Hukum Bitcoin dalam Islam, Apakah Boleh Digunakan dalam Transaksi?

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Selasa, 25 Januari 2022 17:35
Hukum Bitcoin dalam Islam, Apakah Boleh Digunakan dalam Transaksi?
Bitcoin adalah salah satu jenis mata uang digital atau bagian dari kelompok harta virtual.

Dream – Di era modern ini, penggunaan mata uang digital atau yang disebut dengan cryptocurrency semakin populer. Mata uang digital yang digunakan pun ada berbagai macam yang salah satunya adalah bitcoin. Mungkin bagi sebagian masyarakat, apalagi sahabat Dream yang tidak pernah ketinggalan membahas tentang perekonomian, maka bitcoin bukan menjadi hal yang asing lagi.

Terciptanya bitcoin sendiri pun sudah cukup lama, yakni pada tahun 2009 atas ide dari seorang berkewarganegaraan Jepang, Satoshi Nakamoto. Penggunaan bitcoin ini dijamin keamanannya karena menggunakan kriptografi. Meski begitu, bitcoin berbeda dengan uang yang secara umum digunakan oleh masyarakat.

Di mana bitcoin tidak menampakkan bentuk fisiknya. Tetapi hanya berupa saldo yang telah disimpan dalam sebuah buku besar dan sifatnya transparan karena bisa dengan mudah diakses.

Meski begitu, hal yang masih dipertanyakan adalah tentang hukum bitcoin dalam Islam. Terutama bagi umat Islam yang saat ini mulai tertarik dengan penggunaan mata uang digital, namun masih ragu karena khawatir transaksi ini menyimpang dari syariat Islam.

Nah, untuk mengetahui pembahasannya secara lebih lengkap, berikut adalah penjelasan tentang hukum bitcoin dalam Islam yang telah dirangkum oleh Dream melalui berbagai sumber.

1 dari 2 halaman

Mengenal tentang Bitcoin

Mengenal tentang Bitcoin© Unsplash.com

Seperti dikutip dari Merdeka.com, bitcoin adalah bagian dari jenis mata uang digital atau cryptocurrency yang menggunakan kriptografi untuk bisa menjaga keamanannya. Sedangkan sistem bitcoin adalah kumpulan dari komputer atau disebut juga dengan istilah “ node” yang akan menjalankan kode bitcoin serta disimpan dalam blockchain.

Blockchain ini bisa diibaratkan seperti kumpulan dari blok, di mana pada setiap bloknya terdapat kumpulan transaksi. Nah, di dalam komputer-komputer yang menjalankan blockchain telah memiliki daftar blok, transaksi yang sama, dan memungkinkan untuk bisa melihat blok baru saat diisi dengan transaksi bitcoin. Dengan begitu, dalam transaksi ini pun selain bersifat transparan juga tergolong aman.

Keamanan dari sistem bitcoin ini ditunjukkan dari penggunaan kunci publik serta pribadi ketika menyimpan saldo token bitcoin. Di mana kunci tersebut terdiri dari kombinasi angka dan huruf yang panjang dan dihubungkan dengan algoritma enkripsi matematis.

Kunci inilah yang benar-benar dijaga dan hanya digunakan untuk mengotorisasi transmisi bitcoin. Bahkan kunci dari bitcoin tersebut tidaklah boleh sama dengan dompet bitcoin yang menjadi perangkat fisik atau pun digital dalam perdagangan bitcoin.

2 dari 2 halaman

Hukum Bitcoin dalam Islam

Hukum Bitcoin dalam Islam© Unsplash.com

Penggunaan bitcoin yang saat ini semakin marak telah menjadi perbincangan di berbagai forum diskusi. Terutama di kalangan umat Islam sendiri untuk membahas hukum bitcoin dalam Islam apakah diperbolehkan atau tidak. Seperti dikutip dari islam.nu.or.id, pembahasan tentang bitcoin ini adalah dalam Hasil Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur pada tanggal 10 hingga 11 Februari 2018 di Tuban.

Melalui hasil keputusan tersebut diketahui bahwa bitcoin sendiri adalah bagian dari kelompok harta virtual yang dalam penggunaannya sebagai alat transaksi maupun investasi diperbolehkan atau dalam artian hukum bitcoin dalam Islam adalah boleh. Sehingga dalam penggunaan bitcoin, maka berlaku juga untuk wajib zakat. Hal ini pun dijelaskan melalui pendapat ulama berikut ini:

واختلفالمتأخرونفىالورقةالمعروفةبالنوطفعندالشيخسالمبنسميروالحبيبعبداللهبنسميطأنهامنقبيلالديوننظراإلىماتضمنتهالورقةالمذكورةمنالنقودالمتعاملبهاوعندالشيخمحمدالأنبابىوالحبيبعبداللهبنأبىبكرأنهاكالفلوسالمضروبةوالتعاملبهاصحيحعندالكلوتجبزكاةماتضمنتهالأوراقمنالنقودعندالأولينزكاةعينوتجبزكاةالتجارةعندالآخرينفىأعيانهاإذاقصدبهاالتجارة

Artinya: Ulama kontemporer berbeda pendapat dalam hukum uang elektronik. Menurut Syekh Salim Samiir dan Habib Abdullah bin Smith, uang elektronik adalah serupa dengan duyun (hutang-piutang), dengan mencermati isi kandungannya berupa nuqud yang bisa digunakan untuk muamalah. Menurut Syekh Muhammad Al-Unbaby dan Habib Abdullah bin Abu bakar, ia serupa dengan fulus yang dicetak sehingga hukum bermuamalah dengannya adalah sah secara total. (Dengan demikian) wajib membayar zakat dengan harta yang tersimpan di dalam kartu tersebut-menurut ulama-ulama yang disebut pertama-dengan zakat ‘ain, dan wajib membayar zakat tijarah-menurut ulama yang disebut terakhir-sebab kondisinya ketika dipakai untuk perdagangan,” (Lihat At-Tarmasy, [Al-Mathba’ah Al-‘Amirah As-Syarafiyyah bi Mishra Al-Mahmiyyah; juz IV], halaman 29-30).

Saat ini penggunaan bitcoin tentu belum seumum seperti penggunaan uang kertas maupun logam yang biasa digunakan oleh masyarakat. Sehingga kondisinya sebagai alat transaksi pun masih tergolong berisiko. Oleh karena itu, orang-orang yang menggunakannya pun harus tetap bijak.

Tidak adanya regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah, hal ini bukan berarti menjadi penghalang dari aktivitas muamalah yang sah dalam Islam. Selama dalam pelaksanaannya tidak ada catatan yang memang dilarang dalam syariat Islam. Namun, jika suatu hari penggunaan mata uang digital atau pun bitcoin dilarang oleh pemerintah, maka masyarakat pun wajib untuk mentaatinya.

Kewajiban untuk taat dan patuh pada pemerintah yang adalah pemimpin pun telah dijelaskan berikut ini:

يجبامتثالأمرالإمامفيكلمالهفيهولايةكدفعزكاةالمالالظاهر،فإنلمتكنلهفيهولايةوهومنالحقوقالواجبةأوالمندوبةجازالدفعإليهوالاستقلالبصرفهفيمصارفه

Artinya: Wajib hukumnya mematuhi perintah pemimpin di dalam segala hal yang menjadi wilayah kuasanya, seperti membayar zakat mal zhahir. Namun, untuk hal yang di luar kewenangan kekuasaan pemerintah, seperti melaksanakan hak-hak wajib atau sunah, maka boleh ia melaksanakannya dan bebas untuk bertasharruf di dalam kepentingannya,” [Lihat Abdurrahman, [Bughyatul Mustarsyidin: Darul Fikr], halaman 91).

Beri Komentar