Bisnis Emas Mandiri Syariah Tumbuh 21 Persen

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 15 Januari 2019 12:15
Bisnis Emas Mandiri Syariah Tumbuh 21 Persen
Nilainya mencapai Rp8,11 triliun per Desember 2018.

Dream – PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) menyebut bisnis emas diminati masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan bisnis emas yang tumbuh 21 persen.

“ Secara yoy omzet bisnis Emas Mandiri Syariah tumbuh sebesar 21% (yoy) dari Rp6,72 triliun per Desember 2017 menjadi Rp8,11 triliun per Desember 2018,” kata Corporate Secretary Mandiri Syariah, Ahmad Reza, di Jakarta, Selasa 15 Januari 2019.

Sekadar informasi, cicil emas merupakan salah satu alternatif investasi yang menguntungkan bagi masyarakat. Reza mengatakan harga emas cenderung naik dari tahun ke tahun dan cukup likuid. Tak hanya itu, emas mudah diperjualbelikan. Produk gadai emas dan cicil emas menyasar segmen ibu rumah tangga, karyawan dan masyarakat umum.

Selain itu, Mandiri Syariah menggelar program promosi Berkah Emas Tahap II yang berhadiah Grand Prize tujuh paket umrah. Program ini digelar serentak di tujuh Kantor Wilayah Mandiri Syariah yaitu Jakarta, Medan, Palembang, Bandung, Surabaya, Makassar dan Banjarmasin.

Selama tanggal 1 September-Desember 2018, Berkah Emas tahap II berhasil mengumpulkan 81.776 total poin. Poin tersebut berasal dari transaksi nasabah produk Gadai Emas minimal Rp1 juta atau produk Cicil Emas minimal Rp2 juta.

Group Head Pawning Mandiri Syariah, Mahendra Nusanto, menyampaikan program ini adalah program promosi untuk meningkatkan transaksi Cicil Emas dan Gadai Emas.

Selain program promo, Mandiri Syariah juga menggelar program edukasi perencanaan keuangan berbasis emas, program mengajar ke kampus dan sekolah, dan lainnya.

1 dari 2 halaman

Dua Pertiga Sukuk BI Diborong Mandiri Syariah

Dream – PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) menempatkan dana senilai Rp2 triliun dalam produk surat utang (Sukuk) Bank Indonesia. Dana tersebut lebih dari separuh dari nilai sukuk yang dikeluarkan bank sentral tersebut. 

Bank Indonesia (BI) diketahui menerbitkan sukuk senilai Rp 3,05 triliun dan telah dilelang ke publik. 

" Mandiri Syariah menyerap mayoritasnya atau dua pertiga dari total atau senilai Rp2 triliun dengan imbal hasil yang sudah ditentukan BI,” kata Direktur Finance Strategy and Treasury Mandiri Syariah, Ade Cahyo Nugroho, di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Jumat 28 Desember 2018.

Ade mengatakan tenor yang ditawarkan sukuk BI ini pendek, yaitu 1 minggu, 2 minggu, dan 3 bulan. Hal ini berbeda dengan pasar uang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang tenornya 6 bulan dan 9 bulan.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Mandiri Syariah di dalam mengelola likuiditas, utamanya dalam rangka strategi enhancement yield melalui penempatan Sukuk BI.

" Kami berharap dengan penempatan di Sukuk BI ini kami turut berperan dalam meramaikan pasar SBSN yang pada akhirnya berdampak pada pembangunan dalam negeri dan industri perbankan syariah Indonesia,” kata dia.

2 dari 2 halaman

Jadi Instrumen Pengelolaan Likuiditas

Ade mengatakan sukuk BI bisa digunakan sebagai instrumen pengelolaan likuiditas dengan potensi yield yang lebih tinggi daripada Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah (FASBIS) bertenor overnight.

Instrumen sukuk ini juga memenuhi prinsip syariah (akad musyarakah muntahiya bi tamlik) karena bukan based on paper, tetapi ada underlying-nya, yaitu SBSN.

Adanya Sukuk BI akan mengisi kekosongan instrumen Pasar Uang yang bertenor di bawah 1 tahun yaitu Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) yakni 9 dan 12 bulan, dan Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPNS) bertenor 6 dan 9 bulan.

Perbankan syariah juga bisa memanfaatkan Sukuk BI untuk diperdagangkan ke bank lain termasuk ke bank konvensional ketika kekurangan likuiditas. Dengan kata lain, sukuk BI lebih fleksibel untuk dipakai sebagai alat likuiditas perbankan syariah dibanding instrumen moneter SBIS.(Sah)

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik