Tak Bisa Dengan Harta, Ini Serendah-rendahnya Sedekah Menurut Rasulullah

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 12 Desember 2019 20:01
Tak Bisa Dengan Harta, Ini Serendah-rendahnya Sedekah Menurut Rasulullah
Sedekah paling baik dilakukan dengan harta.

Dream - Sedekah sebagai salah satu perbuatan mulia sudah jamak diketahui masyarakat. Bersedekah artinya memberikan kebaikan yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan.

Sedekah merupakan keharusan bagi setiap Muslim. Karena lewat sedekah, kita bisa membantu mereka yang kurang beruntung.

Dalam Islam kita mengetahui ada hak kaum dhuafa di antara harta yang kita miliki. Dengan sedekah, kita membayarkan hak itu hingga harta yang kita raih menjadi berkah.

Patut kita pahami, sedekah tidak melulu dilakukan dengan harta. Meski harta adalah benda ideal untuk bersedekah.

Dikutip dari Bincang Syariah, sedekah ada tingkatannya. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa RA disebutkan Rasulullah Muhammad SAW menjelaskan tingkatan orang bersedekah.

Dari Abu Musa RA, Nabi SAW bersabda, " Setiap orang Islam itu harus bersedekah." Abu Musa bertanya, " Bagaimanakah jikalau ia tidak menemukan sesuatu untuk disedekahkan?" Beliau menjawab, " Kalau tidak ada hendaklah ia bekerja dengan kedua tangannya, kemudian ia dapat memberikan kemanfaatan kepada dirinya sendiri, kemudian bersedekah." Ia bertanya lagi, " Bagaimanakah jikalau ia tidak kuasa berbuat demikian?" Beliau menjawab, " Hendaklah ia memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan bantuan." Ia bertanya lagi, " Bagaimanakah jikalau ia tidak dapat berbuat demikian?" Beliau menjawab, " Hendaklah ia memerintah dengan kebaikan atau kebagusan." Ia bertanya lagi, " Bagaimanakah jikalau ia tidak kuasa berbuat demikian." Beliau menjawab, " Hendaklah ia menahan diri dari berbuat kejahatan, maka yang sedemikian itupun sebagai sedekah yang diberikan olehnya."

1 dari 4 halaman

Dari Paling Utama Hingga Terendah

Hadis ini menjelaskan beberapa tahapan orang bersedekah. Sedekah dengan harta tentu jadi yang paling utama.

Harta ini bisa diwujudkan dalam bentuk uang atau makanan. Jika tidak punya, dianjurkan untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan bersedekah.

Tingkatan kedua di bawahnya yaitu sedekah dengan menolong orang yang membutuhkan. Hal ini dilakukan dengan perbuatan baik.

Tingkatan ketiga yaitu dengan memerintahkan kepada kebaikan. Jika seseorang menduduki jabatan, maka dia membuat kebijakan yang mengarahkan orang lain berbuat kebaikan.

Jika hanya rakyat biasa, maka menyarankan orang berbuat baik sudah termasuk sedekah. Namun demikian, sedekah di tingkatan lebih rendah derajatnya.

Sedangkan sedekah terendah yaitu menahan diri dari perbuatan jahat. Jika tidak bisa melakukan sedekah dengan harta, perbuatan ataupun ucapan, maka dia harus menahan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain.

Sumber: Bincang Syariah

2 dari 4 halaman

Dianjurkan Memulai Baca Al-Quran dengan Ta'awudz, Mengapa?

Dream - Kita mungkin terbiasa mengucapkan lafal ta'awudz sebelum membaca Al-Quran. Kalimat " A'udzubillahi minasy syaithonir rojim"  biasa dibaca sebagai pembuka aktivitas mengaji Al-Quran.

Hal ini menjadi kebiasaan sebagian dari kita. Sebab, sedari kecil kita diajarkan untuk melakukannya baik oleh orangtua maupun guru mengaji.

Secara makna, kalimat taawudz berarti " Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."  Baru kemudian kita mengucap kalimat " Bismillahir rahmanir rahim"  yang artinya " Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang."

Dilihat dari makna, tentu kalimat basmalah memiliki derajat lebih tinggi. Tapi mengapa justru ta'awudz dianjurkan dibaca lebih dulu?

3 dari 4 halaman

Perintah Membaca Ta'awudz

Dikutip dari NU Online, para ulama menyatakan terdapat sejumlah dalil mengenai perintah membaca ta'awudz. Baik itu ayat Al-Quran maupun hadis.

Dalam Al-Quran, perintah itu bisa kita temukan pada Surat An Nahl ayat 98.

Jika engkau membaca Al-Quran, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Perintah lain juga bisa kita temukan pada Surat Al-Araf ayat 199-200, Surat Al-Mukminun ayat 96-98, dan Surat Fushshilat ayat 36.

 

4 dari 4 halaman

Ini Maksudnya

Pakar tafsir Al-Quran, Imam Ibnu Katsir, menjelaskan kandungan ayat tersebut dalam kitabnya, Tafsirul Qur'anil Azhim atau lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir. Dia mengetengahkan pandangan sebagian besar ulama mengenai perintah ini.

" Pandangan yang masyhur di kalangan mayoritas ulama, isti'adzah atau ta'awudz bertujuan untuk menolak was-was dalam bacaan Al-Quran dan itu dilakukan sebelum membaca Al-Quran. Pandangan ini berangkat dari pengertian ayat berikut menurut mayoritas ulama, 'Jika engkau membaca Al-Quran, berlindunglah kepada Allah dari setan terkutuk,' (An-Nahl ayat 98). Maksudnya tidak lain, 'Jika kamu ingin membaca' sebagaimana pengertian pada 'Jika kalian melakukan sholat, basuhlah wajah dan tangan kalian,' (Al-Maidah ayat 6), maksudnya 'Jika kalian ingin sholat'."

Selanjutnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan pengucapan kalimat ta'awudz mengandung faedah membersihkan mulut dari ucapan sia-sia dan kotor. Ucapan tersebut merupakan persiapan mulut sebelum membaca Kalam Ilahi.

Sumber: NU Online

Beri Komentar
Perjuangan Ria Irawan, Pantang Menyerah Lawan Kanker