Keliru Arah Kiblat Usai Tunaikan Sholat, Haruskah Diulang?

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 25 November 2019 20:00
Keliru Arah Kiblat Usai Tunaikan Sholat, Haruskah Diulang?
Menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sahnya sholat.

Dream - Sebagai salah satu ibadah dalam Islam, sholat ada syarat-syaratnya. Setiap Muslim diharuskan memenuhi syarat tersebut agar sholatnya sah.

Salah satu syarat sahnya sholat yaitu menghadap kiblat. Kiblat yang dimaksud adalah Kabah yang berlokasi di dalam Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi.

Di manapun tempatnya, sholat diharuskan menghadap ke arah kiblat. Entah jauh ataupun dekat dengan Kabah.

Masalah kerap muncul ketika berada di tempat yang jauh dari domisili yaitu kesulitan menentukan arah kiblat. Tantangannya, sholat dikerjakan dengan mengharap ke arah kiblat yang keliru.

Jika hal ini terjadi, apakah sholat harus diulang?

 

1 dari 6 halaman

Jika Tak Mau Cari Tahu

Dikutip dari Bincang Syariah, kasus keliru arah kiblat secara rinci dapat dilihat dari dua persoalan. Masalah pertama yang tidak mencari tahu lebih dulu dan masalah kedua, sudah berusaha tapi tetap tidak menemukan arah kiblat yang benar.

Untuk masalah pertama, orang sholat tanpa lebih dulu mencari tahu arah kiblat yang benar. Baik itu dengan bertanya atau menggunakan alat seperti kompas dan sebagainya.

Terkait kasus ini, Imam Ibnu Abdil Bar dalam Al Istidzkar memberikan penjelasan berikut.

" Ulama bersepakat bahwa orang yang sholat tanpa berijtihad dan mencari arah kiblat, kemudian diketahui kemudian ia keliru menentukan arah kiblat itu sholatnya tidak sah. Ini sama saja seperti seseorang yang sholat tanpa bersuci (wudhu atau tayamum) terlebih dahulu. Karena itu, ia diwajibkan mengulangi sholat saat itu juga atau di lain waktu. Hal ini juga berlaku bagi orang yang sholat di dalam masjid tanpa menghadap kiblat, padahal ia memungkinkan untuk mencari, mengetahui, dan menandai arah kiblat dengan adanya mihrab dan semisalnya, namun ia tidak melakukannya dan malah menghadap bukan arah kiblat."

 

2 dari 6 halaman

Sudah Cari Tahu Tapi Tetap Keliru

Sedangkan untuk masalah kedua, seseorang berusaha mencari arah kiblat yang tepat. Dia lalu sholat setelah merasa menemukannya namun ternyata tetap keliru.

Untuk kasus ini, jika seseorang masih dalam keadaan sholat namun mendapat informasi arah kiblatnya keliru, dia cukup berbalik badan dan menghadap kiblat yang tepat. Dia tidak perlu membatalkan sholatnya dulu.

Dasarnya adalah peristiwa Rasulullah Muhammad SAW mendapat perintah beralih arah kiblat saat sedang sholat. Begitu Rasulullah berbalik, para sahabat langsung mengikuti.

Sedangkan jika sholat sudah selesai, dia tidak perlu mengulangnya. Selama dia sudah berusaha mencari arah kiblat yang tepat namun masih saja keliru.

Imam Ibnu Hubairah dalam Ikhtilaf Al Aimmah Al 'Ulama memberikan penjelasan berikut.

" Ulama telah sepakat mengenai orang yang sholat dengan berusaha mencari arah kiblat, ternyata keliru dalam mencari. Orang itu tidak perlu mengulang sholat, kecuali menurut salah satu pendapat jadid (kuat) Imam Syafi'i."

Sumber: Bincang Syariah

3 dari 6 halaman

Kedudukan Permainan Catur Dalam Pandangan Ulama

Dream - Permainan catur belakangan menjadi perbincangan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Muncul polemik seputar kedudukan catur dalam hukum Islam.

Polemik ini muncul usai tersebarnya video Ustaz Abdul Somad yang berpendapat catur adalah haram menukil pendapat salah satu imam mazhab. Pernyataan tersebut muncul lantaran ada pertanyaan mengenai catur dari salah satu peserta pengajian.

Sementara, catur sudah sangat dikenal di masyarakat. Mulai perkotaan hingga pedesaan, catur banyak dimainkan masyarakat.

Catur merupakan permainan yang sudah mendunia. Bahkan ada banyak orang yang menggeluti permainan ini dan menjadikannya sebagai profesi.

Lantas, benarkah kedudukan catur adalah haram dari sudut pandang hukum Islam?

4 dari 6 halaman

Dasar Penetapan Hukum Catur

Dikutip dari NU Online, pendapat yang mengharamkan catur banyak didasarkan pada pandangan ulama, bukan pada ayat Alquran maupun hadis Rasulullah Muhammad SAW.

Perlu diketahui, tidak ada satupun ayat Alquran yang membahas kedudukan catur. Demikian halnya dengan hadis, tidak ada satupun yang membolehkan maupun melarang permainan tersebut.

Memang ada hadis-hadis yang dipakai untuk menetapkan hukum atas permainan catur. Tetapi, para ulama klasik yang kemampuannya sangat diakui seperti Ibnu Katsir secara tegas menyatakan hadis-hadis tersebut adalah palsu.

Dasarnya, permainan catur muncul di masa sahabat, bukan di zaman Rasulullah masih hidup. Sehingga, sangat aneh jika muncul hadis yang menjelaskan hukum permainan catur.

Sehingga mengenai hukum catur, para ulama bersepakat dalam beberapa hal namun berbeda pendapat di beberapa lainnya. Ulama sepakat mengenai keharaman catur terkait adanya unsur judi atau dapat mengarahkan kepada perbuatan haram seperti meninggalkan sholat atau berbohong.

Tetapi, ulama berbeda pandangan jika catur tidak mengarahkan seseorang kepada perbuatan yang dilarang agama.

5 dari 6 halaman

Ada yang Membolehkan

Dilihat dari pandangan mazhab besar dalam hukum Islam, terdapat tiga pendapat yang bisa dijadikan hujah. Pendapat pertama menyatakan catur boleh dimainkan. Pendapat ini dipegang oleh sebagian Mazhab Hanafi, sebagian Mazhab Syafi'i serta sebagian besar sahabat dan tabi'in seperti Abu Hurairah, Said Ibnu Musayyib, Said Ibnu Jubair, Sya'bi dan Hasan Bashri.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumiddin.

" Bahwa hal itu merupakan nash (dalil) atas kebolehan bermain catur."

Demikian pula penjelasan Syeikh Abdullah bin Ahmad An Nasyafi dalam Al Bahrur Raiq.

" Sesungguhnya bermain dadu membatalkan (menghilangkan) sifat adil, berbeda dengan bermain catur. Sebab, hukum bermain catur merupakan lahan ijtihad, di mana Imam Malik dan Imam Syafi’i menyatakan kebolehannya. Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Yusuf."

 

6 dari 6 halaman

Yang Memakruhkan dan Mengharamkan

Pendapat kedua menghukumi catur dengan makruh. Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama Mazhab Hanafi serta sebagian Mazhab Syafi'i yang lainnya. Hal ini seperti dijelaskan Imam Al Qurthubi dalam Al Jami' li Ahkamil Quran.

" Imam Abu Hanifah berkata, 'Dimakruhkan bermain catur dan dadu'."

Sedangkan pendapat ketiga menyatakan haram bermain catur. Pendapat ini dipegang Mazhab Maliki dan Mazhab Hambali, juga merupakan pandangan dari sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Salim dan Urwah.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Imam Ibnu Rusyd dalam Al Bayan wat Tanzil.

" Imam Malik ditanya tentang hukum bermain catur, beliau menjawab, 'Tidak ada kebaikan di dalamnya. Ia termasuk hak batil'."

Demikian halnya dengan Imam Ibnu Qudamah yang merupakan ulama Mazhab Hambali. Dia menerangkan status hukum catur dalam kitabnya Al Mughni.

" Adapun bermain catur maka hukumnya seperti bermain dadu dalam keharamannya. Hanya saja, bermain dadu lebih diharamkan dibanding bermain catur. Qadhi Abul Husein menyebutkan, 'Di antara orang yang berpendapat akan keharamannya adalah Ali bin Abi Thalid, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Salim dan Urwah'."

Dari paparan tersebut, para ulama masih berbeda pendapat mengenai kedudukan catur. Catur diharamkan jika mengandung unsur judi atau kecenderungan yang mengarahkan seseorang melakukan perbuatan diharamkan, tetapi dibolehkan jika tidak membawa kepada sesuatu yang haram.

Sumber: NU Online.

Beri Komentar
Yenny Wahid Rilis Produk Kecantikan Halal