Kisah Haru 6 Anak Jadi Yatim Piatu Usai Orang Tua Meninggal di Hari yang Sama

Reporter : Sugiono
Rabu, 26 Februari 2020 15:01
Kisah Haru 6 Anak Jadi Yatim Piatu Usai Orang Tua Meninggal di Hari yang Sama
Sang ayah meninggal sore hari setelah ibunya dikuburkan pada pagi harinya.

Dream - Sebuah postingan Twitter oleh akun Cake di @icasulistyono mengundang haru dan sedih dari netizen.

Akun tersebut menceritakan tentang enam orang anak yang masih kecil harus menjadi yatim piatu dalam sehari. Mereka telah kehilangan ibu dan bapaknya di hari yang sama.

Seorang warga Kelurahan Sepinggan Raya, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, yang merupakan ibu dari keenam anak malang itu meninggal dunia pada 22 Februari 2020.

Sang ibu meninggal dunia setelah 1 bulan melahirkan anaknya yang keenam. Dalam postingan itu tidak disebutkan penyebab dari meninggalanya ibu itu.

Yang menyedihkan, setelah ibunya dikuburkan pada pagi harinya, bapak mereka menyusul. Bapak mereka meninggal dunia pada sore harinya.

1 dari 5 halaman

Yang Paling Kecil Baru Berusia 1 Bulan

Sekarang keenam anak malang itu diasuh oleh kakek dan nenek mereka yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggal pasangan yang meninggal dalam sehari itu.

Pasangan tersebut meninggalkan enam orang anak yang masih kecil-kecil. Si bungsu diketahui masih berusia 1 bulan 6 hari sedangkan yang paling besar masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas tiga. Ada salah satu anak pasangan tersebut yang bahkan belum memiliki akte kelahiran.

Dalam postingan disebutkan bahwa sang ibu telah menyampaikan pesan agar nenek mereka yang merawat anak-anak malang itu.

Meski sudah jadi yatim piatu, sang ibu tidak ingin anak-anaknya diasuh orang lain selain kakek dan nenek mereka.

Sumber: Twitter @icasulistyono

2 dari 5 halaman

Kebaikan Bripka Polisi Asuh Belasan Anak Yatim Piatu

Dream - Di tengah kesibukannya berdinas di bagian lalu lintas Polres Ciamis, Polda Jawa Barat, Aiptu Agus Hendra masih bisa menyempatkan beraksi mulia. Hendra menggagas tempat tinggal untuk anak-anak yatim piatu.

Awalnya, tiga orang anak yatim piatu diasuh Hendra. Kini jumlahnya telah mencapai 17 orang.

Aksi mulia Hendra itu akhirnya didengar pimpinan Polres Ciamis. Kapolres Ciamis, AKBP Bismo Teguh Prakoso memberinya apresiasi.

" Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Aiptu Agus Hendra. Di sela-sela kesibukannya sebagai anggota lantas tapi masih bisa memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat," ucap Bismo, dikutip dari Liputan6.com, Kamis, 21 Februari 2019.

Sebagai bentuk apresiasi, Bismo mendukung kantor sekretariat anak yatim piatu Al Barokah di Dusun Cikapas, Desa Sukamulya, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis.

Sekretariat Al Barokah menjadi satu-satunya tempat pembinaan anak yatim piatu di kecamatan itu.

" Kami berharap hal ini menjadi contoh bagi semua anggota, sebagai bentuk kebermanfaatan buat masyarakat yang positif, buat menyejukkan masyarakat," ujar dia.

Hendra mengatakan, nantinya sekretariat Al Barokah tidak hanya untuk anak yatim piatu dari Desa Sukamulya semata.

" Dari luar daerah pun akan kami terima dengan tangan terbuka," kata Hendra.

3 dari 5 halaman

Kejujuran Polisi Pemulung Bripka Seladi

Dream – Air mata pria itu tumpah. Kepalanya tertunduk lesu. Helai demi helai kertas tisu menyeka matanya. Dan tisu itu sudah kumal. Terlalu basah untuk mengeringkan air mata yang bercucuran. Hari itu, hatinya dirudung kesedihan hebat.

Pria itu bukan orang biasa. Dia berseragam polisi. Empat baris siku tersemat di pundaknya. Pertanda seorang polisi berpangkat Brigadir Polisi Kepala (Bripka). Deretan tanda jasa terpampang jelas di dada kanan di atas kantong baju seragamnya. Dan kini si penegak hukum itu sedang menangis terisak.

“ Pernah dulu ada yang mengolok, bahwa kalau bapak itu paling yang suka minta-minta uang di jalan,” isak Neni Winarti, gadis berhijab berusia 17 tahun itu mengenang cibiran pahit temannya soal bapak.

“ Mungkin anak-anak itu tak tahu mereka cuma melihatnya bapak itu di depannya, tapi tak tahu di belakangnya seperti apa.”

Bagai petir di siang bolong, pria berseragam cokelat-cokelat itu kembali menunduk. Terisak sejadinya. Menahan air mata agar tak menetes. Tangan kiri pria yang sudah beruban itu kembali menyeka mata. Penuturan sang putri mengiris hatinya. Namun dia coba menguatkan diri.

Seketika, studio sebuah stasiun televisi itu hening beberapa detik. Tak terdengar sedikitpun suara. Hanya isak tangis seorang bapak dan putrinya.

Fragmen kehidupan itu begitu jelas terbayang. Di studio sebuah stasiun televisi. Ditonton jutaan pasang mata. Sang polisi tak hirau. Dia tetap terisak.

Dialah Bripka Seladi. Namanya sudah viral di dunia maya. Foto-fotonya tersebar luas lewat beragam aplikasi media . Publik kaget. Cerita hidupnya membuat terhenyak banyak orang.

****

 

4 dari 5 halaman

Berganti Seragam, Berganti Profesi

Seladi bukan seorang jenderal. Sebagai Bripka, Seladi cuma polisi golongan Bintara, 12 tingkat dibelakang seorang jenderal bintang empat.

Namun nama Seladi begitu harum. Menghidupkan harapan masyarakat. Masih ada polisi jujur seperti mantan Kapolri, Jenderal Hoegeng hidup di tanah air ini. Meski bukan jenderal, pria 58 tahun ini bukan polisi biasa.

Di pagi buta jam 5 subuh, Seladi sudah meninggalkan rumahnya. Bergegas menuju Satuan Lalulintas Polresta Malang, Jawa Timur. Hingga jelang sore, Seladi mengabdi sebagai abdi Bhayangkara. Mengurus dokumen Surat Izin Mengemudi (SIM). Terkadang, mengatur jalanan di kota Malang.

Saat sore menjelang, sekitar pukul 15.00, Bripka Seladi menanggalkan pakaiannya. Berganti pakaian sebuah kaos dan celana selutut. Si polisi itu siap dengan profesi baru. Menjadi pemulung barang-barang bekas. Ya, petugas polisi itu menyambi sebagai pemulang sampah.

Dalam sekejap mata, pria itu berubah diri. Mengumpulkan gelas plastik dan barang bekas lain di markasnya. Dan dengan langkah gesit, pria paruh baya itu mulai menyusuri tepian jalan raya. Tangan kanan dan kirinya sibuk menenteng kantong plastik besar berisi sampah. Wajahnya menyiratkan kelelahan luar biasa.

Setiap mendapati tempat sampah, ia berhenti. Dipungutnya sampah-sampah plastik dari sana. Dengan telaten satu persatu dimasukkan ke dalam plastik hitam besar yang dibawanya. Selama kantong belum penuh, pantang baginya pulang ke rumah.

Beginilah aktivitas yang dijalani Seladi sehari-hari. Memulung adalah pekerjaannya.

" Saya melakukan ini tanpa rasa gengsi, tanpa malu. Kan itu rejeki yang sudah dibuang. Saya tidak merugikan masyarakat, karena ini barang yang sudah dibuang, saya kumpulkan ya untuk tambahan. Dan lingkungan kan menjadi bersih," kata Seladi.

Kawasan Stadion Kota Baru menjadi salah satu lokasi favoritnya memulung sampah. " Di sana banyak sampah ndak karu-karuan," kata Seladi. Sampah-sampah ia pilah sesuai dengan perkiraan harga jualnya. " Jadi misalnya kardus ada sendiri, botol sendiri, jadi itu saya kumpulkan jadi satu. Nanti kalau sudah satu bulan baru saya keluarkan," tandasnya.

Selain memulung sampah, rupanya Seladi juga menjadi pengepul. Menerima sampah dari pemulung-pemulung lain yang menjual padanya.

Toh pekerjaan ini tak membuatnya malu. Justru kantongnya makin berisi. Per hari, Seladi bisa mendapat uang Rp25 ribu hingga Rp50 ribu. Kalau sedang banyak, bisa mencapai Rp 75 ribu. Meski tak seberapa, Seladi ikhlas dan bangga. Dia berhasil mencari penghasilan tambahan. Bukan dari korupsi atau suap.

5 dari 5 halaman

Ada yang Bilang Munafik

Menjadi pemulung tak pernah terlintas di benak Seladi. Semua terjadi pada 2004. Himpitan ekonomi menuntutnya mencari jalan keluar. Uang saku yang diterima tak cukup menutup biaya istri dan anak-anaknya.

Niat menjadi pemulung datang tanpa sadar. Di suatu hari, selepas piket malam, Seladi melihat tumpukan sampah di kantornya. Di matanya, sampah-sampah berharga itu berserakan begitu saja. Entah mengapa, tangannya mulai memungut satu per satu sampah itu. Ditumpuknya dan disimpan dalam rumah.

Saban malam, memulung sampah jadi rutinitasnya. Namun sampah yang terkumpul tak cukup banyak. Seladi mulai menjelajah sudut kota Malang lainnya. Mulai sore hari hingga petang dia menjadi pemulung. Sampah-sampah dipilah. Botol-botol dan kardus dipisahkan di tempatnya sendiri.

Sejak saat itu, Seladi memantapkan diri. Menjadi pemulung selepas berdinas sebagai polisi. 
Di tengah citra negatif polisi, Bripka Seladi melawan arus. Ia memilih hidup sederhana dan mencari tambahan dengan melakoni.

Tak ragu, tak takut jorok dan apalagi peduli cibiran orang. Memulung menjadi pekerjaan sambilan yang dipilihnya. Tak pernah ia sesali keputusannya mengambil jalan hidup sebagai pemulung. Justru ia bersyukur, tak tergoda memilih yang haram.

" Yang Maha Kuasa memberi kita 2 pilihan, baik dan buruk. Ngambil yang buruk silahkan, yang baik juga silahkan. Itu kembali ke pribadi masing-masing. Kalau saya Insya Allah ngambil yang baik," katanya mantap.

Prinsip ini terus dipegangnya sebagai pedoman hidup. Alhasil sepanjang karirnya sebagai polisi pun, Bripka Seladi tak pernah coba-coba 'melenceng'. Meskipun godaan demi godaan kerap menghampiri. Mulai dari korupsi, uang pelicin hingga tawaran " uang rokok" dari oknum-oknum tak bertanggung jawab.

" Selama 16 tahun saya bertugas di Uji Praktik SIM, belum pernah saya terima sepeser pun. Belum pernah saya tergoyahkan sama orang-orang yang ingin melicinkan supaya bisa lolos," ujar Seladi.

Tawaran rezeki tak halal yang datang padanya, ditolak mentah-mentah. Pendiriannya teguh. " Alhamdulillah belum pernah saya terima. Allah masih melindungi saya. Kalaupun mereka maksa untuk nerima, saya bilang terima kasih dan saya bilang ke mereka, berikan saja ke yang lebih membutuhkan," katanya tegas.

Namun berjalan di jalan " lurus" memang tak selalu mulus. Ada banyak ujian. Karena keteguhannya melawan arus itu, tak jarang Seladi justru mendapat cibiran. Ada pihak-pihak yang mencapnya munafik.

" Ada yang bilang munafik, yang bisa merasakan masyarakat di kota Malang ini bisa bicara. Karena waktu saya praktik nggak ada orang yang mengeluarkan sepeser pun selain yang resmi Rp120 ribu untuk SIM A SIM B dan lain-lain," tandas Bripka Seladi.

Di usia yang sudah menginjak kepala 5, komitmennya untuk mencari rezeki halal, tak pernah luntur. Hingga kini, memulung pun masih dilakoni Seladi meski mungkin intensitasnya tak sesering dulu. Harapannya kini cuma satu. Ia ingin kisah hidupnya sebagai polisi sekaligus pemulung bisa menularkan energi positif dan semangat kerja keras pada orang banyak.

" Saya ingin ngajak warga masyarakat, saya memberi contoh kepada mereka. Ya seperti ini contohlah, 'saya lho nggak malu'. Alhamdulillah respon dari masyarakat baik," kata Bripka Seladi menutup ceritanya.

Seladi hari itu boleh saja menangis terisak di depan jutaan orang dengan seragam polisi lengkap kebanggannya. Tapi tangisannya membuat bangga keluarga dan membuka harapan Indonesia. Salut buat Bripka Seladi

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak