Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ilustrasi
Dream - Perusahaan pangan dunia mengaku merasa dirugikan dengan tidak adanya keseragaman standar halal di seluruh dunia. Padahal mereka telah berencana menanamkan investasi mereka sebesar US$ 1 triliun untuk pasar halal.
" Tidak baik memiliki banyak standard yang berbeda, karena itu membingungkan, " ujar Kepala Eksekutif Halal Industry Development Corporation, sebuah lembaga pemerintah Malaysia, Jamil Bidin, seperti yang dikutip dari On Islam, Selasa 17 Juni 2014.
Selama beberapa tahun terakhir, rencana pembuatan standardisasi halal secara global sudah didengungkan. Hal itu guna meningkatkan sektor industri makanan halal.
Tidak adanya standar halal secara global membuat beban biaya produksi perusahaan makanan semakin tinggi. Ini karena perusahaan harus menyesuaikan standar halal di masing-masing negara. Perusahaan juga harus menghadapi dilema mengenai bahan-bahan yang boleh atau tidak digunakan di suatu negara.
Investasi dalam industri makanan halal diperkirakan tumbuh dari US$ 1 triliun pada tahun 2012 menjadi US$ 1,6 triliun tahun 2018. Perbedaan standar halal akan menghambat pertumbuhan industri ini.
Masalah standar ini terjadi pada beberapa waktu lalu, yaitu isu terkandungnya DNA babi pada coklat Cadbury. Namun, setelah itu Cadbury dinyatakan bebas babi oleh lembaga halal Malaysia.
" Kami berharap tidak ada pengulangan insiden semacam itu karena bisa merusak industri halal di Malaysia, khusunya," ujar Ketua Komite Halal Federasi Produsen Malaysia.
Untuk mengakhiri kebingungan dalam standard halal ini, 57 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), tengah membuat pedoman halal secara global.
" Eksportir berniat mengekspor makanan dan sertifikasi halal yang mereka dapat nanti berlaku untuk semua pasar," ujar Kepala Eksekutif DinarStandard Rafi-udding Shikoh.
Menghadapi ancaman di pasar Malaysia, perusahaan induk Cadbury, Mandelez juga mendukung penerbitan standard global untuk produk-poduk halal.
" Kami menyambut upaya konsistensi dalam sertifikasi halal dan mendukung standard halal global guna menyederhanakan aturan," ujar juru bicara perusahaan Mandelez.
Konsep halal artinya diizinkan secara agama Islam. Untuk makanan ternak, hewan ternak dipotong dengan pisau tajam di leher dan mengucapkan Bismillah. Sekarang konsep halal juga terdapat di pakaian, kosmetik, farmasi, dan jasa keuangan. (Ism)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya