Tatkala Rasulullah Larang Pemuda Ikut Hijrah

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 27 Februari 2019 08:01
Tatkala Rasulullah Larang Pemuda Ikut Hijrah
Rasulullah menyuruh pemuda itu kembali ke orangtuanya.

Dream - Ketika umat Islam masih sangat sedikit, Rasulullah Muhammad SAW selalu berhadapan dengan bahaya dalam berdakwah. Ancaman demi ancaman diterima Rasulullah SAW dari kaum Quraisy yang sangat membenci Islam.

Apalagi setelah dua orang dekat Rasulullah meninggal dunia, yaitu sang paman, Abu Thalib, dan Khadijah, istri yang sangat dicintai. Dua orang ini adalah pelindung Rasulullah SAW.

Ketika dua orang ini masih hidup, kaum Quraisy segan untuk menentang dakwah Rasulullah. Begitu Abu Thalib dan Khadijah meninggal, mereka berani secara terang-terangan memusuhi dan mengancam hendak membunuh Nabi Muhammad SAW.

Turunlah perintah dari Allah SWT untuk berhijrah. Rasulullah menjalankan perintah itu dan mengajak umat Islam yang jumlahnya begitu sedikit untuk meninggalkan Mekah menuju Yatsrib.

Umat Islam yang ikut Rasulullah hijrah dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Ini agar pergerakan umat Islam meninggalkan Mekah tidak diketahui oleh kaum Quraisy.

Selain itu, perjalanan keluar Mekah dilakukan di malam hari. Tujuannya agar kaum Quraisy tidak curiga.

 

1 dari 1 halaman

Rasulullah dan Pemuda

Disebutkan dalam buku Akhlak Rasul Menurut Al Bukhari dan Muslim karya Abdul Mun'im Al Hasyimi, terjadi peristiwa haru ketika Rasulullah bersama beberapa umat Islam hendak pergi hijrah.

Ada seorang pemuda yang meminta izin untuk bisa berhijrah bersama Rasulullah SAW dalam satu rombongan. Setelah itu, dia secara terbuka berkata kepada Rasulullah SAW, telah membuat orangtuanya menangis.

Mendengar perkataan pemuda itu, Rasulullah SAW melarangnya ikut berhijrah. Rasulullah SAW memerintahkan pemuda itu untuk kembali kepada kedua orangtuanya.

" Kembalilah kepada orangtuamu, dan buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis," kata Rasulullah.

Rasulullah tidak mau membaiat pemuda itu lantaran dia tidak mendapat restu orangtuanya. Perintah Rasulullah kepada pemuda tersebut untuk pulang adalah agar dia berbakti kepada orangtuanya.

Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah menekankan berbakti kepada orangtua jauh lebih penting dibandingkan segalanya. Kecuali, jika orangtua menyuruh anaknya untuk melakukan kemaksiatan maka tak perlu dipatuhi.

(ism, Sumber: NU Online)

Beri Komentar
Detik-detik Bom Bunuh Diri Meledak di Polrestabes Medan