Anak Mainan iPad Milik Ibu, Tagihan Kartu Kredit Bengkak Jadi Rp25 Juta

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 4 Februari 2020 17:24
Anak Mainan iPad Milik Ibu, Tagihan Kartu Kredit Bengkak Jadi Rp25 Juta
Bagaimana ceritanya?

Dream - Bunda, berhati-hatilah memberikan gawai kepada anak-anak. Terutama jika gadgetnya terhubung dengan kartu kredit. Bisa-bisa tagihan kartu kredit membengkak seperti yang dialami wanita asal Inggris ini.

Dikutip dari Mirror, Selasa 4 Februari 2020, wanita bernama Katie Philllips kaget bukan main. Dia mendapati tagihan kartunya senilai 1.450 poundsterling (Rp25,85 juta). Tagihan ini berasal dari permainan Roblox.

Wanita asal 35 tahun ini mendapati ada 255 pembelian hingga 19,99 poundsterling (Rp356.401). Katie menerima e-mail tagihan dari Barclaycard dengan jumlah tagihan fantastis. Padahal, seharusnya tagihan kartunya senilai 0 rupiah.

“ Semula saya berpikir ada scam. Tapi, saat melihat riwayat transaksi dari Apple, saya terkejut,” kata dia.

Katie langsung menelepon ibunya dan meminta untuk berbicara kepada sang anak. Ketika ditanya, sang anak hanya menjawab membeli beberapa barang dari Roblox.

“ Saya sedih dan menangis. Terkejut, kecewa, dan tersakiti. Susah marah kepada anak karena dia tak tahu apa yang telah dilakukan,” kata dia.

Saat dinasihati, sang anak meminta maaf, bahkan mulai menangis. “ Tapi, dia tak tahu berapa banyak dihabiskan,” kata Katie.

1 dari 5 halaman

Teledor?

Katie dan suami, Matty Phillips, membelikan iPad kepada sang anak untuk bermain Roblox. Lagipula, gadget itu adalah permintaan sang anak.

Pasangan suami istri ini membuat iPad terkunci dan membuatnya lebih ramah anak. Sayangnya, Katie memasukkan rincian kartunya untuk membeli permainan senilai 10 poundsterling (Rp178.290) untuk sang putri. Tentu saja pembeliannya dilindungi dengan kata sandi.

Namun, itu tidak menghentikan sang putri untuk mengutak-atik ponsel. Kata kuncinya pun diganti dengan sidik jarinya sendiri.

Kini, pasangan ini mencoba agar uangnya kembali meskipun peluangnya kecil. Hal ini disebabkan oleh transaksi itu bukanlah scam.

Katie dan Matty mengingatkan orang tua untuk tidak ceroboh dalam memberikan gawai kepada anak-anaknya. Mereka bisa menggunakan gadget tanpa sepengetahuan orang tua.

“ Saya pikir sudah hati-hati, ternyata masih ceroboh. Anak-anak ini cerdas dan kamu harus lebih cerdas lagi,” kata dia.

Sebagai hukuman, iPad disita. Katie juga melarang anaknya untuk membeli apa pun dari iTunes.

2 dari 5 halaman

Uangnya Bisa Kembali?

Juru bicara Barclaycard angkat bicara. Perusahaan ini meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh Katie. Sayangnya, transaksi tersebut diotoritasi dengan ID Apple.

“ Oleh karena itu, kami tidak bisa memberikan pengembalian uang,” kata dia.

Penerbit kartu ini berempati dengan situasi yang dialami oleh Katie. Maka dari itu, mereka tidak membebankan bunga untuk setiap transaksi.

“ Apple memiliki serangkaian fitur untuk membantu orang tua mengontrol pengeluaran pada perangkat mereka, seperti mematikan pembelian dalam aplikasi. Kami mendorong semua pelanggan untuk memanfaatkannya,” kata dia.

3 dari 5 halaman

Teganya! Tabungan dan Kartu Kredit Orang Sakit Mental Suka Dibobol

Dream – Orang-orang dengan masalah kesehatan mental cenderung berisiko jadi korban penyalahgunaan keuangan. Sebab, mereka tak keberatan jika tabungannya “ diobrak-abrik”.

Dikutip dari Mirror, Rabu 17 Juli 2019, dua perlima orang dengan kesehatan mental membiarkan orang lain menggunakan kartu kredit atau debit mereka. Seperlima responden malah membiarkan kartu banknya dipakai setiap minggu.

Survei yang dilakukan oleh Money and Mental Health Policy Institute bersama pakar konsumen, Martin Lews, menunjukkan orang-orang ini berisiko menjadi korban penyalahgunaan keuangan, bahkan bisa menjadi korban kriminal.

 

 © Dream

 

Dari 12 ribu responden di Inggris, ditemukan 43 persen orang yang memiliki masalah mental membiarkan orang lain menggunakan kartu kredit atau kartu debit. Ada 19 persen responden malah membiarkan uangnya digunakan setiap minggu.

Lalu, ada 20 persen yang membiarkan mereka masuk ke mobile banking dan 15 persen responden mengizinkan orang-orang untuk mengakses mobile banking setiap minggu.

Survei ini juga menemukan bahwa ada 24 persen punya cara yang aman untuk memberikan orang lain mengakses rekening mereka.

4 dari 5 halaman

Dorong Bantuan Hukum Diperkuat

Money and Mental Health Policy Institute mendesak perdana menteri agar mereformasi kekuatan sistem pengacara. Dengan begini, bantuan hukum bisa menjadi dukungan dan penjaga bagi mereka yang mengalami kesehatan mental.

“ Ketika berjuang dengan kesehatan mental dan mendapatkan bantuan dari keluarga dan teman untuk mengelola keuangan, kamu bisa berdikari di atas keuangan kamu atau jatuh ke dalam utang,” kata Kepala Money and Mental Health Policy Institute, Helen Undy.

Undy mengatakan penderita sakit mental memerlukan bantuan hukum. Para penderita sakit mental ini tak memiliki sistem untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“ Orang ini berisiko terpapar penipuan dan penyalagunaan karena berbagi PIN dan kata sandi,” kata dia.

5 dari 5 halaman

Lebih Bahaya! Ini Muslihat Baru Pembobol Kartu Kredit

Dream – Peringatan bagi pemegang kartu kredit dan kartu ATM. Para pembobol disebutkan menemukan cara baru menggasak uang nasabah di mesin ATM. Mereka menggunakan alat yang bernama “ periskop probe” untuk merekam data kartu nasabah.

Dilansir dari Engadget, Kamis 15 September 2016, sebuah laporan dari Krebs on Security, menjelaskan alat ini ditemukan di dalam mesin ATM yang ada di Connecticut dan Pennsylvania Amerika Serikat, dua bulan ini.

Para pengguna ATM kemungkinan sulit menemukan alat ini karena tersimpan di dalam mesin penarik dana tersebut.

Satu hal yang ditekankan oleh Krebs, ATM yang mudah dibuka tutup, menjadi yang paling berisiko. Periskop ini dipasang di lubang masuk kartu ATM. Alat ini nantinya akan mencuri data yang ada di pita magnet kartu dan disimpan di dalam sebuah media. Dikatakan bahwa periskop probe ini bisa menyimpan 32 ribu nomor dan baterainya mampu bertahan selama 14 hari setiap kali pengisian baterai.

 

 © Dream

 

Krebs pun menyarankan masyarakat untuk menutupi tangan mereka ketika memencet tombol di mesin ATM. Setidaknya, itu bisa menekan risiko terjadinya skimming. Sebab, pencuri jarang menggunakan tombol palsu karena biayanya mahal.

Tak hanya itu, Krebs juga menyarankan masyarakat menghindari mesin ATM yang seperti itu dan meminta masyarakat bertransaksi di mesin ATM yang terpasang menyatu di dinding, seperti ATM yang ada di samping bank dan ATM yang ada di ruangan remang-remang.(Sah)

[crosslink_1]

Beri Komentar