pakai berjualan.

 

1 dari 5 halaman

Sudah Setahun Jualan Gorengan

Rute yang ditempuh Dinda menjajakan gorengan cukup jauh. Terkadang dia masuk ke kompleks perumahan.

Saat dagangannya tak kunjung habis, Dinda sering kali menempuh jarak lebih jauh dari rute kesehariannya. Hal itu harus dia lakukan jika dagangannya tidak kunjung habis.

Lelah mengayuh sepeda, Dinda mencari tempat teduh untuk beristirahat dan minum air. Aktivitas berjualan gorengan sudah dijalani Dinda selama setahun belakangan.

" Bapak ibu sudah pisah lama, saya tinggal bersama nenek," kata Dinda.

 

2 dari 5 halaman

Bantu Nenek

Ditanya kapan orangtuanya bercerai, Dinda mengaku tidak ingat. Dia hanya tahu sejak kecil sudah tinggal bersama sang nenek.

Seluruh kebutuhan Dinda ditanggung oleh sang nenek. Ibu Dinda terkadang turut membayar uang sekolahnya.

Gadis cilik itu mengaku kasihan pada sang nenek yang harus mencari uang untuk biaya hidupnya. Muncullah niat pada diri Dinda untuk meringankan beban neneknya.

 Dinda

" Makanya saya jualan gorengan," kata Dinda.

Dinda mengaku sebenarnya dia kerap bertemu dengan ayahnya ketika berjualan di Pasar Magetan. Tetapi, dia memilih tidak menyapa, pun demikian dengan sang ayah.

" Ya, kalau ketemu sih ketemu saja, tetapi cuma saling lihat saja. Setelah ya, tidak menyapa," kata dia.

3 dari 5 halaman

Sehari Bisa Dapat Rp80 Ribu-Rp100 Ribu

Dari hasil berjualan gorengan, Dinda bisa membayar sekolah dan membantu nenek mencukupi kebutuhan. Setiap jualan mulai pukul 13.00 sampai 17.00, dia bisa mendapatkan uang antara Rp80 ribu sampai Rp100 ribu.

" Kalau ramai ya terjual semua bisa mencapai Rp100 ribu karena gorengan yang saya bawa ada 100 jumlahnya. Jualnya kan Rp1.000, jika habis yang dapat Rp100 ribu," kata Dinda.

Jika dagangan habis lebih cepat, Dinda langsung pulang. Jika sebaliknya, Dinda terpaksa mengayuh sepeda lebih jauh lagi.

" Kalau jam 5 sore sudah tidak ada yang beli, saya baru pulang," kata dia.

 

4 dari 5 halaman

Rajin Belajar, Ingin Jadi Dokter

Pukul 17.00 menjadi patokan Dinda selesai berjualan karena dia harus tetap meluangkan waktu untuk belajar. Usai Maghrib, Dinda menggunakan waktu sepenuhnya untuk belajar.

" Ya harus tetap belajar, habis jualan, mandi dan lanjut belajar, mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru saya, terus belajar buat besok harinya," kata dia.

Dinda cukup pandai membagi waktu. Tidak mengherankan jika bocah ini selalu masuk peringkat 3 besar di kelasnya.

 Dinda

Sayangnya, Dinda tidak bisa mengetahui berapa nilainya di semester ganjil kelas 4. Rapornya ditahan lantaran ada tunggakan yang belum dilunasi Dinda.

" Ibu belum membayar apa gitu. Makanya rapor saya masih ditahan, tapi ndak apa-apa. Saya tetap belajar," kata dia.

Dinda mengaku punya cita-cita yang ingin dia wujudkan. Menjadi seorang dokter.

" Pingin jadi dokter, ya harus belajar. Dokter kan pintar karena belajar. Pingin menyembuhkan orang-orang, saya," kata dia.

5 dari 5 halaman

Pengakuan Sang Ibu

Ibunda Dinda, Endah Mulyahati, mengatakan sebenarnya tidak ingin anaknya berjualan. Dia sempat melarang Dinda berdagang gorengan di usianya yang masih kecil, namun gadis cilik itu tidak bisa dicegah.

" Sudah saya larang, tapi tidak mau," kata dia.

Pun demikian dengan tempat tinggal. Endah sering meminta Dinda tinggal dengannya namun selalu ditolak.

" Anaknya pingin bersama neneknya. Mungkin karena sejak kecil sudah sama neneknya," kata dia.

Perjuangan tak kenal menyerah Dinda terdengar ke telinga sejumlah pejabat. Termasuk Kapolres Magetan, AKBP Muhammad Rifai.

Bersama jajarannya, Rifai menyerahkan sejumlah bantuan kepada Dinda seperti tas sekolah, sepatu, serta alat tulis. Tak hanya itu, Dinda juga dapat hadiah sepeda baru.

" Ya kami memberikan kebutuhan untuk sekolahnya. Semoga bermanfaat tidak bisa digunakan Dinda untuk sekolah," kata Rifai

(Sah, Sumber: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Beri Komentar
Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary_mark