Dinno Indiano, Tangan Dingin Pembangun BNI Syariah

Reporter : Ratih Wulan
Jumat, 26 Februari 2016 07:15
Dinno Indiano, Tangan Dingin Pembangun BNI Syariah
Jabatan sebagai Dirut BNI Syariah tak pernah dia minta. Dia juga tidak berharap bank itu besar dengan cepat, demi pertumbuhan yang berkualitas.

Dream - Nama Dinno Indiano tidak asing lagi di dunia perbankan Tanah Air. Pria kelahiran Bloomington, Indiana, Amerika Serikat (AS) ini memilih pulang ke tanah kelahiran orangtuanya dan meniti karir di sektor perbankan.

Dia sudah malang melintang di dunia industri perbankan Indonesia. Beragam prestasi ditorehkan saat mengendalikan sejumlah bank konvensional.

Tetapi, pada akhirnya dia mendapat semacam amanah untuk memegang tampuk kepemimpinan BNI Syariah. Lini bisnis syariah dari BNI 46 itu sebenarnya memiliki core bisnis yang terbilang baru bagi Dinno.

Itu bukan hal sulit bagi Dinno. Terbukti BNI Syariah menjadi bank syariah dengan jumlah aset terbesar keempat di Indonesia.

Meski tidak ada perbedaan yang cukup signifikan dia temukan saat menjabat sebagai Direktur Umum BNI, ada satu hal membuat Dinno merasa lebih nyaman. Salah satunya adalah kebiasaan salat berjamaah yang tidak mungkin ada di bank-bank konvensional.

Tidak hanya itu, Dinno merasa posisinya benar-benar merupakan amanah. Dia sama sekali tidak meminta jabatan. Tetapi, dia merasa Allah SWT memberinya amanah untuk menjalankan sistem keuangan syariah.

Jurnalis Dream, Ratih Wulan Pinandu sempat melakukan wawancara dengan Dinno. Berikut petikan wawancara tersebut.


Bagaimana perkembangan BNI Syariah saat ini?

Tiga tahun terakhir kita tumbuh di angka rata-rata 29 persen. Di mana 2015 kita masih bisa tumbuh di angka 18 persen. Itu pun masih rata-rata industri karena industri per tahun 2015 masih tumbuh di atas 10 persen. Alhamdulillah dari sisi pertumbuhan, bertahan di sisi kualitas karena kalau bank kan memang dilihat dari sisi kualitas pembiayaan. Sekarang ini kita di angka 2,6 persen.

Mudah-mudahan di 2016 ke depan kita masih bisa pertahankan angka yang sedemikian baik. Karena salah satunya juga untuk dua tahun berturut-turut kita dapat penghargaan Annual Report Award (ARA) yang diprakarsai regulator yaitu Departemen Keuangan, OJK dan Dirjen Pajak.

Keuangan Syariah nampaknya tengah menjadi favorit. Bagaimana pandangan Anda mengenai hal ini?

Itu pertanda yang baik, artinya begini di Indonesia kan muslim di atas 75 persen seharusnya keuangan syariah di Indonesia menjadi lebih besar atau lebih baik karena umat muslim di atas 75 persen. Ke depan berharap Indonesia dapat mengalahkan Malaysia.

Sekarang kalau menjadi favorit itu pertanda baik. Kenapa? Artinya diharapkan kalau semua konsen untuk meningkatkan perbankan syariah di Indonesia. Insya Allah kita bisa melampaui besarnya perbankan syariah di Malaysia.

Sebenarnya apa pemicu ketertarikan dunia untuk datang ke Indonesia?

Yang memicu lebih tertarik karena insan perbankan syariah sudah mendorong cukup lama ke pemerintah agar lebih diperhatikan. Alhamdulillah di masa pemerintahan Pak Jokowi ini, akhir tahun kemarin mulai digodok sehingga Pak Jokowi sendiri yang menyetujui untuk terbentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) dan Pak Jokowi sendiri yang menjadi Pemimpin Nasional KNKS.

Artinya apa? Memang butuh proses waktu yang cukup lama untuk membuat pemerintah benar-benar memperhatikan. Keuangan syariah di Indonesia baru 20 tahun, yang artinya bukan waktu yang cukup lama juga, karena bank konvensional sudah dari tahun 1940-an. BNI dari tahun 1946.

Tapi perkembangan yang harus dikhawatirkan adalah perkembangan menurun. Kurang lebih tiga tahun terakhir dari tahun 2013. Artinya, jangan sampai perkembangan menurun semakin memerkecil market share perbankan syariah di Indonesia.

Kekuatan besar apa yang dimiliki Indonesia?

Di Asia sebenarnya kan market besarnya ada di Indonesia. Kita memiliki 225 juta rakyat, kita memiliki ribuan pulau. Itu kan market ekonomi terbesar. Daratan atau kepulauan itu semua market.

Pertanyaannya, apakah semua itu sudah tersentuh perbankan syariah. Tidak! Padahal, itu market yang luar biasa kalau kita mau jadi tuan rumah di negara kita sendiri.

Kemudian, yang membedakan Indonesia dengan Malaysia itu apa?

Yang membedakan dengan Malaysia, karena keberpihakan pemerintah di sana sangat kuat. Jadi dana-dana pemerintah itu diparkir di perbankan syariah. Jadi, kita, bisa dikatakan tidak ada dana pemerintah yang diparkir di perbankan syariah. Yang ada adalah dana haji, bukan dana pemerintah tapi dana umat. Berbeda ya.

Nah, dengan adanya KNKS akan dimulai mungkin akan ada peraturan Perppu atau Kepres yang mengharuskan ada dana pemerintah yang diparkir di bank syariah. Jadi keberpihakan.

Kalau di Thailand pak?

Tidak terlampau besar, tapi di Asia itu berpikir market yang terbesar Indonesia. Bukan hanya market syariah tapi market bisnis terbesar.

 

1 dari 4 halaman

Minat yang Bertumbuh

Kalau dilihat dari angka 1-10, perbankan syariah ada di tingkat berapa?

Kondisi sekarang kalau angka 1 dianggap yang terburuk, mungkin kita paling-paling di angka 4 atau 5. Masih di bawah 5. Masih banyak yang harus kita lakukan walaupun secara produk dan people kita nggak kalah. Tapi untuk betul-betul menjadi setara banyak yang harus kita lakukan.

Kalau untuk produk, yang paling diminati apa?

Macam-macam, tergantung masing-masing spesialis bank juga. Kalau BNI Syariah paling banyak di griya atau perumahan. Karena kita menganggap itu produk yang paling banyak dibutuhkan masyarakat. Karena KPR kita khusus untuk rumah pertama. Kita bukan masuk rumah kedua, bukan ke apartemen. Benar-benar rumah pertama yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat yang sangat membutuhkan ini juga sangat menjaga kualitas. Namanya rumah pertama pasti dijaga terus biar nggak macet. Jadi, kita kurang lebih hampir 55 persen ada di konsumsi KPR.

Keuntungan lain menjadi nasabah BNI Syariah selain tanpa bunga, ada tidak?

Pertama, kita tidak melakukan riba dan kita tidak memberikan bunga. Yang ada semua bagi hasil. Insya Allah semua produk dan akad kita sesuai dengan kaidah syariah. Kita berusaha terus agar apa yang kita lakukan ini tidak menyimpang dari kaidah syariah.

Kita tidak mau menggunakan nama syariah hanya sekedar nama. Kita harapkan apa yang kita lakukan dari sisi pengelolaan bank sesuai syariah.

Jenis tabungan apa yang paling banyak diminati?

Sebetulnya tabungan biasa saja ada tabungan haji, tabungan umroh dan kita punya tabungan pelajar. Semua average.

 

2 dari 4 halaman

Tak Harus 50 Tahun

Apakah ada peluang bank syariah mengalahkan bank konvensional?

Kemungkinan pasti ada, tapi butuh waktu yang lama. Kalau konvensional 95 persen masih ada yang lima persen lagi. Jadi, saya optimis kalau di Indonesia harus kita mampu sejauh keberpihakan ada. Dan kita jangan ingin cepat besar karena akan menuai kerusakan dan kehancuran lebih cepat. Kita harus perlahan-lahan tapi pondasi stabil.

Prediksi berapa lama pak?

Tidak cukup 50 tahun.

Selain kurangnya keberpihakan pemerintah, apakah ada penyebab lain yang menghambat pertumbuhan keuangan syariah?

Penyebab lain, kita kan mayoritas muslim, tapi memang ada banyak PR yang harus dilakukan. Sosialisasi juga masih kurang.

Selain KNKS, apakah ada dukungan pemerintah lainnya?

Banyak, dari OJK ada banyak dukungan tapi dengan segala macam regulasi. Dengan banyak peraturan yang pro pada bank syariah. Tapi kembali pada kita, baru lima persen. Jadi PR-nya masih banyak.

Peluang Indonesia jadi pusat keuangan syariah?

Bisa, karena kita market terbesar. Kenapa tidak bisa? Pasti bisa. Di bidang infrastruktur kalau diberikan ke syariah, lalu e-commerce, itu luar biasa. Ini kita sangat mengupayakan menuju ke sana. Sudah mulai tapi memang masih kecil semua.

 

3 dari 4 halaman

Naik Peringkat

Apa target memimpin BNI Syariah ke depan?

Kita nomor empat. Yang di posisi pertama itu Bank Syariah Mandiri, kedua Muamalat dan ketiga ada BRI Syariah dari sisi aset. Nah, kita harapannya, setidaknya ada di nomor tiga. Bukan aset kok yang saya kejar tapi kualitas. Jadi, target kita ingin bank kita punya pondasi yang baik. Bukan sekedar besar tapi tidak sehat. Buat saya lebih baik ramping tapi sehat.

Jumlah nasabah hingga saat ini ada berapa?

Kurang lebih ada 1.200.000 nasabah semuanya.

Sebenarnya apa yang menjadi dasar kepercayaan masyarakat?

Mungkin karena kita menjalani semua proses dengan transparan. Kita juga menyampaikan kalau kita menjalankan sesuai kaidah syariah, membuat nasabah kita cukup percaya.

Kita semua sama, pasti ada spesialisasinya. Bank Muamalat dan BSM banyak di korporasi dan masing-masing punya keunggulan.

Setelah terkenal dengan griya, apakah ada rencana untuk ekspansi?

Saya tetap di griya karena saya anggap segmen yang relatif aman dan masih diperlukan masyarakat. Kita juga sudah mulai di mikro dan kita punya satu triliun di mikro. Kita juga sudah mulai masuk di komersial pembiayaan produktif. Kita tidak lepas dari situ tapi core kita tetap di consumer.

Kalau Kartu Kredit Hasanah bagaimana?

Kartu kredit kita baru dua persen dari bisnis kita, tapi akan tetap kita lakukan. Karena itu satu-satunya kartu kredit syariah di Indonesia. Kalau di lainnya bisa dikatakan belum sebesar kita. Jadi, artinya kita cukup serius untuk mempertahankan.

Perkembangan relatif bagus tapi saingan kita, ya, itu tadi, kartu kredit bank konvensional. Itu artinya tidak mudah melawan mereka.

Sejauh ini sudah berhasil menggaet berapa nasabah?

Kurang lebih 250.000 nasabah. Konsepnya tanpa bunga dan tidak ada cerita bunga berbunga, yang ada pasti hanya cicilan begitu.

4 dari 4 halaman

Jabatan yang Tidak Pernah Diminta

Menjabat sebagai direktur utama, apa pengalaman bapak selama di BNI Syariah?

Saya baru di bank syariah, saya 15 tahun di bank Niaga, 5 tahun di bank Danamon, lalu 5 tahun di Bank Pasawan. Dan sebelumnya saya di BNI induk. Saya baru 3,5 tahun di BNI Syariah.

Saya bisa merasakan, Allah luar biasa dalam melakukan segala hal untuk umat-Nya termasuk salah satunya saya. Mungkin saya sudah terlalu lama di bank konvensional dan sekarang diberi kesempatan di bank syariah. Saya dari dulu muslim, mungkin dengan kerja di bank syariah jadi lebih memberi kesempatan saya untuk beribadah. Di BNI Syariah, salat lima waktu sudah pasti. Pasti diingatkan karena selalu berjamaah.

Apakah ini kemudian menjadi pilihan karir Anda?

Bukan, saya memang diminta untuk jadi direktur utama BNI Syariah. Itu artinya rencana Allah, bukan rencana saya. Tapi saya bersyukur ini sesuai dengan yang saya harapkan.

Hal apa yang terus memotivasi Anda untuk bertahan membesarkan BNI Syariah?

Lingkungan di BNI Syariah ini sangat luar biasa. Saya punya karyawan 4.200 orang yang luar biasa semua. Kami di sini tidak ada sekat. Antara bawahan dan atasan bisa komunikasi anytime. Masing-masing bisa menghormati dan komunikasi sudah jalan. Kami sudah tahu tugas maaing-masing. Tiga tahun kerja sudah sangat solid.

Paling besar perbedaan dengan konvensional?

Saya tidak bisa bilang konvensional buruk dan syariah baik. Masing-masing punya kelebihan. Masing-masing punya suka duka, tapi secara religius lebih meningkat.

Pernah mengalami pertentangan batin?

Saya sangat easy going. Artinya saya bukan orang yang sangat fanatik. Saya ke bank syariah rencana Allah dan saya sendiri tidak pernah mengalami pertentangan batin. Tapi saya benar-benar didorong untuk masuk ke bank syariah.

Berjalan sejauh ini apakah tetap belum merasakan perbedaan?

Yang jelas, secara hati lebih tenang. Artinya pada saat di bank syariah, saya yakin semua langkah sudah sesuai dengan kaidah Islam. Jadi membuat saya lebih nyaman.

Harapan ke depan?

Saya sekarang sudah 55 tahun. Itu artinya tidak banyak lagi yang bisa saya lakukan karena sudah masuk masa pensiun. Sekali lagi satu putaran lagi bekerja dengan harapan msih bisa bekerja di BNI Syariah, bisa mengembangkan perbankan syariah di Indonesia.

Saya tetap ingin melihat kita bisa melewati angka lima persen. Ini cukup lama dari 20 tahun itu selalu di bawah lima persen. Kurang lebih 5-7 tahun terakhir kita mendekati lima persen, tapi hanya di angka 4,6-4,7 persen, tidak pernah melewati lima persen.

Beri Komentar