Dulu Belajar di Toilet karena Miskin, Kini Kolektor Mobil Mewah

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 12 Juni 2020 07:14
Dulu Belajar di Toilet karena Miskin, Kini Kolektor Mobil Mewah
Dia bekerja keras untuk mengeluarkan keluarganya dari kemiskinan.

Dream – Kerja keras takkan mengkhianati hasil. Sudah banyak orang membuktikan kebenaran peribahasa itu, salah satunya Wayne Tan.

Melalui Facebook, Wayne menuliskan kisah hidupnya. Cerita itu dimulai dari sang ibu yang menemukan fotonya beberapa hari yang lalu.

Dalam foto itu, terlihat Wayne dan sang istri, Joan, berdiri di depan mobil tua mereka. Dia masih ingat mobil tua ini tak ada AC, bising, dan punya banyak lubang.

“ Meskipun ini mobil tua, kotor, dan kondisinya buruk, saya merasa sangat bersyukur bahwa itu adalah hadiah terbaik dari ayahku,” tulis Wayne, dikutip dari World of Buzz, Kamis 11 Juni 2020.

1 dari 5 halaman

Lahir dari Keluarga Miskin

Wayne terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya seorang operator traktor dan ibunya hanya ibu rumah tangga. Ayahnya harus mencari nafkah untuk memberi makan tujuh anggota keluarganya.

“ Sering kekurangan makanan, tapi saya tak berani bertanya karena tak mau orang tua sedih. Kadang-kadang saya mencari makanan dan bergumam seberapa banyak saya bisa makan sehingga orang tua juga bisa ikut makan,” tulis dia.

Saat itu, hidup sangat sulit. Kakak tertuanya memberi tahu Wayne bahwa jalan untuk mengeluarkan keluarga dari kemiskinan adalah belajar mati-matian.

“ Wayne kamu harus tekun belajar. Kamu bisa mengubah nasib keluarga kita dan dirimu sendiri,” Wayne mengenang nasihat sang kakak.

2 dari 5 halaman

Belajar di Toilet

Wayne pun mengikuti saran sang kakak. Dia belajar tekun. Sayangnya, kondisi rumahnya tak memadai untuk bisa tenang dalam menyerap semua pelajaran.

Sang ibu bekerja sebagai pengasuh anak, tentu saja banyak anak kecil di teras rumahnya dan membuat keributan. Wayne sempat menyerah dengan situasi itu. Tapi, dia bangkit kembali.

Dia memutuskan untuk belajar di toilet yang ada di dekat kamar orang tuanya. Jadi, badannya ada di kamar orang tua, dan kepala di toilet.

Buku-buku ajarnya dibeli dari toko loak dan beberapa lembar halamannya telah hilang. Wayne pun tak punya pilihan.

Syukurlah, hasil belajarnya berbuah manis. Nilainya memuaskan. Pada usia 24 tahun, Wayne mendapatkan beasiswa di University of Malaya untuk jurusan lingkungan, khususnya global warming.

3 dari 5 halaman

Ambil Kerja Paruh Waktu

Wayne memilih menjadi agen penjual sebagai pekerjaan paruh waktunya. Keputusan ini ditentang oleh keluarga dan temannya. Bahkan, temannya mengatakan sesuatu kepada pria ini.

“ Salesman tidak diizinkan. Kamu nggak bisa lihat tandanya di pintu?” kata dia.

Wayne tak patah arang meskipun mendapatkan banyak penolakan dan dikecewakan. Dia sempat mempertanyakan keputusannya.

“ Saya terlahir di keluarga miskin. Jadi, wajar dong jika ingin hidup lebih baik untuk mereka. Jangankan dukungan, mengapa orang-orang begitu kejam?” tulis Wayne.

4 dari 5 halaman

Sukses

Atasannya menyemangati Wayne. Dikatakan bahwa dia boleh terpukul, tapi tak selamanya berada di bawah. Pria ini kembali bersemangat dan mengingat kerja keras ayahnya untuk mengidupi keluarga Wayne.

Jalan kesuksesan memang tak mulus. Setelah delapan tahun, roda kehidupan berbalik. Wayne berhasil sukses.

“ Kehidupan sekarang jauh lebih baik daripada yang saya bayangkan. Saya berharap bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga, tapi tidak pernah terpikir bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih bagus,” tulis Wayne.

“ Tak masalah kamu terlahir miskin. Sepanjang punya semangat bertarung, semuanya bisa berubah dengan kerja keras,” tulisnya lagi. 

5 dari 5 halaman

Beri Komentar