Imbas Covid-19, Garuda Indonesia Cetak Rugi Rp10 Triliun

Reporter : Syahid Latif
Senin, 3 Agustus 2020 11:45
Imbas Covid-19, Garuda Indonesia Cetak Rugi Rp10 Triliun
Garuda Indonesia mencatat rugi bersih pada semester I-202 sebesar US$712,72 juta

Dream - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melaporkan kondisi keuangan perusahaan hingga paruh pertama 2020 mencatat rugi bersih hingga US$712,72 juta atau sekitar Rp10,48 triliun (kurs Rp14.704/US$). Kondisi ini berbanding terbalik dengan posisi semester I-2020 dimana perusahaan masih mencatat laba US$24,114 juta.

Penurunan kinerja maskapai pelat merah ini terutama disebabkan penurunan tajam pendapatan usaha perusahaan hingga lebih dari separuhnya atau sebesar 58,18 persen.

Dalam penyampaian laporan keuangan Garuda Indonesia semester I-2020 Tahun lalu perusahaan masih membukukan pendapatan usaha senilai US$2,19 miliar. Pada semester I-2010 ini, Garuda Indonesia hanya mencapatkan pemasukan US$917,28 juta.

Pendapatan Garuda ditunjang pertumbuhan pendapatan penerbangan tidak berjadwal sebesar 392,48%, dari periode sebelumnya sebesar US$ 4,37 juta menjadi US$ 21,54 juta.

 

1 dari 3 halaman

Adapun pendapatan penerbangan berjadwal tercatat sebesar US$ 750,25 juta. Garuda juga membukukan pendapatan lainnya sebesar US$ 145,47 juta.

Liabilitas Garuda pada semester I-2020 juga bertambah menjadi US$ 10,37 miliar dari sebelumnya US$ 3,73 milliar pada akhir 2019.

Meski mengalami penurunan tajam dari sisi pendapatan usaha, Garuda berhasil menekan beban usaha menjadi US$1,64 miliar atau 21,99 persen dibandingkan tahun lalu senilai US$2,11 miliar.

Total rugi bersih yang dihimpun Garuda Indonesia bertambah menjadi US$723,26 juta jika ikut memasukkan laporkan laba/rugi yang dapat diatribusikan kepada kepentingan non-pengendali sebesar US$10,53 juta.

 

2 dari 3 halaman

Siap-siap Liburan, Garuda Indonesia Tebar Diskon Hingga 40%© MEN

Dalam penjelasan Garuda kepada otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis, 30 Juli 2020 lalu, manajemen Garuda mengaku jika operasional dan kinerja keuangan perseroan terganggu oleh pandemik Covid-19.

Kebijakan penghentian atau pembatasan operasional diakui telah berdampak pada penghentian operasional sebagian bisnis perusahaan.

" Sebagai dampak pandemi COVID-19 dan sejalan dengan penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sampai dengan bulan Juni 2020, Perseroan mengalami penurunan kapasitas produksi baik itu untuk rute domestik maupun internasional," kata manajemen Garuda Indonesia kepada otoritas BEI dalam laporannya.

Penurunan produksi ini berpengaruh terhadap penurunan pada trafik yang diangkut oleh Perseroan baik untuk penumpang maupun kargo diangkut.

Untuk rute Internasional di region MEA (Middle East) dan Tiongkok sampai dengan saat ini masih diberlakukan penghentian total sampai pemberitahuan lebih lanjut. Sedangkan untuk rute internasional lainnya, Perseroan melakukan penyesuaian frekuensi dengan memperhatikan demand dan perkembangan kondisi di negara ataupun daerah tersebut.

 

3 dari 3 halaman

Untuk menjaga likuiditas perusahaan serta merespons dampak Covid-19, perusahaan telah melakukan upaya optimalisasi untuk menyelarakan pasokan dan permintaan pasar melalui sejumlah inisiatif.

Berbagai inisiatif yang dilakukan adalah melakukan negosiasi dengan lessor untuk penundaan pembayaran sewa pesawat (lease holiday), memperpanjang masa sewa pesawat untuk mengurangi biaya sewa per bulan, serta mengusahakan financing dari perbankan dalam dan luar ataupun pinjaman lainnya.

Garuda Indonesia juga melakukan upaya negosiasi kewajiban perseroan yang akan jatuh tempo dengan pihak ketiga, melakukan program efisiesi biaya dengan tetap memprioritas keselamatan dan keamanaan penerbangan dan pegawai serta layanan, dan diskusi intensif dengan Pemerintah selaku Pemegang Saham Perseroan guna memperoleh dukungan yang diperlukan Perseroan.

Beri Komentar