Mental Pria Ini Down, Tak Bisa Tidur Lihat Anak Minta Main Saat Karantina

Reporter : Sugiono
Jumat, 16 Oktober 2020 09:46
Mental Pria Ini Down, Tak Bisa Tidur Lihat Anak Minta Main Saat Karantina
Dinyatakan positif Covid-19 akibat tertular teman kantor, dia sempat khawatir anak istri juga terjangkit.

Dream - Mendengar tentang meningkatnya kasus Covid-19 setiap hari di media saja sudah cukup membuat kita merasa takut, apalagi bagi orang yang tertular wabah, seperti yang dialami Abdul Fatah Firdaus Abu Hanipah.

Meski tidak menyangka Covid-19 akhirnya menginfeksi dirinya, Abdul Fatah Firdaus Abu Hanipah tetap optimis. Dia juga menyebarkan pesan kepada masyarakat agar lebih memahami tentang pandemi ini.

Abdul Fatah Firdaus Abu Hanipah dinyatakan positif Covid-19 pada hari Minggu lalu, setelah salah seorang rekan satu kantornya tertular beberapa hari sebelumnya.

1 dari 5 halaman

Tertular dari Teman Kantor

Menurut lelaki Malaysia berusia 30 tahun itu, sebelum disahkan mengidap penyakit Covid-19, dia mengalami beberapa gejala yang jelas.

" Hari Selasa, teman satu kantor dinyatakan positif. Hari Rabu saya langsung swab test. Hasilnya baru didapat setelah dua hari swab test.

Selama menunggu hasil swab test, Abdul Fatah mengalami beberapa gejala yang jelas, seperti sakit sendi, berkeringat, mudah lelah, dan batuk. Hari Sabtu dia menjalani swab test sekali lagi.

" Hari Minggu hasilnya keluar dan saya dinyatakan positif Covid-19. Dan di hari yang sama saya dibawa ke Rumah Sakit Sungai Buloh," kata ayah dua anak yang masing-masing berusia 3 tahun dan tiga bulan tersebut.

2 dari 5 halaman

Berharap Anak dan Istri Negatif

Abdul Fatah sebenarnya sudah memperkirakan bakal tertular Covid-19 sebab sebelumnya mengalami beberapa gejala khas wabah tersebut, yaitu kehilangan daya penciuman dan rasa.

" Jadi, saya sudah terima dengan hati terbuka bahwa saya positif Covid-19 walaupun berat untuk diterima. Selama menunggu hasil swab test keluar, saya sangat gelisah dan tidak bisa tidur."

Anak Abdul Fatah bersyukur anak dan istrinya dinyatakan negatif Covid-19.© mStar.com.my

" Saya sangat memikirkan anak istri, dan berharap setinggi-tingginya supaya mereka tak terjangkit. Saya sendiri kalut karena saya yang mengalami dan tak pernah baca pengalaman orang lain. Namun sejak awal tahu ada kasus positif di kantor, saya sudah melakukan karantina mandiri," katanya.

3 dari 5 halaman

Sedih Setiap Anak Minta Main Bersama

Abdul Fatah mengaku tidur di kamar lain. Dia selalu memakai masker meski pun di dalam rumah. Tidak lupa, dia juga selalu cuci tangan pakai sanitizer dalam rumah.

" Saya juga tak peluk cium anggota keluarga. Tidak duduk maupun menonton televisi bersama mereka. Tapi mental saya down karena anak selalu ajak saya bermain dan saya terpaksa bilang tidak boleh."

Anak Abdul Fatah berusia 3 tahun memeluk kaki ayahnya sebelum dibawa ke rumah sakit.© mStar.com.my

" Tapi Alhamdulillah mereka semua negatif... saya sampai sujud syukur," kata pria yang menetap di Ampang, Selangor, ini.

4 dari 5 halaman

Lain Pasien Mungkin Lain Pula Perawatannya

Memasuki hari ke lima di RS Sunga Buloh, Abdul Fatah juga berbagi pengalaman tentang rutinitasnya ketika berada di sana.

Anak Abdul Fatah berusia 3 tahun menjalani swab test.© mStar.com.my

" Karena saya dianggap pasien tidak kritis, dokter hanya pantau dan periksa setiap pagi dan malam. Ambil darah, tekanan darah dan suhu. Lain orang mungkin lain perawatannya," katanya.

 

5 dari 5 halaman

Jangan Mudah Panik Jika Ada Keluarga yang Positif Covid-19

Tidak menyangka kisahnya menjadi viral di media sosial, Abdul Fatah di kesempatan yang sama juga berharap agar masyarakat selalu mengikuti prosedur operasi standard (SOP) untuk mengekang penularan Covid-19.

Selain itu, Abdul Fatah juga berharap agar orang-orang di sekeliling selalu memberi dukungan nyata kepada mereka yang dinyatakan positif.

" Saya ingin orang-orang untuk tidak mudah panik dan kalut kalau ada salah satu anggota keluarga atau tetangga yang dinyatakan positif.

" Sebab berdasarkan pengalaman saya, orang sekeliling akan mudah jadi panik dan bertanya sejuta pertanyaan kepada pasien dan keluarga pasien sedangkan mereka tak punya jawaban yang diinginkan.

" Sebaiknya sebisa mungkin membantu keluarga pasien dan bukan sekadar berbicara manis di WhatsApp seperti orang paling baik tapi tak berbuat apa apa. Datangkan empati dan simpati untuk pasien dan keluarganya," pungkasnya.

Sumber: mStar.com.my

Beri Komentar