Sumber Hukum Islam Adalah Hadis, Inilah Pembagian Hadis Berdasarkan Kualitasnya

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Jumat, 31 Desember 2021 17:14
Sumber Hukum Islam Adalah Hadis, Inilah Pembagian Hadis Berdasarkan Kualitasnya
Hadis tersebut terbagi menjadi hadis shahih, hadis hasan, dan hadis dhaif.

Dream – Sumber hukum Islam adalah asal atau tempat diambilnya suatu hukum Islam. Hukum Islam sendiri memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat, terutama umat Islam. Karena dengan adanya hukum Islam inilah yang akan mengatur kehidupan masyarakat untuk menuju masyarakat yang tertib, aman, dan bahagia di dunia dan juga akhirat.

Oleh karena itulah, demi mencapai kehidupan masyarakat tersebut, maka hukum Islam pun sudah seharusnya ditaati dan dipatuhi. Jika ada seseorang atau umat Islam yang melanggarnya, maka hukuman pun sudah disediakan untuk memberikan efek jera. Begitu juga orang lain yang tidak melakukannya, maka bisa mengetahui bahwa melanggar hukum Islam memiliki risiko yang berat.

Sumber hukum Islam adalah terbagi menjadi empat, yang pertama dan utama adalah Al-Quran, lalu posisi kedua adalah hadis, lalu ijma, dan yang terakhir adalah qiyas. Namun dalam pembahasan kali ini akan dijelaskan tentang sumber hukum Islam adalah hadis, yakni terbagi menjadi beberapa macam tergantung dengan kualitasnya.

Berikut penjelasan secara lebih lengkap tentang sumber hukum Islam adalah hadis dan macam-macamnya yang disertai dengan pembahasan sebagaimana telah dirangkum oleh Dream melalui berbagai sumber.

1 dari 3 halaman

Pengertian Hadis

Pengertian Hadis© Unsplash.com

Sumber hukum Islam adalah salah satunya berupa hadis. Hadis sendiri menempati kedudukan yang kedua setelah Al-Quran. Seperti dikutip dari Merdeka.com, pengertian hadis menurut bahasa adalah berbicara, perkataan, dan percakapan. Biasanya hadis ini disebut juga dengan istilah sunah oleh umat Islam.

Sedangkan secara istilah, hadis adalah segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan, dan persetujuan yang berasal dari Nabi Muhammad saw dan dijadikan sebagai landasan syariat Islam.

Lalu dikutip dari islam.nu.or.id, hadis adalah setiap informasi yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Misalnya saja saat mengatakan pernyataan, “ Rasulullah saw pernah berkata” atau “ Rasulullah saw pernah melakukan…,” Maka pernyataan tersebut secara tidak langsung telah menunjukkan berasal dari Nabi saw dan bisa dikatakan sebagai hadis.

2 dari 3 halaman

Pembagian Hadis Berdasarkan Kualitasnya

Pembagian Hadis Berdasarkan Kualitasnya© Unsplash.com

Setelah mengetahui pengertian dari hadis, namun ada hal lain yang masih menjadi pertanyaan bagi sebagian umat Islam. Apakah pernyataan yang ada benar-benar berasal dari Nabi Muhammad saw? Karena ada juga informasi yang tidak benar atau tidak berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Nah, untuk mengetahui apakah valid atau tidak tentang informasi yang bersumber dari Nabi Muhammad saw, maka para ulama pun sudah membagi hadis berdasarkan pada kualitasnya. Hadis tersebut terbagi menjadi tiga, yakni hadis shahih, hadis hasan, dan hadis dhaif yang penjelasannya dikutip melalui Merdeka.com berikut:

Hadis Shahih

Sumber hukum Islam adalah hadis. Di mana hadis yang ada pun masih terbagi lagi menjadi beberapa macam, salah satunya adalah hadis shahih. Secara bahasa, shahih berarti sehat, yang selamat, yang benar, yang sah, dan yang benar. Sehingga bisa diartikan bahwa hadis shahih adalah hadis yang sah, hadis yang sehat, atau hadis yang selamat.

Menurut Ibnu Ash Shalah, hadis shahih adalah hadis yang disandarkan pada Nabi saw yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh (perawi) yang adil dan dhabit sampai akhir sanad, tidak ada kejanggalan dan tidak ber’illat.

Syarat dari berlakunya hadis shahih ini antara lain adalah memiliki sanad yang bersambung, periwayatannya bersifat adil dan dhabit, lalu tidak bersifat janggal atau syadz, dan tidak terdapat ‘illat atau kecacatan pada hadis.

3 dari 3 halaman

Pembagian Hadis Berdasarkan Kualitasnya

Hadis Hasan

Sumber hukum Islam adalah berasal dari Allah SWT dan juga Nabi Muhammad saw. Sehingga, sumbernya pun haruslah jelas dan terpercaya. Oleh karena itu, sumber hukum Islam yang kedua berupa hadis masih dikelompokkan lagi menjadi beberapa macam sesuai dengan kualitasnya yang salah satunya adalah hadis hasan.

Nah, hadis hasan ini menurut Ibnu Hajar adalah hadis yang dinukilkan oleh orang yang adil, kurang kuat ingatannya, muttasil sanadnya, serta tidak cacat dan juga tidak ganjil.

Sedangkan menurut Imam Tirmidzi, hadis hasan adalah tiap-tiap hadis yang pada sanadnya tidak terdapat perawi yang tertuduh dusta (pada matan-nya), tidak ada kejanggalan (syadz), dan (hadis tersebut) diriwayatkan melalui jalan lain.

Sehingga hadis hasan ini sebenarnya tidaklah menunjukkan sanad yang lemah. Hadis ini sama halnya dengan hadis shahih. Yang membedakan adalah tentang hafalannya. Rawi dari hadis hasan ini tidak memiliki hafalan yang kuat.

Hadis Dhaif

Hadis yang ketiga adalah hadis hasan yang berarti lemah atau hadis yang sakit atau tidak kuat. Dari beberapa ulama yang mengartikan hadis dhaif ini berbeda-beda, Namun sebenarnya kesemua pendapat tersebut memiliki tujuan arti yang sama.

Seperti halnya menurut An-Nawawi, pengertian hadis dhaif adalah hadis yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadis shahih dan syarat-syarat hadis hasan.

Ulama-ulama pun sudah menyepakati untuk melarang dalam meriwayatkan hadis dhaif bukan maudhu. Untuk hadis dhaif yang bukan maudhu’, hal ini pun terdapatkan perdebatan tentang boleh atau tidaknya diriwayatkan untuk berhujjah. Pendapat-pendapat yang muncul diantaranya adalah melarang secara mutlak dan mombolehkannya.

Ulama yang memperbolehkan untuk berhujjah adalah Ibnu Hajar Al-Asqalani. Beliau memperbolehkan berhujjah dengan hadis dhaif untuk keutamaan amal dengan beberapa syarat.

Syarat-syaratnya yakni hadis dhaif tersebut tidak keterlaluan, dasar amal yang ditunjukkan hadis dhaif masih berada di bawah dasar yang dibenarkan oleh hadis yang dapat diamalkan (hadis shahih atau hasan), dan dalam mengamalkannya tidak beritikad hadis itu benar dan jelas dari Nabi Muhammad saw. Namun memiliki tujuan bahwa untuk berhati-hati.

Beri Komentar