Jangan Pernah Memotong Omongan Orang Lain, Ini Penjelasan Ulama

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 14 Oktober 2019 17:01
Jangan Pernah Memotong Omongan Orang Lain, Ini Penjelasan Ulama
Setiap orang punya hak untuk didengar.

Dream - Islam mengajarkan manusia untuk menjadi makhluk beradab. Karena adab merupakan patokan dalam menilai perilaku seseorang.

Seseorang yang memiliki adab baik tidak akan menimbulkan kerugian dan kerusakan bagi saudaranya. Demikian pula sebaliknya, jika adab seseorang buruk, dia bisa menjadi ancaman bagi sesamanya.

Salah satu adab yang sangat diperhatikan dalam ajaran Islam adalah berbicara dengan orang lain. Ada sejumlah larangan yang harus diperhatikan, terutama soal memotong omongan orang lain.

Dalam ajaran Islam, memotong omongan orang lain merupakan aktivitas yang dilarang. Ada banyak dampak buruk yang ditimbulkan dari aktivitas ini.

Dikutip dari NU Online, Sayyid Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam kitabnya Risalatul Mu'awanah wal Mudhaharah wal Muwazarah memberikan penjelasan sebagai berikut.

" Dengarkan orang lain yang berbicara kepadamu, dan jangan sekali-kali kamu putus pembicaraan itu, kecuali mengandung ucapan yang mendatangkan murka Allah, seperti ghibah (menggunjing), misalnya. Apabila seseorang sedang membicarakan sesuatu padamu, sedangkan engkau telah mengetahuinya sebelumnya, jangan tunjukkan bahwa engkau telah mengetahuinya. Yang demikian itu dapat membuatnya tersinggung. Ketika seseorang berbicara kepadamu tentang hal yang tidak sebenarnya, janganlah engkau mengatakan padanya, 'Berita itu tidak seperti yang engkau katakan, tetapi 'begini'... dan 'begini'... Dan jika berita itu berkaitan dengan masalah keagamaan, tunjukkan kepadanya bagaimana sebenarnya secara halus sehingga tidak menyinggung perasaannya."

 

1 dari 5 halaman

Sejauh Bukan Gunjingan

Larangan memotong omongan orang lain salah satunya karena setiap orang punya untuk didengarkan. Sehingga, hak dia untuk berbicara tidak bisa dipotong begitu saja tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Dibolehkan memotong omongan jika yang dibicarakan merupakan hal yang tidak sesuai syariat, seperti menggunjing. Karena menggunjing adalah hal yang dilarang dalam Islam dan pelakunya diibaratkan seperti sedang memakan bangkai saudaranya sendiri.

Tetapi, memotong omongan yang tidak menggunjing dibolehkan. Syaratnya, sebelumnya memohon izin lebih dulu.

 

2 dari 5 halaman

Jika Orang Bercerita Pengalaman

Kemudian, usahakan tidak memotong omongan orang mengenai sesuatu jika kita sudah mengetahuinya. Karena hal itu bisa membuat orang lain tersinggung.

Misalnya, seseorang baru pulang berlibur dan ingin bercerita pengalamannya. Sementara kita sudah pernah berlibur ke tempat tersebut.

Karena pernah pergi ke tempat yang sama, kita meminta orang lain untuk tidak bercerita pengalamannya. Sikap ini tergolong tercela karena bisa membuat orang tersebut malu bahkan tersinggung.

Hal ini disinggung dalam hadis riwayat Imam Ahmad.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, " Jika engkau mengatakan 'diamlah!' kepada orang-orang ketika mereka tengah berbicara, sungguh engkau mencela dirimu sendiri.

 

3 dari 5 halaman

Jika Kejadian Tak Persis Sama dengan Kenyataan

Lalu, jika orang bercerita peristiwa yang kejadiannya tidak persis dengan kenyataan, jangan pernah dipotong. Terutama jika yang dibicarakan bukanlah hal prinsipil.

Beda halnya jika yang dibicarakan adalah persoalan agama. Maka dibolehkan untuk memotong omongannya dengan niat meluruskan.

Apalagi jika yang dibicarakan adalah kabar bohong. Kita dibolehkan memotong omongannya dan mengingatkan agar tidak menyebarkan lagi berita bohong itu kepada orang lain.

Sumber: NU Online

4 dari 5 halaman

Kebiasaan Rasulullah Usai Makan: Tak Langsung Minum

Dream - Minum usai makan sudah jadi aktivitas yang tak terpisahkan. Apapun jenis minumannya, mulai air mineral, teh, maupun minuman lainnya, kita akan langsung menengguknya sehabis makak.

Tetapi, hal tersebut rupanya tidak dianjurkan baik dalam ajaran Islam maupun dunia medis. Malah dapat berdampak buruk pada kesehatan.

Dikutip dari Bincang Syariah, ternyata banyak ulama yang membahas mengenai kebiasaan ini. Salah satunya adalah Habib Muhammad Luthfi bin Yahya asal Pekalongan, Jawa Tengah.

Di setiap ceramahnya, Habib Luthfi selalu mengingatkan tentang pentingnya menjaga kesehatan dari pola makan. Salah satu caranya yaitu dengan tidak langsung minum begitu selesai makan.

Dianjurkan untuk menunggu dulu selama 30 menit baru minum. Ini agar makanan diproses dulu dalam perut.

 

5 dari 5 halaman

Kata Ulama Dahulu

Kebiasaan ini rupanya dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Beberapa ulama yang menjelaskan sunah ini antara lain Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin.

" Dan hendaknya tidak banyak minum ketika makan kecuali untuk melancarkan jalannya makanan yang tersendat atau haus, ada yang mengatakan hal seperti ini dianjurkan dalam ilmu kedokteran."

Ibnu Muflih berpendapat senada. Dia menuangkan pendapatnya mengenai sunah tidak langsung minum usai makan dalam kitabnya Al Adab Al Syar'iyyah.

" Buah yang dicerna di dalam perut akan rusak sebab air yang mencampurinya. Sebagian ahli kedokteran mengatakan bahwa menahan haus setelah makan buah-buahan adalah sebaik-baik obat."

Demikian halnya dengan Ibn Al Qayyim Al Jauziyah. Dia membahas hal ini dalam kitabnya At Thibb An Nabawiy.

" Dan minum setelah makan bukan merupakan petunjuk Nabi SAW, air tersebut dapat merusak makanan terutama jika airnya panas atau dingin, sungguh sangat buruk."

Dilihat dari sudut pandang medis, para dokter menjelaskan konsumsi air setelah makan dapat membuat enzim pencernaan dalam perut jadi lebih encer. Sehingga, makanan tidak dapat tercerna dengan baik.

Karena tidak tercerna dengan baik, glukosa dalam makanan dapat berubah menjadi lemak dan memicu kadar insulin. Kondisi ini memicu meningkatnya kadar gula darah.

Sumber: Bincang Syariah

Beri Komentar
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara