Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Listriknya Bersumber Dari Batubara, Mobil Listrik Masih Ramah Lingkungan, Nggak, Ya? (Foto: Shutterstock)
Dream – Pemerintah Indonesia mendorong pengembangan kendaraan listrik, termasuk mobil. Langkah ini bertujuan untuk menekan emisi gas buang dan penurunan konsumsi bahan bakar.
Namun, listrik yang digunakan masih berasal dari pembangkit listrik yang berfokus pada penggunaan batubara.
Apakah kendaraan listrik sebetulnya ramah lingkungan?
Dikutip dari Liputan6.com, Jumat 1 Februari 2019, hasil studi dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), menunjukan penggunaan mobil listrik di Indonesia tidak bakal berdampak besar.
Senior Research Fellow The Institute of Energy Economics Japan (IEEJ), Ichiro Kutani, mengatakan pembangkit listrik di Indonesia masih fokus kepada penggunaan batubara. Kutani mengatakan penggunaan batubara masih menjadi masalah serius di Indonesia karena mengotori lingkungan.
“ Walaupun kendaraan listrik banyak diproduksi, itu tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap perbaikan lingkungan,” kata dia di Jakarta.
Kutani mengatakan, dilihat dari inisiasi pemerintah tentang energi baru terbarukan, semakin banyak kendaraan listrik yang diproduksi, akan meningkatkan energi hybrid. Situasi ini akan mendorong peningkatan dari pembuatan baterai yang dipasok ke kendaraan listrik.
“ Dampaknya, terhadap pengembangan energi terbarukan tidak terlalu signifikan,” kata dia.
Kalau dilihat dari dampak ekonomi, impor energi atau minyak akan turun.
Kutani melihat minat program mobil ramah lingkunganini harus memperhatikan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. Jika minat masyarakat terhadap kendaraan elektrik ini tinggi, otomatis itu akan merangsang industri investasi di Indonesia.
Namun dia mengingatkan program ini harus berjalan seiring dengan harga mobil atau motor listik yang murah bagi konsumen.
" Membuat energi terbarukan juga mahal, dan harga ini akan sulit untuk turun, masih akan tetap tinggi,” kata dia.
Untuk menekan harga pembuatan mobil yang cukup tinggi, Kutani menilai pemberian subsidi diperlukan. Subsidi ini bisa berdampak kepada dana yang digunakan untuk mengembangkan energi terbarukan dan menekan mahalnya harga mobil listrik untuk konsumen.
“ Supaya kendaraan listrik bisa dibeli masyarakat banyak, diperlukan subsidi yang besar," pungkasnya.
(Sumber: Liputan6.com/Arief Aszhari)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya