Pria Wonosobo Wakafkan Tanah 2.500 Meter untuk Pemakaman Jenazah Covid-19

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 14 April 2020 11:47
Pria Wonosobo Wakafkan Tanah 2.500 Meter untuk Pemakaman Jenazah Covid-19
Pria ini tergerak hatinya lantaran muncul banyak penolakan di masyakarat.

Dream - Pandemi virus corona di Indonesia telah memakan banyak nyawa. Sayangnya, muncul sejumlah penolakan pemakaman jenazah para penderita Covid-19.

Fakta itu membuat pria asal Wonosobo, Jawa Tengah, Badar Roedin, prihatin. Pria yang menjabat sebagai Kepala Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran ini memutuskan untuk mewakafkan tanahnya seluas 2.500 meter persegi.

Tanah tersebut digunakan khusus untuk pemakaman jenazah yang meninggal akibat Covid-19. Baik itu pasien maupun tenaga medis yang pemakamannya mendapat penolakan.

" Saya mendengar kabar ada yang ditolak di Ungaran, miris dengar beritanya," kata Badar, dikutip dari Liputan6.com.

Dia mengatakan apa yang terjadi di masyarakat sebenarnya akibat kesalahpahaman. Menurut Badar, pemerintah memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat tentang wabah ini.

Masyarakat perlu edukasi mengenai penanganan jenazah Covid-19. Sehingga muncul pemahaman bahwa jenazah tidak akan menularkan virus jika sudah dimakamkan.

" Tidak ada yang salah dalam hal ini, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengedukasi warga agar tidak sampai terjadi penolakan jenazah," ujar dia.

Sumber: Liputan6.com/Rudal Afgani Dirgantara

1 dari 5 halaman

Baru 3 Bulan Bertugas, Perawat Ini Gugur Saat Tangani Pasien Covid-19

Dream - Perawat menjadi salah satu profesi yang berada di garis terdepan melawan pandemi virus corona, Covid-19. Mereka harus terjun langsung merawat para pasien yang positif terinfeksi Covid-19. Mereka adalah pahlawan.

Simaklah kisah berikut ini. Cerita tentang Areema Nasreen. Perawat ini bahkan rela mengorbankan nyawa demi menangani pasien Covid-19. Padahal, dia baru tiga bulan bekerja sebagai perawat.

Keluarga dan rekan-rekan mengingat Areema Nasreen sebagai sosok inspiratif, profesional, dan mempunyai hati yang besar. Semua merasa kehilangan.

2 dari 5 halaman

Mengenal Sosok Areema Nasreen yang Gugur Saat Bertugas

 areema nasreen© Ilustrasi foto : facebook

Menurut laman The Guardian, Areema Nasreen menghabiskan masa remaja dengan merawat neneknya yang sakit keras.

Nasreen lahir di Pakistan 36 tahun yang lalu. Ia dibesarkan di Birmingham oleh neneknya bersama ketujuh saudara kandungnya, sementara orang tua mereka berada di Pakistan.

Nasreen telah menikah dengan pria yang dicintai dan telah dikaruniai tiga anak. Sejak remaja Nasreen bercita-cita menjadi seorang perawat. Impiannya pun terwujud pada bulan Januari lalu, Nasreen telah lulus dari sebuah universitas dan mengabdi di Rumah Sakit Walsaal Manor.

Namun, takdir berkata lain, pada Jumat lalu Nasreen gugur saat bertugas, meninggalkan keluarga yang begitu membutuhkannya. Nasreen meninggal setelah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. Dia tertular oleh pasien yang dirawat.

3 dari 5 halaman

Areema Nasreen Sangat Mencintai Keluarganya

 keluarga areema nasreen© Ilustrasi foto : facebook

Kazeema, adik Nasreen yang berumur 33 tahun, menceritakan bahwa kakaknya merupakan sosok yang sangat mencintai keluarga. Dia adalah panutan keluarga.

" Dia adalah legenda," kata Kazeema dengan berlinang air mata.

" Semua orang mengingatnya dengan begitu banyak cinta dan patah hati karena begitu banyak cinta yang telah dia berikan kepada keluarga, dia seperti ibu bagi kami, dia menjaga kita semua," tambahnya.

4 dari 5 halaman

Cerita Sebelum Areema Nasreen Meninggal

 areema nasreen© Ilustrasi foto : facebook

Sebelum meninggal, Nasreen sempat dirawat intensif selama dua minggu di rumah sakit. Nasreen sempat berbincang dengan kedua saudaranya, Kazeema dan Ash, sebelum mengembuskan napas terakhir. Ash merupakan adik Nasreen yang berumur dua tahun.

Sebelum dirawat, Nasreen sempat menghubungi ibunya yang berada di Pakistan untuk tidak mengkhawatirkan keadaannya. Saat itu, Nasreen telah mengalami sesak napas karena batuknya sangat buruk.

Dia hanya berkata kepada ibunya, " Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir. Jangan sedih kalau tidak saya akan marah."

Setelah keadaannya semakin memprihatinkan keluarga Nasreen membawanya ke rumah sakit. Nasreen haru terbaring dengan memakai ventilator dan baru bisa meninggal setelah sang suami berbisik, “ Jangan khawatir tentang anak-anak.”

5 dari 5 halaman

Penilaian Keluarga dan Rekan-rekannya Tentang Areema Nasreen

 areema nasreen© Ilustrasi foto : facebook

Nasreen memulai kariernya di Rumah Sakit Walsall Manor pada tahun 2003 sebagai seorang pelayan rumah sakit, setahun setelah dia menikah. Beberapa tahun belakangan, Nasreen belajar di universitas dan menjadi perawat di rumah sakit itu.

Nasreen merupakan seorang yang popular di bangsalnya. Salah seorang rekannya berkata, " Kami mencintainya dan merindukannya. Dia adalah seorang perawat yang luar biasa, kami sangat berterima kasih kepadanya. Dia selalu mengutamakan pasiennya daripada dirinya sendiri."

" Ini tragis," kata Afzal.

" Dia begitu semangat hidup, dia selalu membawa energi positif untuk semua orang di sekitarnya, dia selalu hidup dan berjuang demi keluarga. Dia begitu berdedikasi untuk pekerjaannya dan keluarganya juga. Dia adalah teladan dan pengaruh yang luar biasa bagi wanita Asia," ungkap Afzal, suami Nasreen.

Mantan pasien Nasreen, berkata, " Ia orang yang sangat percaya diri dan ceria, Dia juga sangat profesional dan baik hati, perawat yang luar biasa,seorang pahlawan yang murah senyum."

" Dia menyukai pekerjaannya, pasiennya, dan rekan-rekannya dan dia selalu tersenyum," kata perawat Fatima Parkar di Rumah Sakit Walsall Manor.

" Saya sangat bangga padanya, dia adalah murid yang pintar. Dia bekerja, dia belajar dan masih menjaga keluarganya. Itu tidak mudah tetapi dia bisa melakukannya," tambah Fatima.

Beri Komentar