Pernikahan Sederhana Bawa Senyum ke Kota Gaza yang Hancur

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 14 Agustus 2014 08:08
Pernikahan Sederhana Bawa Senyum ke Kota Gaza yang Hancur
Pesta diadakan tanpa musik untuk menghormati 2000 korban tewas warga Palestina akibat serangan brutal Israel sejak 8 Juli.

Dream - Konflik yang menelan 2.000 nyawa warga Palestina di Jalur Gaza tidak menyurutkan langkah sepasang pengantin Gaza melangsungkan pernikahan mereka.

Heba Fayyad sudah membayangkan malam pacar (henna) yang indah saat dia bertunangan dengan suaminya, Omar Abu Nimar dua bulan lalu.

Fayyad ingin meninggalkan masa lajangnya dalam sebuah pernikahan beberapa kilometer jauhnya dari rumah keluarganya di desa Beit Hanoun pada Rabu lalu.

Namun mimpi indah itu lenyap pada 18 Juli ketika serangan udara Israel menghancurkan rumah mereka. Kondisi itu memaksa keluarga mengungsi ke sebuah sekolah PBB di Beit Lahiya, yang telah menjadi kamp darurat untuk lebih dari 1.000 warga Gaza.

Kendati demikian, mereka tetap menyelenggarakan malam pacar pada Selasa saat gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas diberlakukan.

Setelah dirias di salon, Fayyad kembali ke Beit Lahiya Preparatory School for Girls dalam tradisi pernikahan Arab menggunakan mobil. Dia melintasi halaman sekolah yang sudah dibersihkan dari puing-puing.

Di sana Fayyad membuka penutup wajahnya dan disambut oleh anggota keluarga perempuan dan penghuni kamp. Meskipun sebagian besar perempuan itu sudah tidak memiliki tempat tinggal, mereka masih tersenyum saat menorehkan henna di tangan Fayyad.

Sesuai dengan tradisi di Gaza utara, Fayyad dan calon suaminya, Omar Abu Nimar, dijodohkan oleh orangtua mereka. Juga sesuai dengan adat setempat, Abu Nimar tidak menghadiri acara malam pacar itu.

Keluarga mempelai pria berasal dari kamp pengungsi di pantai Kota Gaza, yang dibom habis-habisan oleh angkatan laut Israel. Di kamp ini juga terdapat rumah pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, yang sebelumnya sudah rata oleh serangan udara Israel bulan lalu.

Malam pacar itu diadakan di sebuah perpustakaan yang sebelumnya telah disulap menjadi sebuah klinik darurat dan ruang bermain anak-anak. Tempat tersebut dihiasi dengan dengan karangan bunga dan poster sederhana berisi ucapan selamat.

Ayah Fayyad, Riad Fayyad, berharap pesta pernikahan putrinya berlangsung meriah. Tapi dia meminta pesta diadakan tanpa musik untuk menghormati 2.000 korban tewas warga Palestina akibat serangan brutal Israel sejak 8 Juli.

" Kami melakukan ini untuk menunjukkan bahwa kita masih kuat," katanya. " Saya ingin anak saya menikah dan saya ingin Gaza bahagia untuknya. Kita harus menunjukkan kekuatan kami."

Pesta malam pacar Fayyad hampir saja dibatalkan karena ayahnya khawatir tentang situasi di Gaza. Untungnya, Rawia Baroud, seorang pekerja sosial untuk Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB yang bekerja di penampungan, mendengar tentang hal itu.

Baroud menghabiskan US$200 untuk menggelar malam pacar dari uang sakunya sendiri. " Saya harus melakukan ini. Ini kehendak Tuhan," kata Baroud ketika ditanya mengapa ia mengorbankan malam pacar miliknya untuk Fayyad.

Keduanya belum pernah bertemu hingga Selasa. " Saya tidak tahu, tapi dia adalah adik saya," katanya.

(Ism, Sumber: The National)

Beri Komentar