Curhat Pilu Gadis Pati Idap Penyakit Paling Langka: Dibully, Nyaris Bunuh Diri

Reporter : Sugiono
Jumat, 23 Agustus 2019 11:00
Curhat Pilu Gadis Pati Idap Penyakit Paling Langka: Dibully, Nyaris Bunuh Diri
Ine Syuhada mencurahkah perasaan pilu dalam menghadapi kehidupan setelah menderita penyakit langka tersebut.

Dream - Hidup memang terkadang sangat kejam. Bukan karena takdir, tapi akibat perbuatan orang lain yang tak punya hati dan perasaan.

Contohnya gadis asal Pati, Jawa Tengah, yang menderita penyakit paling langka di dunia. Akibat menderita penyakit itu, dia jadi takut, depresi, dan dijauhi orang-orang.

Inilah kisah Ine Syuhada. Dia mencurahkah perasaan pilu dalam menghadapi kehidupan setelah menderita penyakit langka tersebut.

1 dari 4 halaman

Menderita Penyakit Paling Langka di Dunia

Ine didiagnosis menderita penyakit paling langka di dunia, Marfan Syndrome. Penyakit ini menyerang jaringan ikat, terutama di jantung, pembuluh darah, tulang, sendi, dan mata.

Karena kondisi tersebut, gadis kelahiran 2003 itu sering diejek dan di-bully. Sehingga dia dijauhi oleh orang-orang.

Dia sejatinya ingin memiliki banyak teman. Tapi karena penyakit itu, orang-orang justri jijik melihatnya.

Melalui Twitter, Ine menceritakan betapa menyedihkan kehidupannya setelah menderita Marfan Syndrome.

2 dari 4 halaman

Menderita Marfan Syndrome Sejak Usia 9 Bulan

Ine didiagnosis mengidap penyakit itu saat berusia 9 bulan. Dia harus menjalani operasi di kedua mata pada usia 4 hingga 5 tahun. Operasi itu dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Bukannya tambah membaik, setelah menjalani operasi, mata kirinya terus mengeluarkan air hingga akhirnya benar-benar berhenti berfungsi.

Ine sebenarnya sudah merasakan mata kirinya gelap namun merahasiakannya dari orang tuanya.

Setelah dilakukan pemeriksaan ulang, dokter mengatakan bahwa mata kiri Ine buta permanen.

3 dari 4 halaman

Jantung Juga Tipis, Risiko Meninggal Dunia

Selain mata, dokter menyatakan jantung Ine tipis. Seperti balon yang ditiup terlalu besar dan kemudian pecah. Nyawa Ine pun terancam.

Penderitaan Ine tidak berhenti sampai di situ saja. Hari demi hari, mata kirinya berubah warna dan semakin bengkak.

Sementara orang tuanya mulai sering bertengkar hingga akhirnya bercerai. Beberapa bulan kemudian, ibunya menikah lagi.

Ine dan ibunya pindah ke rumah ayah dan saudara tirinya.

4 dari 4 halaman

Di Sekolah Di-bully, di Rumah Bagai Neraka

Ine mulai beradaptasi dengan lingkungan baru. Di sanalah Ine situlah mendapat bully dari teman-teman barunya.

Dia benar-benar tidak punya teman. Di sekolah, Ine diejek, dikucilkan, dan di-bully setiap hari.

Waktu itu, Ine masih kelas lima SD, usianya baru 10 tahun. Di kelas di-bully teman sekolah, di rumah ada ayah dan saudara tiri yang jahat.

" Aku sangat depresi dan sampai kepikiran untuk bunuh diri diumurku yang masih 10 tahun itu, tapi aku mencoba untuk bertahan," katanya.

Pengalaman tersebut terbawa hingga ke SMA. Ine berubah jadi anak yang kesepian, merasa rendah diri, pendiam, dan takut bertemu orang.

Ine hanya bisa memasrahkan nasibnya kepada Tuhan. Dia berharap ada keajaiban yang bisa menyembuhkan penyakitnya.

Sumber: World of Buzz, Twitter Ine Syuhada

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian