Gandeng Difabel, Desainer Dea Valencia Berbisnis dengan Hati

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Kamis, 8 Agustus 2019 12:02
Gandeng Difabel, Desainer Dea Valencia Berbisnis dengan Hati
Ia menggandeng teman-teman difabel untuk menggaungkan batik di kancah internasional.

Dream - Belakangan ini tren fashion berkembang sangat pesat dan beragam. Hal ini tak luput dari upaya desainer dalam menciptakan berbagai model busana.

Di tengah tren busana kekinian, batik masih menjadi primadona di Tanah Air. Batik merupakan sebuah ciri khas yang unggul dan sudah memiliki banyak komunitas.

Batik Indonesia terdiri dari bermacam macam jenis, mulai dari batik Megamendung, batik Bali, batik Pekalongan dan lain sebagainya.

Keindahan motif batik selalu menginspirasi para desainer Indonesia dalam menghasilkan karya mengagumkan. Dea Valencia salah satunya, desainer muda yang inspiratif.

 Dea Valencia

Kecintaan Dea pada kain batik mendorongnya untuk memantapkan hati dalam menjalankan bisnis Batik Kultur by Dea Valencia.

1 dari 5 halaman

Apa sih yang Unik?

Menurut Dea, tak dapat dipungkiri, suatu karya fashion merupakan sinergi antara sang desainer dengan penjahitnya.

“ Suatu desain tidak akan bisa menjadi nyata tanpa ada penjahit di belakangnya,” ujar Dea Valencia di acara #CeritaDibalikJahitan Batik Kultur by Dea Valencia x Tokopedia, Jakarta, Rabu 7 Agustus 2019.

 Dea Valencia

Dea Valencia berkolaborasi dengan beberapa kaum difabel untuk menghasilkan karya batik lokal yang unik dan berkualitas.

2 dari 5 halaman

Keadilan untuk Difabel

Ia melihat, kaum difabel sering diragukan dalam bekerja, terutama di industri fashion.  

" Sesungguhnya banyak kaum difabel yang memiliki bakat dan minat pada bidang fashion, tetapi tidak mendapatkan kesempatan," kata desainer asal Semarang itu.

Tak disangka, pada awalnya Dea hanya berjualan dengan sistem mouth-to-mouth kemudian bisnisnya berkembang pesat hingga ke kancah internasional.

Dea merasa sanggat bangga kepada teman-teman penjahit Batik Kultur karena selalu berupaya memberikan hasil karya berkualitas terbaik.

3 dari 5 halaman

Teman-teman Difabel

Sudah 8 tahun sejak berdiri, saat ini separuh dari pegawai label fashion milik Dea merupakan difabel.

“ Semua karena niat dari hati dan ingin membantu,” katanya.

 Dea Valencia

Gadis manis kelahiran tahun 1994 itu mengaku bahwa semua ini bermula karena kesengajaan. Kemudian semakin banyak teman-teman difabel yang cocok dan berminat bekerja di Batik Kultur.

Dea juga membantu para pegawai difabel dengan menyediakan alat-alat yang sesusai dengan kebutuhan mereka.

 Difabel

“ Iya, saya dibuatkan alat jahit highspeed dengan tongkat untuk membantu mempermudah saya menjahit,” ujar Uum, salah satu pegawai Batik Kultur by Dea Valencia.

Kisah inspiratif Dea Valencia bisa menjadi sebuah stimulus bagi desainer muda Indonesia untuk selalu bekerja dengan hati dan membantu sesama.

(ism, Laporan: Razdkanya Ramadhanty)

4 dari 5 halaman

Davina, Anak Down Syndrome yang Melatih Kosakata dari K-pop

Dream - Mengasuh anak dengan down syndrome bukanlah hal mudah. Dibutuhkan keikhlasan untuk menerima amanah yang dititipkan Allah SWT.

Hal ini juga dirasakan oleh seorang ibu dari Jawa Tengah. Berandini Herayanti (38) baru mengetahui anaknya memiliki down syndrome di usia 7 bulan.

Davina Anindya Rahyudhie lahir di Solo pada 9 April 2006. Kala itu, dokter tidak memaparkan kondisi putrinya. Menyadari tumbuh kembangnya agak terlambat, Herayanti membawanya ke dokter di Jakarta.

" Saya terpukul bukan karena menerima kondisinya tapi karena saya baru tahu ia down syndrome setelah 7 bulan. Karena itu saya kehilangan momen, harusnya saya bisa kasih stimulasi sejak dini," ungkapnya usai acara fashion show Alleria Batik di Jakarta, 14 Februari 2019.

Namun ia tak larut dalam kesedihan. Wanita berhijab itu mengikuti anaknya dengan fisioterapi. Hingga pada akhirnya, Davina mampu menunjukkan langkah pertamanya.

" Dia duduk di usia 10 bulan dan akhirnya bisa jalan pas di usia 2 tahun persis," ujarnya.

Kini Davina tumbuh menjadi seorang gadis cilik yang cantik. Ia bersekolah di salah satu SLB Jakarta Selatan. Di usia yang hampir menginjak 13 tahun, ia mulai menunjukkan bakatnya.

  Alleria Batik

Davina tertarik dengan dunia seni. Kecintaannya terhadap K-Pop menginspirasinya untuk menari dan bernyanyi.

" Blackpink, BTS, pokoknya Korea semua dia suka. Sering nyanyi, dia kalo lihat di TV langsung goyang. Musik dimanfaatkannya untuk melatih kosakata," kata Herayanti.

Si kecil juga baru saja mengikuti peragaan busana batik. Dengan percaya diri, ia melenggang di atas runway bak supermodel.

5 dari 5 halaman

Tidak Kesulitan

Mengasuh anak dengan down syndrome tidak membuat Herayanti kewalahan. Ia justru menikmati setiap momen bersama sang putri.

Davina kini menjadi sosok panutan bagi adik lelakinya. Ia selalu mengalah sehingga keduanya tak pernah berkelahi.

Dalam menghadapi anak yang moody, Herayanti punya cara sendiri.

" Kalau tantrum biasanya dia langsung kaku. Diemin aja, dielus punggungnya. Semakin dikerasin nanti malah makin menjadi-jadi," katanya.

Herayanti membiasakan putrinya untuk berhadapan dengan orang lain. Ia mengaku tak khawatir dengan ancaman bullying.

" Mau di-bully seperti apapun dia harus kuat. Alhamdulillah dia terbiasa, ketemu siapapun gak canggung dan cepat beradaptasi," ujar Herayanti.

Benar saja, ketika ditemui oleh reporter Dream.co.id, Davina langsung memberi pelukan hangat. Dengan sedikit tersipu, ia menjulurkan tangan untuk berkenalan.

Terus semangat mewujudkan mimpi ya, Davina! 

(ism)

Beri Komentar
Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik