Tuntunan Ibadah Bagi Wanita Istihadah

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 23 Oktober 2018 09:01
Tuntunan Ibadah Bagi Wanita Istihadah
Istihadah adalah kondisi saat wanita mengeluarkan darah dari kemaluannya karena penyakit tertentu, bukan karena haid atau nifas.

Dream - Wanita mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk tidak melakukan ibadah apapun ketika sedang mengalami masa haid serta nifas. Dua hal ini hanya terjadi pada wanita.

Haid dan nifas yaitu keluarnya darah dari lubang kemaluan wanita. Darah haid keluar secara teratur setiap sebulan sekali, sementara darah nifas keluar setelah wanita melahirkan anak.

Tetapi, ada satu kondisi darah keluar dari kemaluan wanita bukan karena haid ataupun nifas. Kondisi tersebut adalah istihadah, yaitu keluarnya darah karena mengalami penyakit tertentu.

Karena istihadah tidak tergolong sebab wanita mendapatkan rukhshah, bagaimana cara wanita melaksanakan ibadah?

Dikutip dari Harakah Islamiyah, seorang wanita yang sedang istihadah tetap wajib melaksanakan ibadah fardu seperti sholat lima waktu, puasa Ramadan, dan lain sebagainya. Mereka juga tetap dianjurkan untuk melaksanakan ibadah sunah seperti membaca Alquran.

1 dari 3 halaman

Ini Tata Caranya

Tetapi, ada beberapa ketentuan yang patut diperhatikan. Hal ini seperti dijelaskan oleh Sayyid Al Bakri dalam kitabnya I'anatut Thalibin.

Dalam kitab tersebut, Sayyid Al Bakri mengingatkan wanita dalam kondisi istihadah sama dengan sedang mengalami hadas terus menerus atau daimul hadas.

Saat hendak sholat, wudhunya dianjurkan dilakukan sesaat sebelum sholat. Tetapi, sebelum wudhu harus membersihkan area kewanitaannya lebih dulu dan menutupnya dengan kain atas kapas. Setelah wudu, dia harus segera melaksanakan sholat.

Ketika wudhu, wanita istihadah harus meniatkan wudhunya agar dibolehkan sholat (istibahah al sholat) dan bukan untuk menghilangkan hadas. Wudhu tersebut berlaku untuk satu kali sholat fardhu dan beberapa kali sholat sunah.

Selengkapnya...

2 dari 3 halaman

Wanita Haid Dibolehkan Masuk Masjid?

Dream - Sudah menjadi pemahaman bersama, masjid terlarang dimasuki oleh orang yang dalam keadaan janabah. Salah satunya yaitu wanita haid.

Tetapi, ternyata ada sebagian masyarakat yang menganggap wanita haid boleh masuk masjid di saat tertentu. Misalnya, saat pada sebuah acara yang ternyata mengharuskan masuk ke dalam masjid.

Lantas bagaimana pandangan ini dilihat dari kaidah syariat?

Menurut Ustaz Ahmad Sarwat, sebagaimana dikutip laman Rumah Fiqih Indonesia, ulama membolehkan wanita haid masuk masjid, namun jika hanya melintas. Artinya, tidak berlama-lama atau sampai duduk-duduk di dalam masjid.

Hal ini seperti disebutkan dalam Surat An Nisa ayat 43.

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi."

Kata 'berlalu' dalam ayat di atas dimaknai sebagai bentuk keterpaksaan karena sebab tertentu. Sebagai misal, ada penghalang yang memaksa orang untuk memotong jalan dengan melintasi masjid.

Atau bisa karena wanita haid tersebut harus meletakkan sesuatu di dalam masjid. Begitu benda itu sudah diletakkan, maka dia diharuskan segera keluar masjid.

Meski ada kebolehan, tetap harus dipahami bahwa hal itu karena keterpaksaan. Kita tidak boleh memudah-mudahkan sesuatu yang hukumnya sudah ditetapkan.

Terkait kaidah dharurat, hal ini tetap tidak bisa dijadikan alasan. Kecuali jika terjadi bencana yang menjadikan masjid sebagai satu-satunya tempat menyelamatkan diri, maka barulah wanita haid dibolehkan masuk ke dalamnya.

Selengkapnya baca di sini...

3 dari 3 halaman

Wanita Haid Saat Ihram, Haruskah Mengulang?

Dream - Sudah jamak dipahami, wanita terlarang untuk sholat dan menyentuh Alquran ketika sedang haid. Dia harus menunggu sampai darah haidnya tidak keluar, lalu mandi besar dan kembali menjalankan ibadah.

Haid datang sebagai siklus bulanan. Gejala tubuh ini bisa sesuai jadwal, bisa pula maju maupun mundur dari jadwal.

Bagi wanita ihram baik haji maupun umroh, tentu haid menjadi masalah sendiri. Tetapi, hal ini bisa diatasi dengan meminum obat penunda haid dan para ulama kontemporer membolehkannya.

Lalu, bagaimana jika sudah minum obat, haid tetap terjadi saat sedang ihram?

Mengutip laman konsultasi syariah, perlu diketahui ihram merupakan niat untuk melakukan manasik baik haji maupun umroh. Lalu orang melakukan seluruh rangkaian haji atau umroh tersebut.

Terkait kasus di atas, Lajnah Daimah (Dewan Syariah di Arab Saudi) menyimpulkan dua solusi. Pertama, jika memungkinkan untuk kembali ke Mekah dan Madinah, wanita itu bisa pulang dulu.

Saat haid sudah berhenti, maka dia diharuskan mengulang lagi prosesi haji atau umrah. Kondisi ini hanya mungkin dilakukan bagi wanita yang tinggal di sekitar Mekah dan Madinah.

Solusi kedua, jika tidak memungkinkan seorang wanita kembali ke Mekah dan Madinah karena dia merupakan penduduk luar Arab Saudi, maka syarat suci dari haid menjadi gugur.

Wanita tersebut dapat menyelesaikan kegiatan haji dan umrohnya dengan masuk ke Masjidil Haram, melakukan thawaf dan sai dalam kaidah darurat. Tetapi, dia harus memastikan diri memakai pembalut agar darahnya tidak jatuh di lantai masjid.

Fatwa Lajnah Daimah ini tercantum dalam kitab Fatawa Islamiyah.

" Jika masalahnya seperti yang disebutkan, wanita mengalami haid sebelum thawaf, dan dia dalam kondisi ihram, sementara mahramnya harus segera melakukan safar, dan wanita ini tidak memiliki mahram dan tidak ada suaminya di Mekah maka gugur baginya syarat suci dari haid untuk masuk masjidil haram dan thawaf karena dharurat. Dia harus memakai pembalut, kemudian melakukan thawaf dan sai untuk umrah.

Kecuali jika memungkinkan baginya untuk melakukan safar dan kembali lagi ke Mekah bersama mahramnya atau suaminya, karena jaraknya dekat atau biaya safarnya murah, dia bisa safar dan segera kembali ketika darah haidnya telah berhenti, untuk melakukan thawaf umrah dalam kondisi suci. Karena Allah berfirman, (yang artinya), 'Allah menghendaki kemudakan untuk kalian dan tidak menghendaki kesulitan untuk kalian'."

Selengkapnya... (ism) 

Beri Komentar
Terima Kritik Pedas, Nada Zaqiyyah: Ternyata Adik Kelas Aku Sendiri