Lulus Kuliah Kala Kerja Otak Melambat, Kisah Wanita Idap Kanker Ini Buat Haru

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 16 Oktober 2019 11:36
Lulus Kuliah Kala Kerja Otak Melambat, Kisah Wanita Idap Kanker Ini Buat Haru
Sakit parah yang dia alami tidak menyurutkan semangatnya menempuh pendidikan.

Dream - Mewujudkan mimpi bukan perkara mudah. Butuh perjuangan dan tak mudah menyerah menghadapi segala rintangan.

Demikian pula yang dilakukan oleh seorang mahasiswi pemilik akun Twitter @AidaRashidi. Meski mengidap penyakit parah kanker tulang punggung stadium 3, wanita ini bisa menyelesaikan program diploma.

Aida mengunggah momen kebahagiaan saat wisuda di akunnya. Dia juga memajang foto saat menjalani masa-masa pemulihan.

Diketahui Aida mulai menempuh program pendidikan diploma pada 2015. Seharusnya, program itu selesai dalam 2,5 tahun.

 Tak Kenal Menyerah, Pengidap Kanker Tulang Ini Lulus Diploma

Sayangnya, Aida butuh waktu lebih lama. Dia terpaksa sering tidak masuk kuliah lantaran harus rutin memeriksakan kondisi kesehatannya ke rumah sakit.

 

1 dari 4 halaman

Perawatan yang Melelahkan

Dia juga sering melewatkan kelas paginya di rumah sakit. Selama proses pengobatan, jadwal pemeriksaan di rumah sakit sebagian besar berlangsung di pagi hari.

" Saya tidak bisa menghitung berapa banyak darah yang mereka ambil untuk menguji saya. Berhari-hari menunggu hasil, memotong bagian dalam mulut saya untuk biopsi, CT scans, hingga akhirnya hasilnya keluar pada 15 Januari 2017," kata Aida, dikutip dari World of Buzz.

 Aida Rashidi

Aida didiagnosis menderita kanker tulang ganas stadium 3A. Dia terpaksa meninggalkan teman-teman dan studinya di Arau untuk mulai menjalani perawatan kanker.

Proses perawatan itu harus dia jalani dengan melelahkan. Aida menjalani 12 siklus kemoterapi dalam satu tahun. Seperti para penderita kanker lain, Aida juga merasakan sedihnya kehilangan rambut dan menurunnya stamina ketika tubuhnya mengalami memar.

Perawatan itu terus dijalani hingga akhir Desember 2017.

2 dari 4 halaman

Gadis yang Kuat

Terlepas dari itu semua, Aida adalah gadis tangguh. Dia memutuskan untuk melanjutkan diploma dengan pindah ke kampus lain yang dekat dari rumah sakit.

Dengan begitu, dia tetap bisa kuliah sembari menjalani perawatan medis. Dia mengatakan betapa sulitnya menjalani pengobatan sembari melanjutkan kuliah, tapi dia tetap melakukannya.

 Aida

Aida akhirnya lulus tanpa perlu mengulang apapun. Ini menjadi prestasi luar biasa bagi Aida.

Dalam unggahannya, Aida mengucapkan banyak terima kasih pada keluarga, teman, juga dokter dan perawat yang telah mendukung dan peduli pada perjalanannya.

3 dari 4 halaman

Masya Allah, Mahasiswa S2 dan S3 itu Anak Juru Parkir

Dream - Tukang parkir bukan profesi hina. Banyak kisah membanggakan yang ternyata tersembunyi di balik kerja keras para tukang parkir.

Seperti diceritakan oleh seorang mahasiswa. Dia bertemu dengan seorang tukang parkir tua saat hendak memotong rambutnya.

Menjelang siang hari, mahasiswa tersebut mendatangi kios potong rambut langganannya. Sesampai di sana, dia belum bisa dilayani lantaran tukang potong tengah pergi ke masjid untuk sholat.

Melihat mahasiswa itu, si tukang parkir menghampiri mahasiswa itu. Bertanya sebentar, tukang parkir meminta mahasiswa tersebut menunggu di bangku yang telah disiapkan.

" Tunggu aja dulu mas di sini, tukang potong rambutnya lagi ke masjid, mau sholat. Paling dia pergi 15 menit saja," kata tukang parkir itu.

" Baik, Pak. Kalau gitu, saya tunggu aja dulu," kata mahasiswa tersebut.

Keduanya lalu terlibat perbincangan, mulai lama kerja si tukang parkir hingga kampus tempat mahasiswa itu kuliah. 

4 dari 4 halaman

Anak Kuliah S2 dan S3

Tukang parkir itu lantas bercerita mengenai anaknya yang tengah kuliah S3.

" Wah, luar biasa, Pak. Anaknya kuliah S2 dan S3 di mana, Pak?" tanya mahasiswa itu.

" Di Australia dan Jerman, dia didanai oleh perusahaan tempatnya bekerja," kata si tukang parkir.

" Perusahaan tempat anak saya bekerja perusahaan minyak. Dulu S1, anak saya kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Yogyakarta. Setelah lulus S1, dia mencoba melamar pekerjaan di perusahaan tersebut, sehari kemudian setelah mengirim lamaran, hp anak saya berbunyi. Saya yang angkat hpnya, karena dia lagi keluar rumah," ceritanya.

Sang juru parkir yang tak disebutkan namanya itu lantas menceritakan soal telepon yang diterimanya itu kepada anaknya. " Setelah anak saya kembali, perusahaan dan anak saya berkomunikasi, akhirnya anak saya diterima bekerja di sana," katanya.

" Karena anak saya kerjanya bagus dalam perusahaan, maka perusahaan menawarkan S2 ke Australia, pulang dari Australia, anak saya ditawari lagi untuk melanjutkan S3 ke Jerman karena dia bekerja dengan baik di perusahaan. Sekarang sedang melanjutkan S3,” kata si tukang parkir.

Selengkapnya...

[crosslink_1]

Beri Komentar
Kenangan Reza Rahadian Makan Siang Terakhir dengan BJ Habibie