Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Jika dikatakan perempuan merupakan mesin pertumbuhan ekonomi, maka pernyataan tersebut tidak berlebihan. Pasalnya, perempuan kini telah mampu mengendalikan pemerintahan atau perusahaan.
Bahkan di rumah, perempuan memegang kendali yang cukup besar terhadap keuangan rumah tangga. Hampir 80% ibu rumah tangga menentukan keputusan pembelian barang atau jasa untuk keluarganya.
Dari data tersebut, maka perempuan lebih terhubung secara sosial dengan produk seperti pakaian hingga mobil. Mereka yang lebih mencari tahu mengenai brand suatu produk yang kemudian baru dijelaskan kepada pasangan mereka.
Berdasarkan situs MarketingProfs yang dikutip, Kamis, 11 September 2014, begini cara mendekati konsumen perempuan. Paling tidak ada 3 hal yang diharapkan perempuan terhadap suatu produk.
1. Perempuan ingin tahu manfaat suatu produk bukan fitur produk.
Dalam pemasaran, banyak brand yang tertinggal karena mereka lebih fokus menonjolkan fitur suatu produk, bukan manfaatnya.
Sebagai contoh dalam penjualan mesin cuci piring. Perusahaan menggembar-gemborkan teknologi yang digunakan mesin cuci piring tersebut. Padahal, pemasaran produk itu bisa lebih efektif ketika mereka menyatakan bahwa mesin cuci piring tersebut bisa membuat piring sangat bersih karena adanya jet semprot dari segala arah.
Pemilihan bahasa yang mudah dimengerti atau terbayang secara riil akan memberikan dampak yang sangat efektif untuk menjual produk kepada perempuan.
2. Perempuan Ingin Memiliki Keterikatan Emosional dengan Produk
Penelitian menunjukkan perempuan memiliki otak yang lebih sosial dibandingkan laki-laki. Dalam istilah praktis, implikasinya adalah jika seorang perempuan merasa dikecewakan suatu produk maka dia tidak akan membeli produk itu kembali.
Dalam pemasaran, hal kecil harus diperhatikan guna menghargai perasaan perempuan. Apalagi jika produk Anda memiliki kelebihan dengan produk pesaing.
Hubungan yang baik ini bisa dibangun melalui media sosial. Misalkan ada yang menyampaikan pernyataan positif terhadap produk Anda, maka Anda dapat merespon tanggapan tersebut.
Intinya, jika produk Anda ingin dihargai maka Anda harus menghargai konsumen perempuan ini.
3. Perempuan Sangat Peduli Merek
Contoh yang pernah terjadi dalam dunia pemasaran. Sebuah brand terkenal membuat produk dan memasarkannya secara besar-besaran. Sayangnya, produk ini ternyata tidak dapat digunakan secara baik untuk semua bentuk tubuh perempuan.
Namun, ternyata perempuan merupakan konsumen yang pemaaf terhadap brand terkenal. Mereka tetap mejadi konsumen setia terhadap produk yang tidak sempurna sekalipun, asal produk tersebut memiliki merek terkenal.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya