Hukum Dropship dalam Islam Bisa Haram dan Halal Tergantung Sistem yang Digunakan

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Jumat, 21 Januari 2022 17:13
Hukum Dropship dalam Islam Bisa Haram dan Halal Tergantung Sistem yang Digunakan
Dalam melakukan penjualan dengan cara dropship, ketahui terlebih dahulu sistem yang digunakan untuk menentukan halal dan haramnya.

Dream – Seiring dengan perkembangan zaman, kini segala aktivitas manusia turut mengalami perubahan, tidak terkecuali bidang ekonomi. Sistem jual-beli kini lebih banyak dilakukan secara online. Memesan barang yang diinginkan dan makanan yang disukai, sahabat Dream tidak perlu repot-repot pergi ke toko. Cukup memegang smartphone dan memesannya saja.

Tidak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya barang tersebut diantarkan oleh seorang kurir langsung ke depan rumahmu. Tak hanya itu saja, bahkan saat ini sistem jualan online yang dilakukan oleh sebagian besar orang pun sudah dilakukan dengan berbagai macam cara demi bisa mendapat keuntungan secara mudah dan simpel.

Sistem penjualan yang saat ini tengah marak di tengah masyarakat adalah dropship. Di mana dropship ini banyak diterapkan oleh para pemilik toko online yang menjajakan barang-barangnya hanya dengan mengandalkan smartphone dan media sosial.

Meski begitu, dari sisi Islam sendiri telah mengatur berbagai hal yang dilakukan manusia termasuk aktivitas ekonomi. Sehingga penting untuk diketahui apakah hukum dropship dalam Islam. Dengan begitu, umat Islam yang mencari rezeki dengan berdagang di era modern ini bisa menghasilkan rezeki dengan jalan yang halal dan tidak melanggar syariat Islam.

Untuk mengetahui lebih jelas terkait pembahasan hukum dropship dalam Islam, berikut sebagaimana telah dirangkum oleh Dream melalui berbagai sumber.

1 dari 3 halaman

Mengenal Sistem Dropship

Mengenal Sistem Dropship© Unsplash.com

Seperti dikutip dari rumaysho.com, sistem dropship atau dropshipping adalah suatu teknik manajemen rantai pasokan di mana reseller atau pihak pengecer tidak menyetok barang. Nantinya pihak produsen lah yang akan mengirimkan barang kepada pelanggannya.

Dalam hal ini, keuntungan bisa didapatkan melalui selisih harga antara harga grosir dan eceran. Tapia da juga pengecer atau reseller yang mendapatkan komisinya dengan kesepakatan dari penjualan yang nantinya akan dibayarkan secara langsung oleh pihak produsen kepada reseller.

Sistem dropship ini sekarang sedang populer, terutama di kalangan para penggiat bisnis online. Mereka sudah memiliki toko online dan barang-barang tersebut dipasarkan melalui katalog. Kemudian pembeli akan melakukan transaksi melalui online juga.

Nah, setelah melalui percakapan dan persetujuan melalui online, uang akan ditransfer dan pihak produsen akan mengirimkan barang pesanan tersebut pada pembeli. Sehingga dalam aktivitas transaksi dengan sistem dropship ini, reseller tidaklah memiliki stok atau persediaan barang di tempatnya. Tetapi barang tersebut ada pada supplier atau produsen.

2 dari 3 halaman

Hukum Dropship dalam Islam

Hukum Dropship dalam Islam© Unsplash.com

Setelah mengetahui bagaimana sistem dropship dijalankan, sahabat Dream pun juga perlu untuk mengetahui hukum dropship dalam Islam. Hal ini untuk mengetahui apakah sebenarnya sistem dropship boleh dilakukan atau tidak. Karena tentu berdampak juga pada hasilnya apakah halal atau haram.

Seperti dikutip dari islam.nu.or.id, sistem jualan dengan dropship masih terjadi perbedaan pendapat. Sebelum mengetahui bagaimana hukum dropship dalam Islam, akan dijelaskan terlebih dahulu sistem jual-beli dropship yang terbagi menjadi dua berikut ini:

Dropship dengan Barang yang Belum Ada Izin dari Supplier

Untuk dropship dengan barang yang belum ada izin dari supplier, maka penjual akan membuat akunnya sendiri. Di dalam akun tersebut adalah barang-barang yang dijual dan ditawarkan, tetapi posisi barang masih ada di pedagang aslinya. Dalam hal ini penjual hanya mencarikan barang tanpa adanya kesepakatan imbalan dengan penjual pertama.

Dengan sistem yang dijalankan seperti ini, para ulama memutuskan bahwa hukum dropship dalam Islam adalah haram. Namun dari madzhab Hanafi yang masih memperbolehkannya dengan syarat tahu ciri-ciri umum barang tersebut. Tidak hanya dari madzhab Hanafi saja, sebagian dari madzhab Syafi’i juga ada yang memperbolehkannya. Tetapi barang yang dijual pun juga ada persyaratannya, yakni bisa dikenali dengan mudah dan ciri khasnya tidak mudah berubah.

Hal yang membuat lemahnya hukum dropship dalam Islam sistem ini adalah tentang permasalahan izin yang tidak diperoleh dropshipper dari supplier. Selain itu, dari madzhab Malikiyyah, yakni Syekh Wahbah Zuhaily juga memperbolehkan sistem ini dengan penjelasannya yang disampaikan dalam Al-Fiqhu al-Islam wa Adillatuhu berikut ini:

ﻭاﻟﺴﻤﺴﺮﺓﺟﺎﺋﺰﺓ،ﻭاﻷﺟﺮاﻟﺬﻱﻳﺄﺧﺬﻩاﻟﺴﻤﺴﺎﺭﺣﻼﻝ؛ﻷﻧﻪﺃﺟﺮﻋﻠﻰﻋﻤﻞﻭﺟﻬﺪﻣﻌﻘﻮﻝ

Artinya: Jual beli makelaran adalah boleh. Dan upah yang diambil oleh makelar adalah halal karena ia didapat karena adanya amal dan jerih payah yang masuk akal.

3 dari 3 halaman

Hukum Dropship dalam Islam

Dropship dengan Barang yang Ada Izin dari Supplier

Sistem dropship dengan barang yang ada izin dari supplier ini adalah dengan pihak dropshipper yang minta izin pada supplier untuk turut menjualkan barangnya. Sehingga posisi pedagang adalah sebagai orang yang memiliki kuasa untuk menjualkan barang dan ia posisinya sama dengan reseller. Tetapi barang yang dijual belum ada pada pedagangnya.

Orang yang memiliki izin untuk menjualkan barang tersebut adalah bagian dari bai’u ainin ghaibah maushufatin bi al-yad, yakni jual-beli barang yang belum ada di tempatnya tapi bisa tahu ciri serta sifat dari barang tersebut. Dalam sistem dropship ini oleh madzhab Syafi’i dinyatakan bahwa hukum dropship dalam Islam adalah boleh. Berikut adalah penjelasan pendapatnya:

وقولهلمتشاهديؤخذمنهأنهإذاشوهدتولكنهاكانتوقتالعقدغائبةأنهيجوز

Artinya: Maksud dari pernyataan Abi Syujja’ “ belum pernah disaksikan”, difahami sebagai “ apabila barang yang dijual pernah disaksikan, hanya saja saat akad dilaksanakan barang tersebut masih ghaib (tidak ada)”, maka hukumnya adalah boleh.”

Meskipun hukumnya diperbolehkan, namun ada syarat yang ditetapkan. Di mana barang yang dijual tersebut pernah diketahui oleh pembeli, bisa dikenali, dan modelnya tidak mudah berubah. Kemudian dari akad yang dijalankan dari sistem dropship ini adalah menggunakan akad salam atau dengan sistem pemesanan yang pelaksanaannya diperbolehkan dalam Islam.

Beri Komentar