Kenapa Gen Alpha Sering Asbun? Dari Otak yang Masih Dibangun sampai Lontaran “Skibidi”
© Pexels.com/Gabby K
Reporter : Rizky Wahyu Permana
Mulut yang bergerak lebih cepat dari pikiran adalah ciri anak seusia itu di generasi mana pun.
DREAM.CO.ID - Seorang anak SD menyahut “sigma” di meja makan, lalu tertawa sendiri. Ditanya artinya, ia angkat bahu. Orang tuanya mengambil kesimpulan cepat: generasi ini asbun, asal bunyi. Kesimpulan itu setengah benar dan setengah terlalu gampang. Perilakunya nyata dan sebabnya berlapis. Tapi sebagian besar penyebabnya tidak khusus milik satu generasi.
Gen Alpha biasanya merujuk pada anak yang lahir sekitar 2010 sampai 2024. Mereka masih anak-anak dan remaja awal. Itu penting, karena pembicaraan soal asbun hampir selalu mulai dari usia.
screenwiseapp
Rem Otak yang Belum Terpasang Penuh
Bagian otak yang mengurus perencanaan, penilaian, dan kontrol impuls adalah korteks prefrontal. Bagian ini termasuk yang paling akhir matang, dan pematangannya baru selesai sekitar usia 25 tahun. Kemampuan menahan respons spontan, atau inhibisi, juga berkembang bertahap. Anak di akhir masa kanak-kanak sudah bisa menahan respons otomatis, tapi kemampuan itu terus berkembang sepanjang remaja.
Artinya, mulut yang bergerak lebih cepat dari pikiran adalah ciri anak seusia itu di generasi mana pun. Bedanya, generasi sebelumnya melakukannya di kelas dan di lapangan, sementara Gen Alpha melakukannya juga di kolom komentar, obrolan game, dan video yang bisa disimpan siapa saja. Dari sudut pandang orang dewasa, asbun anak sekarang lebih terdengar dan lebih lama tinggal.
Lingkungan yang Memberi Hadiah untuk Reaksi Cepat
Dunia digital Gen Alpha serba cepat. Ada tinjauan naratif tahun 2025 yang menelaah studi sejak 2019. Tinjauan itu menemukan kaitan antara penggunaan video pendek berfrekuensi tinggi dengan kontrol inhibisi yang lebih rendah, memori kerja yang terganggu, dan prestasi akademik yang lebih rendah. Temuan ini perlu dibaca hati-hati.
Kritikus menilai banyak studi di bidang ini bersampel kecil, berdesain korelasional, dan tanpa kelompok kontrol. Jadi yang terbukti baru kaitannya, belum bahwa video pendek menyebabkan anak asbun. Bisa juga anak yang memang lebih impulsif cenderung lebih betah menonton video pendek.
Ada satu hal yang bisa dikatakan dengan lebih yakin. Lingkungan yang menghargai respons instan memberi sedikit ruang untuk jeda. Anak yang bicara cepat dan lantang dapat tawa atau tayangan ulang, sedangkan anak yang diam berpikir tidak mendapat apa-apa. Latihan berpikir dulu baru bicara jadi lebih jarang terjadi secara alami.
Bahasa yang Memang Tidak Perlu Bermakna
Sebagian yang terdengar asbun sebenarnya tidak berniat bermakna. Kosakata seperti “skibidi”, “sigma”, atau “6 7” sengaja dipakai tanpa arti jelas. Oxford University Press memilih “brain rot” sebagai Word of the Year 2024, dengan definisi hilangnya kecerdasan atau kemampuan berpikir kritis akibat mengonsumsi konten yang tidak menantang.
Seorang siswa 12 tahun di Hong Kong, dalam laporan South China Morning Post, mengaku tidak benar-benar tahu arti “skibidi” dan memakainya karena seru. “Sigma” sendiri awalnya istilah dari komunitas manosphere untuk arketipe lelaki penyendiri, lalu di kalangan Gen Alpha berarti kira-kira “keren”.
Fungsinya sosial, bukan informatif. Analisis di Campaign menyebut bahwa pada usia ketika berpikir abstrak dan reflektif masih berkembang, pengulangan kata dan gerakan menjadi alat paling sederhana untuk terhubung dengan teman.
Ada juga unsur kelompok eksklusif. Bahasa yang tidak dimengerti orang dewasa menciptakan klub khusus anak yang sulit dimasuki orang tua. Istilah “brain rot” sendiri dipakai anak-anak dengan sadar diri. Ia bukan diagnosis medis, dan anak yang bilang punya “brain rot” tidak berarti otaknya benar-benar membusuk.
Jadi ada dua jenis asbun yang berbeda. Yang pertama impulsif sungguhan, seperti mengomentari fisik teman atau menjawab guru tanpa pikir. Yang kedua permainan bahasa yang disengaja, seperti melontarkan “skibidi” untuk tertawa bersama. Orang dewasa sering mencampur keduanya.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?
Memberi label “asbun” kepada anak jarang berhasil, karena bagi mereka itu pujian dalam lingkaran pertemanan sendiri. Pendekatan lain yang sering disarankan panduan untuk orang tua adalah meminta anak menjelaskan “lore” di balik lelucon itu tanpa menghakimi, sehingga mereka lebih mau mendengar ketika giliran orang tua bicara soal batas.
Pemakaian pewaktu untuk video pendek juga sering dianjurkan. Tidak ada bukti kuat bahwa itu memperbaiki kontrol diri, tapi mengurangi jam di aliran video pendek jelas memberi ruang untuk aktivitas lain, termasuk ngobrol panjang dengan keluarga.
Satu cermin juga perlu dipegang orang dewasa. Slang remaja membingungkan orang tua sejak lama. Pada 1992, Los Angeles Times memuat daftar untuk menjelaskan bahasa gaul remaja kepada orang tua dan guru Generasi X yang kebingungan. Dan siapa pun yang pernah membaca kolom komentar media sosial tahu asbun tidak berhenti di usia 15.
Gen Alpha tidak lebih bodoh atau lebih sembrono dari generasi sebelumnya. Mereka anak-anak dengan otak yang masih dibangun, dalam lingkungan yang menghargai kecepatan, dengan bahasa yang diciptakan untuk dimiliki bersama. Tugas orang dewasa adalah memberi mereka ruang berlatih jeda, bukan sekadar menertawakan atau mengeluhkan celotehnya.