Takut Tularkan Corona, Pria Ini Mudik dengan Jalan Kaki Sejauh 120 Km

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 9 April 2020 10:48
Takut Tularkan Corona, Pria Ini Mudik dengan Jalan Kaki Sejauh 120 Km
Alixson Mangundok baru saja pulang dari Jepang.

Dream - Pria Malaysia, Alixson Mangundok, 34 tahun, memutuskan pulang kampung halaman dengan berjalan kaki sejauh 120 kilometer. Butuh tiga hari bagi Alixson untuk berjalan dari Kinabalu, Negara Bagian Sabah, menuju kampungnya di Kota Marudu.

Aksi nekat itu dijalani Alixson bukan tanpa sebab. Dia tidak ingin menulari orang lain virus corona, mengingat baru saja pulang dari Jepang yang tercatat memiliki cukup banyak kasus terkonfirmasi pfitif Covid-19.

Padahal, petugas kesehatan bandara menyatakan dia baik-baik saja. Meski begitu, Alixon tetapp khawatir bakal menularkan virus corona.

" Setelah sampai di Bandara Internasional Kota Kinabalu, saya diperiksa dan pihak bandara mengatakan saya baik-baik saja dan tidak menunjukkan gejala virus, saya masih minta untuk pergi ke Rumah Sakit Queen Elizabeth untuk pemeriksaan yang lebih menyeluruh," kata Alixson, dikutip dari Straits Times.

Setelah dilakukan pemeriksaan sampel di rumah sakit, dokter memberitahu dia bisa melakukan karantina mandiri di rumah. Jadi, Alixson tidak harus menunggu hasil pemeriksaan Covid-19 di fasilitas karantina yang telah disiapkan pemerintah.

1 dari 3 halaman

Berjaga-Jaga

Sebelumnya, kerabat Alixon telah membantunya dengan membawa beberapa pakaian dan tas jinjing untuk berjaga-jaga jika dia harus dikarantina.

" Tetapi kemudian saya diberitahu bahwa saya dapat menjalani karantina sendiri di rumah. Saya memutuskan untuk berjalan jauh ke Kota Marudu karena saya terbiasa berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya dari berburu dan bertani," ucap dia.

Sebelum melakukan perjalanan, Alixon sempat makan siang dan membeli dua botol air di rumah sakit. Ketika berjalan belum terlalu jauh dari Kota Kinabalu, dia melewati kuburan dan didatangi seekor anjing.

Anjing itu ternyata mengikuti perjalanan Alixson. Dia pun membiarkan anjing itu ikut dan memberinya nama Hachiko.

" Saya pikir anjing itu akan ikut setengah jalan tapi dia tetap tinggal di sepanjang perjalanan, itulah sebabnya saya memutuskan untuk mengadopsi Hachiko," kata Alixon.

2 dari 3 halaman

Istirahat di Halte Bus

Sepanjang perjalanan, mereka beristirahat di halte bus dan melewati cukup banyak masalah. Tetapi mereka juga menjalin pertemanan baru, menerjang hujan, cuaca panas serta berjalan naik turun bukit.

" Di setiap perbatasan, polisi dan pasukan keamanan lainnya yang bertugas akan menanyakan ke mana saya akan pergi dan ketika saya memberi tahu mereka bahwa saya menuju ke Kota Marudu, mereka tidak percaya, tetapi akhirnya saya meyakinkan mereka bahwa saya tidak bercanda," jelas Alixson.

Sembari menjelaskan alasannya, Alixson menunjukkan paspor serta surat pemeriksaan dari rumah sakit sebagai bukti. Petugas perbatasan kemudian menyarankannya untuk berhati-hati, tetap waspada dan beristirahat di tempat yang terang.

" Mereka juga menawarkan untuk membantu saya naik mobilnya tapi saya menolak karena saya memiliki anjing ini dan saya tidak ingin menimbulkan risiko kesehatan bagi siapa pun, meskipun dokter mengatakan saya tidak terpapar virus," katanya.

3 dari 3 halaman

Tiba di Kampung Halaman Langsung Karantina Mandiri

Singkat cerita, setibanya di kampung halaman, Alixson menjalani karantina mandiri di pondok sewaan sambil tetap melakukan pemeriksaan kesehatan. Dia mengaku pada 7 April, pemeriksaannya sangat memuaskan namun masih menunggu hasil tes kedua.

" Saya tidak akan istirahat dan tidak akan bertemu keluarga sampai rumah sakit memberi saya konfirmasi bahwa saya bebas dari virus ini. Untuk saat ini, Hachiko dan saya menghabiskan waktu bersama di pondok," jelas Alixson.

Ayah dua anak tersebut memiliki pengalaman kerja di luar negeri cukup lama. Dia meninggalkan Malaysia sejak usia 18 tahun dan pernah bekerja di Singapura, Aljazair, Australia, dan Korea Selatan.

Beri Komentar
Terlahir Tuli, Anak Ray Sahetapy Lulus Cum Laude di New York