Seberapa Besar Upah Para Khulafaur Rasyidin?

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 1 Agustus 2019 10:01
Seberapa Besar Upah Para Khulafaur Rasyidin?
Meski terkenal sangat zuhud dan jauh dari urusan duniawi, mereka tetap mendapat upah atas jabatannya.

Dream - Dalam sejarah Islam terkait kepemimpinan, kata Khulafaur Rasyidin begitu akrab di telinga. Kata ini merujuk pada gelar pemimpin dunia Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW.

Tidak semua pemimpin Islam menyandang gelar sebagai Khulafaur Rasyidin. Gelar ini hanya disematkan kepada empat sahabat Rasulullah yaitu Abu Bakar As Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Keempat sosok ini memiliki karakter yang tegas dalam memimpin dan bijaksana mengambil keputusan. Jiwa zuhud mereka sungguh luar biasa, hingga tidak terlalu memikirkan urusan dunia dan memilih mengabdikan diri sepenuhnya pada Islam.

Tetapi, bukan berarti mereka tidak menerima upah. Sebagai pemimpin, keempat sahabat ini juga mendapatkan upah untuk memenuhi kebutuhan mereka, yang diambilkan dari Baitul Mal.

Lantas, berapa upah yang diterima masing-masing sahabat ini ketika mereka melaksanakan tugas sebagai khalifah atau pemimpin?

Dikutip dari Islami.co, terdapat banyak kitab yang menjelaskan mengenai besaran upah masing-masing khalifah. Seperti kitab Abu Bakar Al Shiddiq karya Ali Al Thanthawi, yang menjelaskan besaran upah bagi Khalifah Abu Bakar.

1 dari 6 halaman

Upah Abu Bakar

Ketika Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Dewan Muslimin yang anggotanya seperti Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bersepakat menetapkan upah sebesar 250 dinar tiap tahun, kira-kira Rp600 juta yang diambilkan dari Baitul Mal.

Ada riwayat lain yang menyebut upah Abu Bakar sebagai khalifah adalah 6.000 dirham atau kira-kira Rp14,4 miliar. Selain itu, juga seekor kambing serta lemak dan susu setiap hari.

Kambing itu digunakan sebagai jamuan untuk tamu negara. Sementara lemak dan susu dikonsumsi oleh Abu Bakar dan keluarganya.

Saat awal menjabat, Abu Bakar sempat mengalami kesulitan keuangan. Upah yang diterimanya ternyata tidak mencukupi untuk menghidupi keluarganya yang berjumlah banyak.

Untuk menyiasatinya, Abu Bakar kembali berdagang di pasar-pasar Madinah. Dia juga mengatakan kondisinya di hadapan masyarakat kala itu.

Mengetahui hal itu, Umar segera mencari Abu Bakar di pasar. Begitu bertemu, diraihnya tangan Abu Bakar dan mengajaknya bicara empat mata.

" Aku tidak memerlukan pemerintahan kalian. Kalian memberiku gaji yang tidak cukup untuk membiayai hidup keluargaku," kata Abu Bakar.

" Kami akan naikkan upah Anda," kata Umar.

Secara terbuka, Abu Bakar meminta upah tertentu. " Aku minta 300 dinar dan seekor kambing penuh," kata Abu Bakar.

" Kalau saya keberatan," kata Umar.

Ali tiba-tiba datang dan menyela pembicaraan. " Berikanlah upah itu untuk Abu Bakar," kata Ali.

" Apakah engkau setuju dengan permintaan Abu Bakar?" tanya Umar. Ali lalu menjawab, " Ya, saya setuju."

" Kalian adalah orang-orang Muhajirin. Saya tidak tahu apakah yang lain juga setuju," kata Abu Bakar.

Setelah itu, dia bergegas meninggalkan pasar dan berpidato di depan banyak orang.

" Wahai sekalian manusia, gajiku sebagai kepala negara adalah 250 dinar dan separoh kambing. Umar dan Ali menggenapkannya menjadi 300 dinar dan seekor kambing utuh. Apa kalian ridha dengan gaji yang akan aku terima itu?" kata Abu Bakar.

Serentak, orang-orang menjawab, " Ya, kami ridha."

Tiba-tiba, seorang Badui mengaku keberatan, " Demi Allah, kami tidak rela. Lalu, apa hak penduduk Badui?"

" Jika orang-orang Muhajirin menyetujui sesuatu, maka kalian harus mengikutinya," kata Abu Bakar.

Sejak saat itu, upah yang diterima Abu Bakar menjadi 300 dinar setahun, kira-kira Rp720 juta dan seekor kambing utuh setiap hari. Namun demikian, Abu Bakar hanya mengambil sebagian dari upahnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

 

2 dari 6 halaman

Upah Umar bin Khattab

Ketika khalifah dijabat Umar bin Khattab, dia hanya sedikit sekali mengambil uang dari Baitul Mal. Tetapi, Dewan Muslimin saat itu memandang Umar tetap harus mendapatkan upah dari jabatannya.

Akhirnya, masalah ini dibicarakan dalam dewan khusus yang sebagian anggotanya adalah Usman bin Affan, Sa'id bin Zaid, dan Ali bin Abi Thalib.

Usman dan Sa'id mengusulkan Umar cukup diupah dengan makanan dan minuman setiap harinya. Sedangkan Ali menyatakan Umar harus menerima upah berupa uang dari Baitul Mal dengan jumlah yang mencukupi kebutuhannya sebagai Khalifah.

Akhirnya, pandangan Ali yang diterima. Mendapat keputusan itu, Umar sangat bergembira.

" Aku menempatkan diriku sebagaimana aku punya tanggungjawab terhadap anak yatim, jika kebutuhanku telah tercukupi, maka aku tidak akan mengambil fasilitas dari Baitul Mal, namun jika aku kekurangan, maka aku akan mengambil dan memanfaatkannya dengan cara yang baik," kata Umar.

Dalam riwayat lain, Umar disebutkan mendapatkan upah 5.000 dirham, kira-kira Rp1,5 miliar per tahun. Jika per bulan, upah yang diterima Umar sekitar Rp100 juta.

 

3 dari 6 halaman

Upah Usman bin Affan

Sepeninggal Umar, jabatan Khalifah diamanahkan kepada Usman bin Affan. Tetapi, Usman tidak mengambil gajinya dari Baitul Mal lantaran hartanya dari hasil perdagangan sudah mampu mencukupi kebutuhannya dan keluarganya.

Sejarawan Islam Al Thabari mengutip pidato Usman dalam bukunya.

" Ketika kendali pemerintahan dipercayakan kepadaku, aku pemilik unta dan kambing paling besar di Arab. Sekarang aku tidak mempunyai kambing atau unta lagi, kecuali dua ekor untuk menunaikan ibadah haji. Demi Allah, tidak ada kota yang aku kenakan pajak di luar kemampuan penduduknya sehingga aku dapat disalahkan. Dan apa pun yang telah aku ambil dari rakyat aku gunakan untuk kesejahteraan mereka sendiri. Hanya seperlima bagian yang aku ambil untuk keperluan pribadi (yaitu yang dari Baitul Mal). Di luar itu tidak ada. Uang itu dibelanjakan untuk orang yang pantas menerimanya, bukan untukku, tapi untuk kaum Muslim sendiri. Tidak satu sen pun dana masyarakat disalahgunakan. Aku tidak mengambil apa pun dari dana tersebut. Bahkan apa yang aku makan, dari nafkahku sendiri," kata Usman.

 

4 dari 6 halaman

Upah Ali

Sedangkan Khalifah terakhir adalah Ali. Selama menjalankan kepemimpinan, Ali tidak mau diupah.

Dia meminta namanya dihapus dari daftar penerima dana Baitul Mal. Bahkan Ali justru menyumbang 5.000 dirham ke Baitul Mal setiap tahunnya. Ali juga sangat ketat menjalankan keuangan negara.

Suatu hari, kakak Ali, Aqil, meminta bantuan uang kepadanya. Ali menolaknya karena sama saja dengan mencuri uang rakyat.

Aqil lalu menemui Muawiyah untuk mengajukan permohonan yang sama. Muawiyah memberinya uang dalam jumlah yang banyak.

Sumber: Islami.co

5 dari 6 halaman

Doa Rasulullah Untuk Orang Kesulitan Bayar Utang

Dream - Tidak semua orang memiliki rezeki yang cukup. Kadang, sebagian dari mereka terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhannya.

Utang memang halal dalam Islam. Tetapi, ada peringatan utang harus dilunasi kapanpun, bahkan sangat dianjurkan secepatnya jika sudah dalam keadaan mampu.

Sayangnya, rezeki datang tanpa bisa dipastikan. Ada orang yang sudah punya pendapatan namun tidak dapat memenuhi kebutuhannya apalagi melunasi utangnya.

Orang yang kesulitan membayar utang merasakan beban yang bertumpuk. Bahkan ada yang sampai malu lantaran tidak sanggup membayar utangnya.

Meski sudah berusaha, rezeki belum juga didapat. Sementara utang menuntut untuk segera dibayarkan.

Ketika menghadapi kesulitan, Rasulullah mengajarkan sebuah doa yang bisa dibaca agar bisa membayar utang.

 

6 dari 6 halaman

Doa Saat Kesulitan Bayar Utang

 Doa Kesulitan Bayar Utang© dream.co.id

Allahumaqdif fi qalbi rajaka, waqta' rajai 'an man siwaka hatta la arju ahadan ghairaka. Allahumma wa ma dla'afat 'anhu quwwati, wa qashara 'anhu 'amali, wa lam tantahi ilaihi raghbati, wa lam tablughhu masalati, wa lam yajri 'ala lisani mimma a'thoita ahadan minal awwalina wal akhirina minal yaqini, fakhushshini bihi ya rabbal 'alamin.

Artinya,

" Ya Allah, tanamkan di dalam hatiku harapan-Mu, putuskan harapanku kepada selain-Mu sehingga aku tidak pernah lagi berharap kepada selain-Mu. Ya Allah, tanamkan di dalam hatiku sesuatu yang membuat kekuatanku menjadi lemah, sesuatu yang membuat usahaku sia-sia, keinginan yang tidak tersampaikan padanya, persoalan yang tidak mampu aku menanggungnya, dan tidak pernah terlontar dari lidahku keyakinan yang Engkau berikan kepada orang-orang terdahulu dan belakangan. Berikanlah itu kepadaku, wahai Tuhan semesta alam.”

Beri Komentar