Beli Cangkul Tak Pernah Digunakan, Sekalinya Dipakai untuk Makamkan Ibu & Kakak

Reporter : Sugiono
Jumat, 3 Juli 2020 07:00
Beli Cangkul Tak Pernah Digunakan, Sekalinya Dipakai untuk Makamkan Ibu & Kakak
Kisah tragis, bukan sinetron. Setelah memakamkan sang ibu, sejam kemudian sang anak menyusul ke liang lahat.

Dream - " Baru satu jam selesai makamkan Ibu, abang sulung kami, Shuhaimi Saidin, turut dijemput pergi untuk selamanya."

Demikian ungkapan sedih Mohd Shari Saidin yang begitu menyayat hati ketika membagikan kisah kematian ibu dan kakaknya dalam sehari pada Sabtu lalu.

Kisahnya bagaikan sebuah sinetron di televisi, namun itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh pria dari Kangar, Perlis, Malaysia, ini.

Mohd Shari mengatakan meski dia sendiri sudah ridha dengan kepergian dua insan yang disayanginya itu. Namun hingga kini dia masih belum 'paham' dengan apa yang terjadi karena semuanya berlangsung sangat singkat.

Mengenang kembali kisah menyedihkan itu, Mohd Shari mengatakan semuanya dimulai pada 23 Juni lalu. Ketika ibunya, Ishah Kasa, 65 tahun, mengeluh sakit dada.

1 dari 6 halaman

Ibu Masuk Rumah Sakit Karena Sakit Dada

Pagi itu, ibunya yang masih dalam kondisi sehat masih bisa pergi belanja dan mengobrol dengan tetangga. Tapi petangnya, ibunya mengeluh dadanya sakit.

Saat periksa di Klinik Kangar, dokter membaca detak jantung ibunya tidak bagus. Ibunya terpaksa opname di Rumah Sakit Tuanku Fauziah (HTF) Kangar.

" Almarhumah memang memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol tinggi," ujar Mohd Shari.

Beberapa hari dirawat, ibunya bertambah pulih dan semakin ceria. Almarhumah malah sangat menikmati makanan yang dibawa keluarga.

2 dari 6 halaman

Kakak Datang dan Langsung ke Rumah Sakit

" Hari kedua Ibu di rumah sakit, abang sulung kami, Shuhaimi Saidin tiba dari Manjung. Dia langsung menjenguk Ibu rumah sakit.

" Abang membawa istri dan 4 orang anaknya, sementara anaknya yang sulung di Kuala Kangsar... abang tak sempat untuk menjemputnya," ujar Mohd Shari.

Menurut pria 33 tahun ini, meskipun Almarhumah menunjukkan tanda-tanda kembali pulih setelah tiga hari dirawat, namun masih belum dibenarkan pulang.

" Ibu masih memerlukan pemantauan dari dokter karena bacaan detak jantungnya masih tidak normal," kata Mohd Shari.

3 dari 6 halaman

Ibu Meninggal Dalam Kondisi Tidur

Sayangnya, pada hari keempat, yaitu hari Jumat, ibunya menghembuskan napas terakhir saat tidur kurang lebih jam 5.30 petang waktu setempat.

" Padahal kami, anak-anaknya, baru meninggalkannya sebentar saja. Tetangga di sebelah dan depan tempat tidur Ibu juga tidak tahu kapan Ibu meninggal.

" Karena terkejut dengan kepergian Ibu yang tiba-tiba, saya jadi lemah dan terpaksa diberi bantuan oksigen. Ketika itulah, abang sulung saya menenangkan saya, tepuk-tepuk punggung saya dan minta saya kuat.

" Tak sangka, rupa-rupanya itulah petanda dia akan pergi untuk menyusul Almarhumah," kata pria yang jadi guru komputer di sebuah sekolah menengah di Kaki Bukit, Perlis, ini.

4 dari 6 halaman

Kakak Tiba-tiba Mengeluh Sakit Dada

Pada hari pemakaman ibunya pada Sabtu pagi lalu, kakak sulung Mohd Shari merupakan orang yang paling sibuk dalam memastikan semua urusan berjalan dengan lancar. Dia malah jadi orang pertama yang turun ke liang lahad.

" Urusan pemakaman ibu selesai jam 11.15 pagi. Ketika kami pulang melepaskan lelah, tiba-tiba abang yang sedang duduk depan kipas angin mengadu dadanya sakit dan matanya berkunang-kunang, seolah-olah mau pingsan. Waktu itu keadaan kacau.

" Kami coba beri bantuan awal sambil menunggu ambulans datang. Waktu itu badan abang sudah dingin. Sepuluh menit dalam perjalanan ke rumah sakti dengan ambulans, abang sudah tak sadarkan diri. Bantuan oksigen terus diberikan dalam ambulans. Namun Allah lebih menyayanginya," kata Mohd Shari.

5 dari 6 halaman

Kakak Menyusul dalam Masa 1 Jam

Kakak Mohd Shari disahkan meninggal dunia jam 1 siang akibat sesak napas. Saat mendengar kabar tersebut, Mohd Shari tak bisa berkata apa-apa lagi.

" Hanya istri yang bisa menenangkan saya. Belum sempat tukar celana kotor dari tanah kuburan, kini harus kembali memakamkan abang," ujar Mohd Shari.

Menurut Mohd Shari, jenazah kakaknya berhasil dikebumikan pada pukul 6.30 petang. Dia benar-benar sedih karena kehilangan dua orang yang disayangi dalam sehari dan dalam waktu yang singkat.

6 dari 6 halaman

Ternyata Ini Gunanya Beli Cangkul Baru

Mohd Shari mengatakan sebelum kakaknya meninggal, tidak ada tanda-tanda aneh yang diperlihatkan.

" Hanya saja, saya sempat beli cangkul saat pembatasan sosial kemarin. Waktu itu saya ingin mencoba bercocok tanam tapi saya urungkan sehingga cangkul itu hanya saya simpan.

" Tak sangka, cangkul itu akhirnya saya gunakan untuk mencangkul tanah kubur untuk memakamkan dua orang yang sangat saya sayangi. Meski berat ujian ini, tapi saya dan keluarga ridha karena keduanya pergi untuk selamanya dengan mudah," pungkas Mohd Shari.

Sumber: mStar.com.my

Beri Komentar