Batal Beli Arloji Rp65 Juta, Pria Ini Tak Bisa Olshop Selama 979 Tahun

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 23 Januari 2020 09:36
Batal Beli Arloji Rp65 Juta, Pria Ini Tak Bisa Olshop Selama 979 Tahun
Mengapa?

Dream - Belanja lewat platfom e-Commerce memang menyenangkan. pembeli bisa membatalkan barang yang sudah dibeli jika dianggap tak sesuai keinginan atau penawaran penjual. Namun hati-hati saat melakukannya di Tiongkok.

Pesan ini terutama ditujukan buat kamu yang sudah kecanduan belanja online atau teledor saat memilih barang yang hendak dibeli.

Pengalaman inilah yang dialami seorang pembeli arloji mahal di Tiongkok. Dia dilarang belanja di platform e-Commerce terkenal di negaranya hingga tahun 2999, selama 979 tahun.

Dikutip dari World of Buzz, Kamis 23 Januari 2020, cerita yang terdengar janggal ini dialami pembeli online bernama Zhu. Dia berasal dari Fujian, Tiongkok. Akunnya diblokir oleh e-commerce Taobao hingga 2999.

Penyebabnya, Zhu berbelanja arloji dan meminta pengembalian uang.

1 dari 6 halaman

Jam Tangan Puluhan Juta Rupiah

Zhu memutuskan membatalkan pembelian arloji karena harganya dianggap kemahalan. Dikatakan harga jam yang dibelinya mencapai 32.999 yuan atau sekitar Rp65,32 juta. Pembelian dilakukan pada 29 Desember 2019 pukul 08.48 waktu setempat.

Saat sudah masuk dalam keranjang belanja, Zhu baru menyadari telah membeli barang tanpa berpikir paanjang. Dia memang punya kebiasaan buruk, yaitu membeli barang tanpa hati-hati.

Kemudian, Zhu melakukan refund dalam waktu 1 menit. Permintaan ini membuat dirinya tak bisa berbelanja hingga 1 Januari 2999.

2 dari 6 halaman

Penyalahgunaan Akun?

Pembelian akun ini disebabkan oleh ada penyalahgunaan hak keanggotaan, seperti membeli barang, mengajukan pengembalian uang, sampai pengaduan. Hal ini dinilai telah melanggar hak hukum dan kepentingan orang lain.

Plus, menghalangi operasional perusahaan. Makanya, Taobao telah membatasi hak pembelian akun.

Namun, Zhu beralasan dirinya meminta pengembalian dana karena pembeli berhak atas pengembalian uang sebelum pembelian dikirimkan. Menurut dia, ketentuan ini tertulis dalam perjanjian Taobao.

“ Bahkan, abuku akan lama hilang sebelum mendapatkan kembali akunku,” kata dia.

3 dari 6 halaman

Hati-Hati! Kecanduan Belanja Online Bisa Bikin Gangguan Mental

Dream - Festival belanja online yang menebar promo dan diskon tak hanya membuat dompet jadi kosong. Jika sudah tak bisa dikendalikan, kebiasaan belanja online ternyata bisa membuat seseorang kecanduan dan mengidap gangguan mental.

Dikutip dari World of Buzz, Jumat 15 November 2019, pakar menyebut kecanduan belanja online sebagai buying shopping disorder (BSD). Istilah ini memang terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Tapi, istilah BSD sesuai dengan perkembangan teknologi.

Dikatakan ada 1 dari 20 orang yang bisa terserang BSD. “ Kondisi ini sudah terlalu lama tidak dikenali,” kata psikolog Hanover Medical School di Jerman, Muller.

Dari studi yang dilakukan kepada 122 pasien yang mencari pertolongan untuk menghentikan kecanduan belanja online ditemukan fakta ratusan pasien ini mengidap depresi dan tingkat kecemasan yang lebih tinggi.

 

 © Dream

 

Mereka beralasan maraknya toko online, aplikasi, dan layanan pengiriman barang telah memberikan “ rasa”. Kemajuan internet telah membuat orang semakin mudah berbelanja.

“ Maksud saya, lihatlah betapa gilanya pada hari-hari spesial, seperti 11.11 atau 11.12 di mana semua orang mengakses aplikasi kapan pun sepanjang hari dan membeli beberapa item sekaligus. Ini berarti anak yang lebih muda sekalipun menunjukkan tanda-tanda BSD,” kata dia.

Muller menegaskan bahwa BSD tidak bisa diklasifikasikan sebagain gangguan sendiri. Tapi dia termasuk ke dalam bagian yang disebut gangguan kontrol impulsif spesifik lainnya.

4 dari 6 halaman

Bisa Sebabkan Gangguan Pengendalian Diri dan Tertekan Karena Utang

Para peneliti menjelaskan BSD bisa membuat keinginan untuk membeli barang-barang dan puas saat menghabiskan uang. Tapi, ini juga bisa membuat gangguan dalam pengendalian diri, tekanan ekstrem, masalah kejiwaan lainnya, kesulitan hubungan, serta kekacauan fisik dan utang.

“ Kami berharap bahwa prevalensi belanja oline yang membuat kecanduan, akan mendorong penelitian di masa depan yang membahas karakterisitik fenomologis,fitur, dan konsep perawatan khusus,” kata Muller.

Sekadar informasi kajian ini dipublikasikan dalam jurnal Comprehensive Psychiatry.

5 dari 6 halaman

Stres Istri Belanja Online Rp601 Juta, Suami Nekat Mau Lompat dari Lantai 33

Dream - Pesta belanja online 11.11 telah berakhir. Sahabat Dream sudah mendapatkan barang incaran dan tak sabar menunggu paket itu datang? 

Pesta belanja online tak hanya dilakukan di Indonesia. Di China, pelaku e-Commerce juga menggoda warganya dengan menggelar pesta belanja 11.11 lewat event Single’s Day. Beragam promo membanjiri laman e-Commerce mulai flash sale, penjualan barang dengan harga sangat murah, sampai dengan gratis ongkos kirim.

Event pesta diskon ini bisa membuat banyak orang kalap. Tergiur dengan diskon atau promo yang ditawarkan, banyak orang yang membeli barang yang sebetulnya tak mereka butuhkan. Alhasil, pengeluaran bulanan menjadi membengkak.

Tak hanya kesehatan dompet, mental dan emosi pengguna juga akan terpengaruh. Terlebih lagi para suami.

 

 © Dream

 

Dikutip dari World of Buzz, Rabu 13 November 2019, seorang pria bernama Wang dari Luzhou, Sichuan, Tiongkok, sangat tertekan setelah mengetahui istrinya, Zhan, boros saat berbelanja di Single’s Day. Saking tertekannya, dia mengaku ingin bunuh diri.

Dilansir dari China Pres, polisi menerima laporan ada seseorang yang berniat lompat dari atap bangunan 33 lantai. Kejadian ini berlangsung pada 10 November 2019 sekitar jam 8 malam waktu setempat.

Polisi menyelamatkan sang pria dan menenangkannya. Terlihat Wang sangat emosional. Polisi mengembalikan pria itu kepada sang istri yang berjanji tidak akan boros berbelanja online.

6 dari 6 halaman

Belanja hingga Rp601 Juta

Belakangan, Wang diketahui stes berat karena istrinya memiliki utang yang besar selama promosi festival 11.11. Zhan membeli barang-barang mewah seperti tas, parfum, pakaian, dan lainnya senilai total 300 ribu yuan (Rp601,13 juta).

Pria ini memutuskan untuk mengakhiri hidup karena tak tahu cara melunasi utang ratusan juta itu.

Wang mengatakan kejadian itu bukan yang pertama kali. Istrinya memang dikenal gemar berbelanja. Namun kebiasaan itu semakin membuat usai istrinya melahirkan anak ketiga setahun yang lalu. 

Saat festival 11.11 tahun lalu, istrinya telah belanja senilai 200 ribu yuan (Rp400,75 juta). Zhan memang berjanji akan mengendalikan diri dalam berbelanja, tapi tahun ini keingannya dilanggar.

Wang mengatakan hanya menghasilkan beberapa ribu yuan per bulan dan menjadi tulang punggung keluarganya. Sementara itu, sang istri dulunya bekerja di perusahaan properti. Setelah menikah dan melahirkan, dia tinggal di rumah untuk mengurus anak-anaknya.

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna