Pernah Terjaring Satpol PP, Pengamen Ini Lulus Cum Laude

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 10 September 2019 19:12
Pernah Terjaring Satpol PP, Pengamen Ini Lulus Cum Laude
Noviana pernah mengalami kerasnya kehidupan di jalanan.

Dream - Bagi Noviana, keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk berprestasi. Ini terbukti dari kelulusannya dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair), dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,94 dan meraih predikat Cum Laude.

Tidak ada yang menyangka, kalau gadis usia 24 tahun asal Surabaya ini pernah menjalani kehidupan sangat sulit. Ia pernah mengais rezeki sebagai pengamen di Jalan Ngagel Surabaya.

" Selama 10 tahun mengamen di jalan, dari TK hingga SMP," ujar Noviana, dikutip dari Liputan6.com.

Uang hasil mengamen dia gunakan untuk membantu orangtuanya. Pendapatan sang ayah, Sutrisno, dari hasil mengayuh becak sangat tidak mencukupi.

Noviana mengatakan sebenarnya dia dilarang mengamen oleh orangtuanya. Tetapi, keinginan untuk membantu orangtua rupanya jauh lebih kuat. Alhasil orangtuanya mengizinkan Noviana mengamen.

Meski begitu, Noviana mendapat pesan dari orangtua untuk tidak menjadikan jalanan sebagai sumber utama mencari kehidupan. Orangtuanya pun tak pernah luput memperhatikan kondisi Noviana.

" Penghasilan mengamen juga dikembalikan ke anak-anaknya untuk makan, beli vitamin dan buku," kata Noviana.

 

1 dari 5 halaman

Orangtua adalah Segalanya

Bagi Noviana, orangtua adalah segalanya. Karena dari merekalah, Noviana selalu merasakan kehangatan meski kehidupan berjalan dengan begitu sulit.

Hal itu pulalah yang menjadi pengingat Noviana beserta kakak dan adiknya. Hingga mereka tidak terpengaruh dampak buruk kehidupan di jalanan.

" Selalu bisa bawa suasana tidak tertekan, tetap bahagia," kata dia.

Selanjutnya, Noviana bercerita kegiatan mengamen tidak dilakukan sepanjang hari. Anak dari pasangan Sutrisno dan Karyatiningsih ini dibolehkan mengamen saat sore hari usai sekolah dan tidur siang.

 

2 dari 5 halaman

Tak Lupa Belajar

Di sela mengamen, dia menyempatkan waktu mengerjakan tugas sekolah. Tak jarang, ayahnya bertanya mengenai pelajaran yang didapatnya di sekolah.

" Bapak selalu antar jemput sekolah. Dalam perjalanan itu, bapak selalu nanya, jadi ikut belajar," ucap Noviana.

Pernah suatu hari saat masih duduk di bangku SMP, Noviana tidak menemukan jawaban dari soal Biologi. Dia jadi kesal dan mencurahkannya kepada sang ayang.

Setiap kali Noviana merasa kesal, sang ayah selalu berpesan tidak ada pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Noviana selalu diminta sang ayah untuk kembali membaca buku hingga menemukan jawabannya. Hal itu jadi pengingat Noviana untuk tidak mudah menyerah dalam mencari jawaban.

 

3 dari 5 halaman

Ditahan di Liponsos Keputih

Noviana merasakan betul pahit manis kehidupan jalanan. Dia terlampau sering berhadapan dengan aparat keamanan. Bahkan, dia pernah tertangkap razia Satpol PP kemudian ditahan di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Keputih.

" Sering dikejar-kejar aparat, mungkin orangnya sampai bosan. Saya dan kakak pernah ditangkap," ucap dia.

Sampai suatu hari saat berada di Liponsos, Noviana bertemu dengan Wali Kota Surabaya kala itu, Bambang DH. Kepada Bambang, dia meminta pekerjaan sampingan dan bisa bersekolah dengan lancar.

Permintaan itu dipenuhi Bambang. Noviana pun berhenti mengamen ketika duduk di bangku kelas 2 SMP. Sejak saat itu, dia fokus belajar.

 

4 dari 5 halaman

Ingin Jadi Guru, Tapi...

Ketika duduk di bangku SMA, Noviana menargetkan masuk jurusan IPA. Dia ingin meneruskan kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan menjadi guru matematika. Tetapi, dia malah mendapat undangan kuliah dari FH Unair.

" Saya bertemu seseorang yang menilai kalau saya cocoknya di Fakultas Hukum. Kalau mau mengabdi ke masyarakat tidak harus jadi guru, bisa lewat bidang hukum. Karena orang itu tahu karakter saya jadi seperti menepati untuk masuk ke fakultas hukum. Memang semakin kita menghindari malah itu yang didapat. Jadi saya dapat jalur undangan untuk masuk fakultas hukum," kata dia.

Selama kuliah, Noviana tidak mau merepotkan orangtuanya. Dia berusaha memenuhi kebutuhan sendiri lewat beragam cara, mulai membantu fotocopy materi kuliah, berdagang aksesoris hingga menjadi atlet panahan.

 

5 dari 5 halaman

Bercita-cita Jadi Hakim

Sebagai atlet, Noviana pernah menorehkan prestasi di Pekan Olahraga Panahan untuk kontingen Surabaya. Dia meraih medali emas dan perak, lalu hasilnya dia gunakan untuk biaya kuliah.

" Saya juga ikut di Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum FH Universitas Airlangga untuk membantu menambah ilmu," kata dia.

Saat ini, Noviana tengah magang di salah satu kantor advokat. Dia masih punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan bercita-cita menjadi hakim. (mut)

Sumber: Liputan6.com/Agustina Melani

Beri Komentar
Detik-detik Bom Bunuh Diri Meledak di Polrestabes Medan