Pertanyaan Pilu Bocah Setiap Kali Ziarah ke Makam Bibi: 'Kapan Keluar Kubur?'

Reporter : Sugiono
Selasa, 21 September 2021 14:01
Pertanyaan Pilu Bocah Setiap Kali Ziarah ke Makam Bibi: 'Kapan Keluar Kubur?'
Dengan polosnya, bocah bernama Muhamad Amar Haziq itu bertanya apakah bibinya mendengar apa yang dia bilang.

Dream - Satu video yang memperlihatkan anak lelaki sedang duduk sendirian di depan makam menantikan jawaban dari almarhumah bibinya cukup menyentuh hati siapa pun yang melihatnya.

" Bik, Ajiq datang nih, Ajiq dah besar dah, dah mau masuk kelas 1... Ajiq ganteng lho," celoteh bocah tersebut di samping sebuah pusara.

Dengan polosnya, bocah bernama Muhamad Amar Haziq itu bertanya apakah bibinya mendengar semua ucapannya. Dia juga menanyakan kapan bibinya akan keluar dari kubur.

1 dari 5 halaman

Pertanyaan Pilu Bocah Tiap Kali Ziarah Kubur Bibinya

'Jauh di mata, tetapi dekat di hati' itulah ungkapan yang sesuai untuk menggambarkan hubungan bocah yang akrab di sapa Ajiq dengan bibinya yang telah lama pergi selamanya.

Adik almarhumah, Murni Aimi Marlina Kaharuddin, mengatakan, keponakannya itu baru berusia enam tahun dan sudah lama ingin menziarahi makam bibinya.

Menurut wanita Malaysia ini, dia dan keluarganya sering menziarahi kubur almarhumah kakaknya, Ida Julie Zulieka, selama tiga tahun berturut-turut sejak dia meninggal dunia pada 6 September 2018.

2 dari 5 halaman

Selalu Ziarah Tiap Hari Jumat

" Kami selalu ziarah kubur almarhumah setiap hari Jumat, dan sudah tiga tahun ini berjalan. Tapi sejak PKP (semacam PPKM), terakhir kali ziarah seminggu sebelum Lebaran.

" Pada Jumat pekan lalu baru dapat ziarah lagi. Ajiq sangat senang bisa ikut ziarah kubur almarhumah Bibinya. Dia rela bangun pagi-pagi buta," kata wanita berusia 35 tahun itu.

Murni menambahkan, Ajiq selalu bertanya-tanya kenapa mobil kakaknya ada, tapi orangnya tidak ada.

'Bibi tidur dalam kubur itu kok lama? Kapan Bibi akan keluar?', itulah di antara pertanyaan Ajiq saat diajak ziarah oleh Murni.

3 dari 5 halaman

Berawal dari Gagal Ginjal

Menurut wanita dari Nilai, Negeri Sembilan ini, almarhumah kakaknya awalnya sakit gagal ginjal setelah lima bulan menikah.

Keadaannya menjadi semakin buruk setelah livernya mengalami kerusakan hingga menyebabkan dia meninggal dunia.

" Pada mulanya dokter bilang kakak mengalami gagal ginjal, tapi masih berfungsi. Namun kondisinya semakin kritis saat livernya juga rusak.

" Kami sekeluarga serta suaminyalah yang bergiliran menjaga kakak sewaktu dia sakit," kenang Murni.

Almarhumah menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Serdang, jam 9.05 malam, pada 6 september 2018, di usia 42 tahun.

4 dari 5 halaman

Bertemu Bibi yang Sedang Kritis di Rumah Sakit

" Kakak adalah orang yang tegas dan sangat perhatian sama keluarga. Dia mampu menyelesaikan semua urusan keluarga.

" Ibu paling sedih dengan kepergian kakak sebab almarhumah anak sulungnya dan yang paling akrab dengannya," katanya.

Sementara Ajiq yang merupakan anak dari kakak laki-laki Murni mempunyai hubungan yang dekat dengan almarhumah karena dia merupakan cucu pertama dalam keluarga.

Dia masih ingat betapa Ajiq selalu menangis ingin bertemu bibinya saat almarhumah sedang dalam kondisi kritis di ruang Unit Perawatan Intensif (ICU).

" Ajiq merupakan cucu pertama dalam keluarga dan almarhumah kebetulan belum dikaruniai anak selama dua tahun menikah, karena itulah dia sangat dekat dengan Bibinya.

" Waktu kakak kritis, dia selalu menangis sebab ingin sekali bertemu dengan Bibinya. Ketika ibunya mau ambil Ajiq yang waktu itu dititipkan di rumah kenalan keluarga, anak itu melihat Bibinya datang dan tersenyum.

" Ajiq cerita, Bibinya berpesan agar dia menjaga uwan (nenek) dan menjadi anak yang baik. Anak kecil tidak mungkin cerita bohong, kan?" ujarnya.

5 dari 5 halaman

Ziarah Kubur Sebagai Terapi untuk Ibu

Murni yang bekerja di sebuah restoran di Nilai mengatakan mereka sekeluarga sering ziarah kubur almarhumah di Tanah Perkuburan Islam Pekan, Nilai sebagai terapi buat ibu mereka.

Kata Murni, ibunya, Samsiah Ahmad, 68 tahun, sampai saat ini masih bersedih dengan kepergian anak sulungnya.

" Kami memang selalu ziarah kubur almarhumah kakak karena itu salah satu terapi buat Ibu saya juga. Ibu mana yang tak sedih kehilangan anak, kan?

" Orang mungkin melihat kita gembira tapi dalam hati siapa yang tahu, betapa sedihnya ketika kehilangan orang tersayang. Memang kita harus belajar terima kenyataan tapi bukan melupakan," pungkas Murni.

Sumber: mStar

Beri Komentar