Hukum Islam Tentang Waris, Lengkap dalam KHI, Pasal dan Isinya

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Sabtu, 20 November 2021 16:01
Hukum Islam Tentang Waris, Lengkap dalam KHI, Pasal dan Isinya
Dalam pembagian warisan pun harus turut diperhatian syarat-syarat dan rukunnya.

Dream – Jika membicarakan tentang warisan, maka akan ada sangkut pautnya dengan wasiat. Secara umum wasiat ditinggalkan oleh orang yang sudah meninggal dunia untuk diberikan kepada ahli waris. Tentunya hal ini menjadi urusan yang sangat penting dalam suatu keluarga untuk dilakukan pembahasan secara serius.

Ada sebagian orang yang masih merasa tabu jika membicarakan tentang warisan ini, apalagi dalam kondisi orangtua masih hidup. Urusan warisan tergolong sangat sensitif. Padahal jika warisan tidak dipersiapkan secara baik, bisa saja hal ini justru menimbulkan masalah besar di antara keluarga, bahkan bisa menciptakan perpecahan dalam keluarga tersebut.

Oleh karena itu, keberadaan hukum Islam yang mengurusi tentang warisan memiliki peranan yang sangat penting untuk mengatur warisan sampai ke pembagian warisannya. Hukum islam tentang waris ada secara lengkap dalam Al-Quran, hadis, dan juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Untuk mengetahui secara lebih jelas hukum islam tentang waris ada secara lengkap dalam Kompilasi Hukum Islam, berikut sebagaimana telah dirangkum oleh Dream melalui berbagai sumber.

1 dari 3 halaman

Pengertian Hukum Waris Islam

Pengertian Hukum Waris Islam© Pixabay.com

Hukum waris Islam adalah aturan yang diciptakan untuk mengatur urusan perpindahan harta dari seseorang yang sudah meninggal dunia pada orang lain maupun keluarga yang dalam hal ini kerap disebut sebagai ahli waris.

Sedangkan hukum waris Islam dalam Kompilasi Hukum Islam adalah hukum yang berfungsi untuk mengatur tentang perpindahan hak kepemilikan harta dari peninggalan pewaris, dan menentukan siapa saja orang yang memiliki hak untuk menjadi penerima dan menjadi ahli waris, serta jumlah bagian dari setiap ahli waris.

Lalu, untuk jenis warisan yang nantinya dibagikan kepada para ahli waris ini bisa berupa harta yang bergerak, misalnya saja seperti logam mulia dan kendaraan. Sedangkan untuk harta yang tidak bergerak seperti tanah dan rumah.

Harta-harta tersebut bisa dibagikan kepada para ahli waris setelah nantinya sudah dikurangi dengan biaya untuk mengurus jenazah, melunasi utang, dan melaksanakan wasiat.

Pengaturan yang membahas waris ini pun sudah dijelaskan dalam Al-Quran, hadis, dan hukum islam tentang waris ada secara lengkap dalam Kompilasi Hukum Islam yang terdiri dari beberapa pasal secara rinci.

2 dari 3 halaman

Rukun dan Syarat Kewarisan

Rukun dan Syarat Kewarisan© Pixabay.com

Sebagaimana dikutip dalam buku Asas Hukum Islam karya Muhammad Daut Ali, penerimaan harta warisan dalam hukum waris Islam didasarkan pada asas ijbari yang artinya harta warisan berpindah secara sendiri menurut ketetapan Allah SWT tanpa digantungkan pada kehendak pewaris atau pun ahli waris.

Perlu Sahabat Dream garis bawahi, asas ijbari tersebut akan tercapai jika syarat dan rukun mewarisi sudah dipenuhi dan tidak terhalang mewarisi. Ada beberapa syarat yang sesuai dengan rukun dan ada juga yang sifatnya berdiri sendiri.

Syarat Pembagian Harta Warisan Menurut Ulama

Berikut adalah syarat pembagian harta warisan yang sudah disepakati oleh para ulama:

- Pewaris baik yang haqiqy maupun hukmy (misal: dianggap sudah meninggal) atau pun secara taqdiri.

- Ada ahli waris, yaitu mereka yang memiliki hak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan dari pewaris karena memiliki hubungan kerabat atau nasab, hubungan pernikahan, dan sebagainya.

- Harta warisan adalah segala benda atau pun kepemilikan yang sudah ditinggalkan oleh pewaris. Baik itu yang berupa uang maupun tanah.

Rukun Waris dalam Hukum Kewarisan Islam

Berikut adalah rukun waris dalam hukum kewarisan Islam yang perlu sahabat Dream ketahui:

Muwaris

Muwaris adalah orang yang telah diwarisi harta peninggalannya atau orang yang telah mewariskan hartanya. Perlu diketahui, bahwa syaratnya muwaris harus sudah benar-benar meninggal dunia. Nah, kematian seseorang ini terbagi lagi menjadi tiga berdasarkan para ulama yang terdiri dari mati haqiqy (mati sejati), mati hukmy (mati menurut putusan hakim atau yuridis), dan mati taqdiry (mati menurut dugaan).

Waris (ahli waris)

Waris adalah orang yang diketahui secara jelas memiliki hubungan kerabat, baik itu hubungan darah, hubungan pernikahan, atau sudah memerdekakan hamba sahaya. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa ketika muwaris meninggal dunia, saat itu ahli waris kondisinya masih hidup. Syarat lainnya adalah antara muwaris dan waris tidak memiliki halangan untuk saling mewarisi.

Al-Mauruts

Al-Mauruts adalah segala macam benda yang dijadikan sebagai warisan. Baik itu berupa harta atau pun hak yang masuk dalam kategori warisan.

3 dari 3 halaman

Kewarisan Menurut Kompilasi Hukum Islam

Kewarisan Menurut Kompilasi Hukum Islam© Freepik.com

Kompilasi Hukum Islam sendiri membahas tentang beberapa hukum di dalamnya yang salah satunya adalah perihal kewarisan. Hukum islam tentang waris ada secara lengkap dalam Kompilasi Hukum Islam. Berikut adalah beberapa hal tentang kewarisan yang diatur di dalamnya:

1. Ahli Waris

Hal ini terdapat dalam pasal 172 KHI, di mana ahli waris adalah orang beragama Islam yang ditunjukkan melalui kartu identitas atau KTP, pengakuan, kesaksian, bayi yang baru lahir atau anak yang belum dewasa, dan beragam menurut sang ayah atau pun lingkungannya.  

Lalu dalam pasal 173 KHI, orang yang terhalang untuk menjadi ahli waris jika ada keputusan hakim dengan kekuatan hukum yang tetap. Orang tersebut dihukum karena:

- disalahkan sudah membunuh atau mencoba melakukan pembunuhan atau menganiaya secara serius pada para pewaris.

- disalahkan karena memfitnah, di mana mengadukan bahwa pewaris sudah berbuat kejahatan dengan ancaman 5 tahun penjara atau hukum yang lebih berat lagi.

2. Kelompok Ahli Waris

Kelompok ahli waris ini dijelaskan dalam pasal 174 KHI yang terdiri dari orang yang memiliki hubungan darah dari golongan laki-laki dan perempuan. Kemudian orang yang memiliki hubungan perkawinan.

3. Besarnya Bagian

Hukum islam tentang waris ada secara lengkap dalam Kompilasi Hukum Islam yang membahas tentang besar bagian, yakni pada pasal 176 KHI. Di mana pasal ini membahas tentang pembagian warisan pada anak laki-laki dan perempuan.

Lalu dalam pasal 177 KHI membahas tentang bagian warisan yang didapat oleh ayah. Di mana ayah mendapatkan bagian sepertiga jika pewarisnya tidak meninggalkan anak. Tetapi jika ada anak, maka ayah akan mendapatkan bagian seperenam.

Kemudian di pasal 178 KHI membahas tentang bagian warisan ibu. Di mana ibu mendapatkan bagian seperenam jika ada anak atau dua saudara maupun lebih. Tetapi jika tidak ada anak atau dua orang saudara atau lebih, maka mendapatkan bagian sepertiga.

Selain itu, ibu akan mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil oleh janda atau pun duda jika bersama-sama dengan ayah. (mut)

Beri Komentar