Sering Diabaikan, Ini Cara-cara Bersedekah yang Keliru

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 11 Juli 2019 16:00
Sering Diabaikan, Ini Cara-cara Bersedekah yang Keliru
Bersedekah dengan cara keliru tidak akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.

Dream - Sudah menjadi pemahaman umum bagi umat Islam, sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Berapapun jumlah sedekah akan menjadi berkah baik bagi pemberi maupun penerimanya.

Sedekah menjadi sarana seseorang untuk meraih rida Allah. Selain itu, terdapat jaminan dari Allah, harta yang disedekahkan diganti dengan jumlah yang lebih baik.

Selain itu, sedekah juga dapat menjadi jalan untuk menolak bala dan kesengsaraan. Allah menyelamatkan seseorang dari bahaya karena keikhlasannya dalam bersedekah.

Namun begitu, terkadang kita menjumpai fakta sedekah yang dilakukan secara keliru. Parahnya, praktik tersebut dianggap biasa.

1 dari 6 halaman

Sedekah Diiringi Ucapan Menyakitkan

Dikutip dari Bincang Syariah, beberapa cara keliru yang lazim dilakukan seperti sedekah diiringi kata-kata menyakitkan. Seperti menyinggung kebaikan diri sendiri di depan orang yang diberi sedekah, atau menyindir si penerima sedekah.

Praktik sedekah ini tidak mendapatkan pahala. Sebabnya, sedekah semacam ini tidak dilakukan secara ikhlas namun niat pamer.

Allah SWT mengingatkan dalam firmannya di Surat Al Baqarah ayat 262.

Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkankannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan tidak dengan menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.

2 dari 6 halaman

Sedang Barang Tak Halal Atau Barang Tak Layak Pakai

Cara ke dua, menyedekahkan barang yang tidak halal baik sifatnya maupun cara mendapatkannya. Barang hasil curian atau menipu tidak layak disedekahkan.

Cara yang ke tiga, kualitas barang yang disedekahkan tidak diperhatikan. Seringkali terjadi niat sedekah diwujudkan dengan barang yang kualitasnya tidak layak.

Contohnya ketika terjadi bencana. Banyak orang menyedekahkan pakaian bekas yang sebenarnya sudah tidak layak pakai. Alhasil, pakaian itu menumpuk seperti sampah.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 267, Allah SWT berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi ini untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan, ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Meski sepele, cara-cara di atas sebaiknya dihindari ketika bersedekah. Ini agar sedekah kita diterima dan dibalas oleh Allah SWT.

3 dari 6 halaman

Bayar Utang Atau Sedekah?

Dream - Anjuran untuk menjalankan sedekah bagi umat Islam sudah banyak tersiar. Baik itu dari rekan, tetangga, ataupun para ustaz di sekeliling kita.

Pun dengan dalilnya, sangat banyak. Ada yang tertuang dalam Alquran, ada dalam hadis, apalagi pendapat ulama.

Namun demikian, sedekah merupakan satu dari sekian banyak urusan dalam hidup manusia. Lebih tepatnya berkaitan dengan rezeki dan kemampuan keuangan seseorang, meskipun bersedekah tidak melulu soal uang.

Tidak bisa dipungkiri, setiap orang berhadapan dengan beragam masalah dalam kehidupan mereka. Salah satunya berkaitan dengan persoalan keuangan.

Karena kebutuhan yang menuntut dipenuhi sementara seseorang tak punya uang, utang menjadi jalan alternatif menyelesaikan masalah. Mereka pun punya beban untuk mengembalikan pinjaman itu.

Utang dan sedekah, meski berbeda dalam banyak hal, keduanya adalah pengeluaran. Lantas, mana yang lebih baik didahulukan antara bayar utang atau sedekah? 

4 dari 6 halaman

Sedekahlah Jika Lapang

Dikutip dari NU Online, dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah Muhammad SAW bersabda demikian.

" Sedekah yang paling baik adalah melakukan sedekah dalam kondisi tercukupi, mulailah dari orang yang wajib kamu nafkahi."

Imam Bukhari memberikan penjelasan khusus mengenai lebih baik mendahulukan yang mana antara utang dengan sedekah.

" Bab menjelaskan tidak dianjurkannya sedekah kecuali dalam kondisi tercukupi. Barang siapa yang bersedekah, sedangkan dia dalam keadaan membutuhkan atau keluarganya membutuhkan atau ia memiliki tanggungan utang, maka utang lebih berhak untuk dibayar daripada ia bersedekah, memerdekakan budak, dan hibah. Dan sedekah ini tertolak baginya."

Penjelasan ini menerangkan begitu pentingnya melunasi utang. Bahkan sedekah bisa tertolak apabila seseorang masih memiliki beban utang yang belum dilunasi.

 

5 dari 6 halaman

Sedekah Bisa Haram Jika...

Para ulama fikih Mazhab Syafi'i menyatakan bersedekah ketika punya utang justru menyalahi kesunahan. Bahkan sedekah bisa jadi haram jika utang hanya bisa dilunasi dengan harta yang akan disedekahkan.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Syeikh Khatib Asy Syirbini dalam kitabnya Al Mughni Al Muhtaj.

" Seseorang yang memiliki utang atau ia tidak punya utang namun berkewajiban menafkahi orang lain, maka disunnahkan baginya untuk tidak bersedekah sampai ia membayar tanggungan yang wajib baginya. Sebab bersedekah tanpa (disertai) membayar tanggungannya adalah menyalahi kesunnahan."

Berbeda jika utang bisa lunas dari harta lain, maka dibolehkan bersedekah. Selama utangnya belum sampai pada tanggal jatuh tempo pelunasan.

 

6 dari 6 halaman

Jika Harta Tak Mungkin Bisa Lunasi Utang

Namun demikian, jika harta yang dimiliki tidak memungkinkan untuk melunasi utang atau misalnya harta yang disedekahkan bernilai ringan atau remeh, maka sedekah tetap dianjurkan.

Syeikh Syamsuddin Ar Ramli dalam Nihayah Al Muhtaj memberikan penjelasan yang begitu terang mengenai hal ini.

" Keharaman ini tidaklah bersifat mutlak. Sebab tidak akan mungkin ada ulama yang berpandangan bahwa orang yang memiliki tanggungan, ketika ia bersedekah roti atau harta yang serupa, sekiranya ketika harta tersebut tetap maka ia tidak akan menyerahkan harta tersebut untuk pembayaran utangnya (karena terlalu sedikit), (tidak ada ulama yang berpandangan) bahwa menyedekahkan roti tersebut tidak disunahkan. Karena yang dimaksud (tidak sunahnya bersedekah ketika mempunyai utang) adalah menyegerakan untuk terbebas dari tanggungan lebih baik daripada melakukan kesunahan dalam skala umum."

(ism, Sumber: NU Online.)

Beri Komentar
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara