Dato Sri Tahir: Bank Muamalat Ada Kesulitan, Kita Wajib Bantu

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 28 September 2018 18:30
Dato Sri Tahir: Bank Muamalat Ada Kesulitan, Kita Wajib Bantu
Miliarder ini membantah hendak menjadi investor Bank Muamalat.

Dream – PT Bank Muamalat Indonesia tengah membutuhkan suntikan modal di tengah laju industri keuangan syariah yang makin berkembang. Angin segar datang tatkala salah seorang hartawan Indonesia mengulurkan tangan untuk membantu. 

Pria itu bernama Dato Sri Tahir. Dengan kekayaan real time versi Forbes senilai US$8,6 miliar, Tahir dinobatkan sebagai orang terkaya ke-8 versi Indonesia's 50 Richest 2017 dari majalah yang sama. 

Kabar masuknya pebisnis yang berusia 66 tahun ke perintis bank syariah di Indonesia itu menghangat dalam beberapa hari terakhir. Masuknya nama Tahir menambah daftar para calon investor Bank Muamalat. Sebelumnya diketahui, putra mantan presiden BJ Habibie, Ilham Habibie, juga tertarik menjadi investor strategis bank syariah ini.

Jurnalis Dream, Arie Dwi Budiawati sempat mewawancarai tahir melalui sambungan telepon pada Kamis, 27 September 2018. Dari wawancara tersebut, pemilik bisnis Mayapada Group ini blak-blakan soal kabar dirinya yang tertarik berinvestasi di Bank Muamalat.

Dalam kesempatan tersebut, Tahir menegaskan, tidak ingin mengakuisisi Bank Muamalat. Pria yang bergabung dengan organisasi Filantropi yang dikembangkan Bill Gates ini menegaskan hanya ingin membantu Bank Muamalat melalui masa-masa sulitnya. 

Tahir dengan rendah hati mengaku tidak punya keahlian untuk mengelola bank syariah. Namun dia siap memberi bantuan, seperti uang tunai kepada bank ini agar masalah likuiditasnya bisa teratasi.

Selain uang tunai, bantuan apa lagi yang akan diberikan oleh Tahir kepada Bank Muamalat? Berikut kutipan wawancara lengkap dengan founder Mayapada Group, Dato Sri Tahir:

1 dari 1 halaman

Saya Hanya Ingin Membantu

Benarkah kabar Bapak akan mengakuisisi Bank Muamalat? 

Nggak benar.

Jadi, yang benar bagaimana?

Pak Ilham yang akan bentuk konsorsium. Saya belum jelas siapa saja. Mungkin tanyakan ke Pak Ilham.

Bisa dijelaskan bagaimana detailnya, Pak?

Kita ini tidak invest untuk Bank Muamalatnya. Jadi, (Bank) Muamalat itu Pak Ilham akan membuat konsorsium. Kita itu lebih banyak, saya pribadi, hanya membantu masa-masa sulit saja, begitu. Tapi tidak untuk akuisisi.

Kita sendiri ada Bank Mayapada. Jadi, nggak akuisisi lagi. Lagipula ini bank Islam. Itu bukan keahlian saya. Saya tidak qualified untuk bank Islam. Bank Islam itu harus di-running oleh orang yang mengerti tata kelolanya. Itu bank khusus.

Pandangan saya hanya seorang bankir. Kalau Bank Muamalat ada kesulitan, kita wajib membantu.

Tapi, saya ulang lagi, bukan memiliki, bukan akuisisi, ambil alih, bukan, bukan. Jadi, tidak ada rencana akuisisi/memiliki. Lebih banyak membantu.

Bantuan seperti yang akan diberikan ke Bank Muamalat?

Misalnya, cash di sana, untuk likuiditas, kita siap. Kita beri money market, kita siap. Ini dia punya poinnya.

Dia dimiliki orang yang mengerti bank Islam. Sebenarnya, saya tidak mengerti.

Jadi, lebih ke support, ya, Pak?

Betul. Iya. Kalau perlu likuiditas, kita bantu likuiditas, tempatkan sebagai deposito, kita siap. Ini bukan dianggap bank umum, tapi bank islam.

Kenapa Bank Muamalat saat ini kesulitan? Karena bank ini menyimpang. Yang pertama, direksi dulu-dulu kasih ke korporat. 

Nanti dicek, kredit yang macet siapa saja yang pinjam duit, mana saja yang tidak bayar. Ada mismanagement. Berbeda kalau kita akuisisi bank umum.

Apakah ini sinergi strateg? Kita bukan sinergi atau strategi. Kita ini hanya membantu.

Beri Komentar