Dollar AS Sentuh Rp15.000, Harga BBM Takkan Naik!

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 6 September 2018 08:43
Dollar AS Sentuh Rp15.000, Harga BBM Takkan Naik!
Belakangan ini depresiasi rupiah menjadi sorotan tajam.

Dream – Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diantisipasi pemerintah dan Bank Indonesia dengan mengeluarkan berbagai paket kebijakan. Melemahnya mata uang nusantara itu memang membuat anggaran pemerintah terganggu.

Selain paket kebijakan fiskal, muncul usulan agar pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Selama ini Indonesia tercatat mengimpor BBM dalam jumlah cukup besar.

Tapi apakah langkah itu akan ditempuh pemerintah?

Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito menegaskan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini takkan membuat perusahaan memutuskan menaikkan harga BBM.

“ Harga BBM Pertamina masih tetap dan belum ada rencana penyesuaian harga,” kata Adiatma di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 6 September 2018.

Adiatma memastikan Pertamina selalu memantau kondisi nilai tukar rupiah. Hal ini bertujuan agar BUMN migas ini tetap bisa menjaga persediaan dan melayani kebutuhan BBM di masyarakat.

Pertamina juga akan selalu melaporkan setiap perubahan harga BBM kepada pemerintah. Ketentuan ini berkaitan dengan Peraturan Menteri ESDM No. 34 Tahun 2018 tentang perhitungan harga jual eceran BM.

" Pertamina patuh pada aturan Pemerintah bahwa setiap penyesuaian harga harus dilaporkan dahulu,” kata dia.

Dipertegas Kementerian ESDM

Penegasan takkan adanya kenaikan BBM juga dikeluarkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dari hasil eveluasinya, penerimaan negara di sub sektor minyak dan gas bumi (migas) menunjukkan capaian angka positif pada semester pertama 2018.

Kondisi ini menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk tetap mempertahankan harga jual BBM.

“ Pemerintah tidak merencanakan kenaikan harga BBM dalam waktu dekat,” kata Menteri ESDM, Ignasius Jonan. 

Menurut Jonan, penerimaan negara dari subsektor Migas pada semester pertama tahun 2018 lebih baik dari periode yang sama di tahun 2017. Bahkan dia melaporkan ada kelebihan sebesar US$1,89 miliar. 

“ Bahkan setelah dikurangi tambahan subsidi solar tahun ini, angkanya masih positif”, kata dia.

 

1 dari 3 halaman

Belanja Subsidi BBM Lebih Kecil dari Penerimaan Migas

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi menambahkan perolehan tersebut berasal dari lifting minyak dan gas bumi.

“ Untuk semester pertama 2018 angka penerimaan negara dari migas ini mencapai US$6,57 miliar, tahun lalu pada periode yang sama angkanya US$4,68 miliar. Nilainya naik US$1,89 miliar atau sekitar Rp 28 triliun," kata Agung. 

Di sisi lain, jelas Agung, subsidi BBM jenis solar yang digelontorkan pemerintah tahun ini ditambah Rp1.500 per liter, dari sebelumnya Rp500 di 2017 menjadi Rp2 ribu per liter di 2018. Realisasi penyaluran solar pada semester 1 tahun 2018 ini sebesar 7,2 juta kiloliter (KL) dan dikalikan tambahan subsidi Rp1.500, sehingga menjadi sekitar Rp10,8 triliun.

" Hasilnya, jauh lebih kecil dibandingkan peningkatan penerimaan negara yang kita punya di semester satu ini sebesar Rp28 triliun. Bahkan Rp28 triliun tersebut sudah bisa menutup beban tambahan subsidi sampai akhir tahun 2018, dimana kuota solar total mencapai 14,5 KL,” kata dia.

Agung optimis, tren neraca migas yang menunjukkan sinyal positif di semester pertama 2018 ini juga masih akan berlanjut di semester kedua 2018. Maka, wajar jika pemerintah memutuskan tidak akan menaikkan harga BBM, meskipun kurs rupiah terhadap dolar AS melemah.

2 dari 3 halaman

Rupiah `Korban` Turki dan Argentina?

Dream – Pasar keuangan Indonesia turut merasakan ketegangan dari aksi jual besar-besar pelaku pasar di pasar emerging market. Padahal, kondisi ekonomi Indonesia saat ini menguntungkan.

Ekonom DBS Group, Radhika Rao, mengatakan pertumbuhan keuangan Indonesia semester I 2018 sebesar 5,2 persen year on year (yoy). Inflasi consumer price index (CPI) pada Agustus 2018 turun jadi 3,2 persen. Angkanya pun masih berada di target inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5-4,5 persen.

“ Defisit transaksi berjalan fiskal masih sesuai dengan yang dianggarkan yaitu -2,1 persen dari PDB, dimana rasio utang pemerintah terhadap PDB rendah di 28,7 persen pada Desember 2017,” kata Rao dikutip dari keterangan tertulis DBS yang diterima Dream, Rabu 5 September 2018.

Terkait pelemahan rupiah, DBS menilai ada dua rintangan yang dihadapi Indonesia. Pertama, kebutuhan pembiayaan lebih tinggi. Kedua, kepemilikan asing yang cukup besar terhadap obligasi domestik, ditambah dengan utang korporasi dollar yang lebih tinggi.

“ Di dalam lingkungan dollar AS yang kuat, terlihat mata uang (yang) rentan terhadap kelemahan,” kata dia.

 

 

3 dari 3 halaman

Alternatif Solusi Buat Pemerintah

Rao mengatakan otoritas di Indonesia telah berusaha menekan penguatan dollar AS di pasar valuta asing dan pasar obligasi.

“ Di tengah penurunan yang lebih luas dalam mata uang regional, langkah-langkah intervensi membantu memperlancar downdraft , tetapi akan menjadi tantangan untuk memutar balik arah saat ini,” kata dia.

Skenario lain dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), lanjut Rao, kemungkinan takkan ditempuh menjelang Pemilihan Presiden 2019. Otoritas akan lebih banyak membuat kebijakan “ bertahan” dan melakukan tindakan administratif untuk menjaga nilai tukar dan defisit transaksi berjalan.

Langkah-langkah untuk memperlancar valas dan risiko suku bunga untuk korporasi juga telah diambil.

 

 Grafik pergerakan suku bunga.Grafik pergerakan suku bunga. © DBS Group/Bloomberg

 

“ Sampai sekarang, BI (Bank Indonesia) sudah mengurangi transaksi minimum dari hedging swap FX menjadi US$2 juta (Rp29,91 miliar) (sebelumnya US$10 juta (Rp149,57 miliar) dan berencana memperkenalkan OIS rates (overnight indexed swap),” kata dia.

Rao menyarankan otoritas untuk meningkatkan sentimen demi kestabilan kurs rupiah. Saat ini, obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sudah dijual dengan yield lebih dari 8 persen.

“ Secara bersamaan USD/IDR juga menembus Rp14.800,” kata dia.

Rao menilai pelemahan rupiah terhadap dollar AS sebagian besar dipicu aksi jual akibat faktor psikologis. Pelaku pasar cemas dengan kondisi yang menimpa Turki dan Argentina.

Kekhawatiran ini meluas ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Padahal, kondisi perekonomian dua negara ini sangat sedikit hubungannya dengan kondisi domestik.

“ Pada dasarnya, kami tidak berpikir sell off itu dibenarkan mengingat kurang hubungan yang jelas antara Indonesia dan Turki/Argentina. Namun, jeda untuk suku bunga acuan emerging market kemungkinan akan sulit dipahami dalam waktu dekat. Antara EM contagion, Fed hikes dan perang dagang, mungkin terbukti sulit bagi investor untuk mengambil risiko utang lokal pada saat ini,” kata dia.

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna