Sholat Dengan Mukena Semi Transparan, Bolehkah?

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 17 November 2019 06:00
Sholat Dengan Mukena Semi Transparan, Bolehkah?
Mukena semi transparan punya bobot ringan agar mudah dibawa bepergian.

Dream - Para Muslimah di kawasan Indonesia maupun Asia Tenggara tentu sudah tidak asing dengan mukena. Pakaian ini selalu digunakan Muslimah setiap kali melaksanakan sholat.

Bentuk dasar mukena adalah baju kurung terusan yang menutup rambut hingga ujung kaki kecuali wajah dan telapak tangan.

Seiring perkembangan zaman, muncul beragam model mukena. Ada yang terusan, potongan atas bawah, polos maupun bermotif.

Ada pula mukena yang menggunakan bahan kain tipis hingga semi transparan. Sehingga, bagian yang tertutupi mukena menjadi terlihat meski samar-samar.

Apakah boleh mengenakan mukena demikian untuk sholat?

1 dari 6 halaman

Syarat Sah Sholat: Menutup Aurat

Dikutip dari Bincang Muslimah, penggunaan kain semi transparan untuk mukena, biasanya jenis parasut, tentu ada alasannya. Salah satunya, bobot mukena jadi ringan sehingga bisa dibawa bepergian.

Tetapi, ada yang patut kita perhatikan mengenai syarat sahnya sholat. Dalam kitab Fathul Qarib disebutkan syarat sah sholat di antaranya menutup aurat kecuali wajah dan telapak tangan bagi wanita.

 

2 dari 6 halaman

Kriteria Tertutupnya Aurat Saat Sholat Pada Muslimah

Habib Abdur Rahman bin Muhammad bin Husein dalam kitabnya Bughyatul Mustarsyidin memberikan penjelasan demikian.

" Syarat dasar menutup aurat adalah tidak terlihatnya warna kulit asli seseorang apabila dalam majelis pembicaraan (pada saat berinteraksi dengan orang lain). Begitu juga jika nerawang tersebut disebabkan adanya bantuan cahaya (matahari atau lampu), maka itu sudah cukup dikategorikan sebagai menutup aurat sebagaimana pendapat Ibnu ‘Ajil."

Habib Abdurrahman menukil pendapat Abu Makhramah yang menyatakan pendapat yang paling mu'tamad (kuat) dalam konsep dasar menutup aurat adalah tertutupnya warna kulit asli baik dalam majelis pembicaraan ataupun di luar majelis (seperti majelis sholat).

Dari penjelasan di atas, mukena dengan bahan semi transparan bisa digunakan untuk sholat. Syaratnya selama warna kulit asli orang yang memakainya tidak terlihat.

Sumber: Bincang Muslimah.

3 dari 6 halaman

Kondisi Khusus Dibolehkan Makan Dulu Daripada Sholat

Dream - Makan dan sholat adalah dua hal yang perlu dipenuhi dalam kehidupan seorang Muslim. Dari makanan, kita mendapatkan energi yang bisa digunakan untuk menunjang segala aktivitas termasuk juga sholat.

Tetapi, ada kalanya jam makan berbarengan dengan waktu sholat. Saat perut sudah kerondongan, seseorang biasanya dilanda dilema. Mengerjalanan sholat terlebih dahulu atau makan dulu.

Dalam pergaulan sehari-hari, kamu mungkin pernah mendengar alasan mereka yang memilih makan terlebih dahulu karena ingin sholat yang ditunaikan lebih khusyuk. Bisa fokus mengerjakan sholat tanpa memikirkan makanan yang ingin disantap.

Dikutip dari Bincang Syariah, terdapat anjuran untuk mendahulukan makan ketika dalam kondisi tertentu. Seperti ketika perut sangat lapar.

 

4 dari 6 halaman

Ketika Perut Lapar dan Makanan Sudah Tersaji

Perut lapar dapat menganggu konsentrasi. Dikhawatirkan sholat tidak bisa khusyuk lantaran terus kepikiran makanan.

Hal ini sesuai hadis riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik RA. Rasulullah Muhammad SAW bersabda demikian.

Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut daripada sholat Maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian.

 

5 dari 6 halaman

Praktik Sahabat Rasulullah

Beberapa sahabat Rasulullah menerapkan cara ini. Mereka mendahulukan makan daripada sholat dalam kondisi tertentu.

Salah satu sahabat yang melakukannya adalah Abdullah bin Umar RA. Sahabat satu ini lebih mendahulukan makan meskipun sholat jemaah sudah dimulai, seperti disebutkan dalam kitab Nailul Authar.

" Ibnu Umar diletakkan padanya makanan dan sholat telah dilaksanakan, maka dia tidak mendatangi sholat hingga selesai (makan) dan sungguh dia mendengar bacaan imam."

 

6 dari 6 halaman

Pandangan Ulama

Meski lebih baik makan dulu daripada sholat, Imam An Nawawi menilai anjuran ini berlaku jika waktu masih panjang. Tetapi jika waktu sholat sudah sangat mepet atau hampir habis, wajib menunaikan sholat terlebih dahulu.

Hal ini dituangkan Imam An Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim.

" Jika waktu sudah sempit, sekiranya jika makan atau bersuci waktu segera habis, maka dia wajib sholat saat itu juga untuk menjaga kehormatan waktu dan tidak boleh mengakhirkan sholat."

Sumber: Bincang Syariah

Beri Komentar
Kenangan Reza Rahadian Makan Siang Terakhir dengan BJ Habibie