Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi
Dream - Angan-angan abdi negara di ibukota mendapat gaji belasan bahkan puluhan juta rupiah tampaknya batal terwujud.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi mengatakan akan dilakukan koreksi dan penyempurnaan terhadap usulan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) yang diusulkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama.
Yuddy beralasan, Undang-undang Aparatur Sipil Negara (ASN) selama ini hanya mengenal tiga komponen penghasilan aparatur sipil negara (ASN). Ketiga hal ini adalah gaji, tunjangan kemahalan, dan tunjangan kinerja.
"Terhadap kebijakan yang diambil Gubernur DKI Jakarta ini, daerah lain agar mengerti," kata Yuddy seperti dikutip dari laman menpan, Jumat, 6 Maret 2015.
Menurut Yuddy, setiap daerah memang mempunyai tata kelola keuangan yang berbeda. "Hanya nomenklaturnya yang beda," kata Yuddy.
Seperti diketahui, penghasilan PNS Pemprov DKI semula diusulkan mengalami kenaikan. Bahkan kenaikannya tergolong drastis karena terjadi rata-rata kenaikan pendapatan hingga Rp20 juta.
Sebagai contoh, take home pay pejabat struktural tingkat lurah diusulkan menjadi Rp 33.730.000, naik sekitar Rp 20 juta dari tahun lalu yang hanya Rp 13 juta. Penghasilan ini berasal dari gaji pokok Rp 2.082.000, tunjangan jabatan Rp 1.480.000, TKD Statis Rp 13.085.000, TKD Dinamis Rp 13.085.000, dan tunjangan transportasi Rp 4.000.000.
Pada bagian lain, Yuddy juga berpesan agar ASN di pemerintah provinsi DKI Jakarta tetap berjalan baik meski dinamika politik sedang berlangsung.
“Saya meminta Pak Ahok dan semua jajaran staf di Pemprov DKI Jakarta untuk lebih meningkatkan komunikasi dengan rekan-rekan di DPRD, agar tercipta saling pengertian dan menghormati satu dengan yang lain,” katanya.
Pemerintah juga berpesan kepada semua warga masyarakat khususnya DKI Jakarta agar tidak mempunyai pikiran ekstrim untuk memakzulkan Gubernur DKI Jakarta. Langkah itu dianggap tidak lazim dan akan berdampak buruk.
“Silakan mengkritik tapi etika harus dikedepankan. Budaya Timur menjunjung tinggi etika, apalagi di ruang formal diharapkan semua aparatur negara dapat menjaga ucapan dan sikap,” tegas Yuddy.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


6 Tips agar Perjalanan dengan Bayi Lebih Nyaman dan Minim Drama

Pembalut dan Buku Kena Pajak, Barang Apa Lagi yang Tanpa Sadar Dipajaki?

Kebiasaan Ngemil Setelah Makan Malam Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Hati hingga 30 Persen

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?

Mengapa Tempat Sepi seperti Lorong Kosong Bisa Terasa Menyeramkan? Ini Penjelasan Psikologinya

Penelitian Ungkap Protein Bisa Bantu Membersihkan Sisa Sel dan Kurangi Tanda Peradangan

Usia Berapa Otak Manusia Paling Tajam? Ternyata Bukan Saat Masih Muda