Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kurs Rupiah Terperosok Dihantam Dolar AS (Sumber Foto: Antara.com)
Dream - Ekonom dan Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono menyarankan pemerintah harus mengambil kebijakan cepat untuk mengintervensi nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar AS.
Pada perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari data JISDOR Bank Indonesia masih belum beranjak dari level 14.000. Bukan menguat, rupiah malah terpeleset lagi.
Tony mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi beberapa hari terakhir harus segera diatas agar trauma Krisis Moneter tahun 1998 tak terulang.
Langkah yang bisa segera dilakukan, papar Tony, adalah Bank Indonesia (BI) harus segera suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin.
" Naikan suku bunga dan belum dilakukan," ujar Tony dalam acara diskusi bertajuk Rupiah Gonjang-ganjing, Apa yang Bisa Dilakukan di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu, 9 Mei 2018.
Menurut Tony, jika kenaikan 25 bass point itu belum terlihat bekerja efektif terhadap penguatan rupiah, kenaikan suku bunga 50 pasis poin harus jadi langkah lanjutan.

Melihat kurs rupiah yang terus melemah, Tony menilai pemicunya berasal dari laju ekspor Indonesia yang masih rendah.
" Kita punya kelemahan, ekspor kita itu surplusnya tipis, kalau kita bedah cadangan devisa, banyak hot money," kata dia.
Tak hanya Indonesia, laju dollar AS yang melaju terlalu kuat juga bisa berdampak negatif terhadap Amerika Serikat. Alasannya, para turis cenderung enggan untuk bepergian karena melihat nilai tukar mata uangnya yang terlalu kuat.
Alhasil, banyak wisatawan yang mungkin memilih untuk bepergian ke negara di luar AS seperti ke Eropa. (Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya