Protes Gaza, Dokter di Belgia Tolak Pasien Yahudi

Reporter : Sandy Mahaputra
Selasa, 5 Agustus 2014 13:13
Protes Gaza, Dokter di Belgia Tolak Pasien Yahudi
Dengan tegas dokter itu mengatakan tidak akan datang. Ia justru menyuruh pasiennya pergi ke Gaza.

Dream - Sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina, seorang dokter di Belgia menolak pasien Yahudi. Meski si pasien itu sudah lanjut usia berusia sekitar 90 tahun.

Diberitakan laman Russian Times, Selasa 5 Agustus 2014, berawal ketika dokter yang tidak disebutkan namanya itu menerima telepon pada pukul 11 malam, Rabu pekan lalu, lewat layanan hotline medis Flanders.

Si penelepon adalah seorang pria yang mengatakan keluarganya bernama Bertha Klein. Dia meminta pertolongan karena mengalami retak tulang rusuk lewat hotline medis Flanders.

Menurut suratkabar lokal Joods Actueel, si dokter rupanya mengetahui klein itu adalah Yahudi, dari nama dan aksennya.

Dengan tegas dokter itu mengatakan tidak akan datang. Ia justru menyuruh pasiennya pergi ke Gaza. " Kirim dia ke Gaza selama beberapa jam, maka rasa sakitnya akan hilang. Saya tidak akan datang," kata dokter itu.

Keluarga itu lantas menelepon tim medis lain. Mereka juga kembali menelepon dokter tadi untuk memperjelas omongannya dan merekam percakapan tersebut.

Tak terima dengan respon si dokter, keluarga itu melapor ke polisi atas tindakan diskriminasi yang mereka alami. " Ini mengingatkan saya apa yang terjadi di Eropa, 70 tahun lalu. Saya tidak mengira peristiwa itu akan terjadi lagi," kata Taffel.

Saat dikonfirmasi Joods Actueel, dokter itu tidak menyangkal telah menolak seorang pasien Yahudi. Dia mengatakan, itu dilakukannya atas dasar emosional.

Menurut laporan koran ini, sejak serangan Israel ke Gaza dilakukan awal Juli lalu, insiden anti-semit banyak terjadi di Belgia. Contohnya di Antwerp, sebuah toko menolak seorang pelanggan karena dia Yahudi.

Hal ini juga terjadi di Jerman, Prancis dan Italia dalam beberapa pekan terakhir. Menurut catatan polisi, kasus anti-Yahudi meningkat 50 persen dalam sebulan terakhir di Inggris. (Ism)

Beri Komentar