Cacat (3): Memburu Terang Saat Diburu Gelap

Reporter : Syahid Latif
Senin, 22 Juni 2015 21:09
Cacat (3): Memburu Terang Saat Diburu Gelap
Setiap hari, Isaac Lidsky terus digerus habisnya 'usia emas' nya. Pandangannya memudar sejak usia belia. Dia mengejar sukses sebelum habis kemampuannya melihat cahaya. Kisah sukses pengusaha buta.

Dream - Di suatu pagi, sebuah mobil melintas di jalanan yang masih dalam proses pengaspalan. Jalan itu membelah proyek perumahan kelas menengah yang sedang dibangun. Sang bos yang duduk di bangku belakang bertanya ke sang sopir. " Bagaimana bangunannya, menurut kamu?" tanya si Bos. " Keren Bos, sepadan dengan harga yang ditawarkan," jawab sang sopir.

Sang bos adalah Isaac Lidsky. Dia kini baru menginjak usia 36 tahun. Dulunya nama Lidsky cukup dikenal di kalangan pembuat drama televisi di Hollywood, Amerika Serikat. Salah satu serial drama komedi televisi yang dibintanginya, Saved by The Bell: The New Class. Sebuah sitcom yang sempat menghiasi televisi di Indonesia juga.

Namun siang itu Lidsky sedang menjenguk proyek property yang sahamnya dikuasainya. Kalau dia bertanya pada sang sopir, dia tak sedang mencari second opinion. Tapi dia memang dia minta jawaban jujur sang sopir. Sebab sejak beberapa tahun lalu, Lidsky tak bisa melihat dengan matanya sendiri. Sakit...yang dideritanya, membuat dia kini sudah buta total.

*****

Kehilangan penglihatan, tidak menyurutkan jiwa bisnis Lidsky. Isaac Lidsky dikenal sebagai pendiri perusahaan pengembang ODC Construction. Semua berawal dari sebuah kenekatan untuk mencoba. Lidsky meninggalkan gemerlap Hollywood untuk memulai studi di Harvard University sekitar 20 tahun lalu. Namun sejak tahun pertama kuliah, dia mulai merasakan ada yang berubah dengan kemampuan penglihatannya.

Layaknya sebuah lampu yang makin hari makin meredup, Lidsky mulai mengkhawatirkan masa depannya. Di tengah kuliah dia membuat organisasi Hope for Vision. Sebuah organisasi untuk saling membantu para penderita low vision (kemampuan penglihatan yang menurun).

Lidsky akhirnya berhasil meraih gelar sarjana hukum dari Harvard. Dia kemudian bekerja di Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) sambil mendirikan perusahaan dot.com. Sayangnya perusahaan itu tak cukup menjanjikan untuk menghidupi keluarganya.

Pandangan Lidsky makin memudar. Dia mencoba banting stir di awal 2011. Bersama teman-temannya dia mengakuisisi perusahaan pengembang yang nyaris gulung tikar dan mengubah namanya menjadi ODC Construction. Sayang usaha mereka terus meredup. Padahal semua uang mereka sudah dibenamkan ke usaha tersebut.

Ketika kondisi sudah hampir hancur, dan kemampuan dia melihat cahaya tinggal beberapa persen, sebuah uluran tangan dia terima. Dan itu dari ibu kandungnya. Di sebuah pagi, Lidsky membawa seluruh keluarganya dengan mobil kecil yang dimilikinya. Mereka membelah fajar menuju rumah ibunya di Florida Turnpike yang berjarak dua jam dari rumahnya.

Sesampai di Florida, sang Ibu Isaac telah menunggu. Sang Ibu memberinya sekarung tas besar. Semua simpanan milik ibunya diserahkan kepada Lidsky. Jumlahnya US$ 360 ribu (sekitar Rp 4 miliar) dalam pecahan US$ 100. Sang ibu lalu mengecup kening cucu-cucunya yang datang pagi itu. Kepada Lidsky sang Ibu hanya berpesan," Saya yakin kamu akan memperbaiki kondisi ini."

Kisah ini begitu membekas dalam bayangan Lidsky. Sebab dari momentum itu hidupnya berbalik 180 derajat. Meski penglihatannya memburuk dan hampir tak lagi bisa melihat cahaya, namun kehidupannya makin bersinar. Usaha property miliknya berkembang pesat. ODC Construction berjalan di jalur yang benar. Lebih dari 3.000 rumah dibangun. Uang US$ 65 juta (sekitar Rp 700 miliar) pun mengalir ke pundi-pundi perusahaan.

*****

Lidsky berhasil mengukirkan namanya sebagai salah satu orang sukses di usia yang masih belia. Di usia belasan dia sudah tampil sebagai pemeran tetap sebagai pelajar jenius namun kikuk dalam acara sitcom tersohor Saved by The Bell: The New Class, Barton " Weasel" Wyzell.

Pada tahun yang sama, dia dan dua kakak perempuannya mulai mengenal penyakit retinitis pigmentosa. Penyakit kebutaan langka turunan. Orang tuanya bahkan tak tahu menjadi pembawa dari penyakit yang hingga kini tak ada obat penyembuhnya.

Hati sang ayah, Carlos langsung hancur saat mengetahui dia mewariskan penyakit tersebut pada anaknya. Penglihatan Lidsky seperti lampu bohlam yang meredup. Secara perlahan tapi pasti menuju kebutaan.

Lidsky pun segera sadar untuk mengejar masa emasnya yang mungkin hanya tersisa beberapa tahun. Dia berkejaran dengan waktu sebelum buta menggelapkan masa depannya. Undangan menjadi mahasiswa Harvard University, sebuah perguruan tinggi kesohor di dunia dia dapat di usia 15 tahun.

Meski penglihatannya terus meredup, Lidsky meraih pekerjaan bergengsi di Harvard Law Review. Kala itu, saat pegawai lain membaca, Lidsky belajar lewat program komputer yang bisa mendiktekan deretan kalimat dari layar komputer. Di usia 20-an, Lidsky mendirikan organisasi nirlaba Hope for Vision yang menampung sumbangan jutaan dolar AS untuk penelitian penyakit kebutaan.

*****

Karir sebagai karyawan tentu ada batasnya. Apalagi untuk Lidsky yang punya keterbatasan dalam penglihatan. Dia merasakan hidupnya sedang di ujung kehancuran. Istrinya, Dorothy, baru saja melahirkan anak kembar tiga. Berat badan mereka sangat kecil. Selama 100 hari, 2 putri dan seorang putra Lidsky harus melalui unit perawatan intensif. Lidsky sendiri tak bisa lari dari pekerjaannya. Ditemani laptop setiap hari, Lidsky tak melewatkan satu haripun tanpa bekerja.

Pada 2011, Lidsky dan Zac Merriman, seorang teman dari sebuah klub di Harvard, muncul dengan ide radikal. Mereka berangan-angan membeli sebuah perusahaan bersama-sama. Dimana mereka bisa mengatur jam kerja sendiri, menjamin keamanan pekerjaan, sekaligus mengontrol nasibnya.

Mimpi terwujud. Di musim panas, keduanya bermitra untuk membeli kontraktor properti bernama Orlando Decorative Concrete. Lidsky membuat pertaruhan besar. Dia sama sekali tak memiliki pengalaman bidang konstruksi. Dia bahkan tak punya rumah. Namun Lidsky tak perduli. Dia tetap berjalan dengan mimpinya.

" Orang-orang tak bisa percaya. Teman-teman kita tak juga percaya," kata Lidsky.

Singkat kata, keputusan Lidsky tak salah. Meski harus mengorbankan karir cemerlang sebagai pengacara dan berutang uang kepada ibunya, perusahaan Lidsky tumbuh menjadi besar.

**********

Putri kembar tiga bernama Thaddeus, Phineas and Lily Louise kini sudah berusia 3 tahun,. Setiap hari mereka belajar lebih banyak tentang ayahnya.

" Mereka mengatakan, mata Ayah yang rusak," kata Dorothy. " Tapi ketika mereka mengatakan, Ayah, lihat ini, mereka menempatkan di tangannya, karena mereka tahu bahwa inilah cara ayahnya melihat segala hal."

Beri Komentar