RI Diambang Resesi, 3 Komoditas Ini Tumpuan Harapan Menkeu Sri Mulyani

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 22 September 2020 19:33
RI Diambang Resesi, 3 Komoditas Ini Tumpuan Harapan Menkeu Sri Mulyani
Pemerintah memperkirakan ekonomi Indonesia di kuartal III-2020 akan mengalami kontraksi.

Dream - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku masih berharap ekonomi Indonesia akan pulih meski diperkirakan mengalami pertumbuhan negatif di kuartal III-2020. Pemulihan akan berasal dari naiknya harga sejumlah komoditas utama dunia.

Dalam webinar APBN Kita, Selasa, 22 September 2020, Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 mengalami kontraksi minus 2,9 hingga minus 1,0 persen. Dengan prediksi terbaru ini, ekonomi Indonesia di tahun inikemungkinan hanya tumbuh antara minus 1,7 sampai minus 0,6 persen.

" Yang terbaru per September 2020 ini minus 2,9 persen sampai minus 1,0 persen. Negatif teritori pada kuartal III ini akan berlangsung di kuartal IV. Namun kita usahakan dekati nol," kata Menkeu.

Harapan muncul dari harga komoditas dunia yang mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.

 

1 dari 4 halaman

Dari CPO sampai Emas

Dari catatan pemerintah, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang menjadi andalan ekspor Indonesia tercatat mulai pulih pada Agustus dan September 2020. Sebelumnya harga CPO tertekan luar biasa di bulan Mei dan Juni.

Harga komoditas lain yang naik adalah minyak mentah dunia sudah melebihi asumsi pada Perpres 54/2020 yaitu di atas US$40 per barel. Baseline asumsi harga ICP (Indonesia Crude Price) ditetapkan US$ 38 per barel untuk harga rata-rata sepanjang tahun 2020.

Selain itu pemerintah juga menaruh harapan pada harga emas yang terus naik seiring investor yang mengamankan portofolionya pada aset safe haven ini.

" Harga komoditas lain ada perbaikan, emas safe haven dari situasi ketidakpastian makanya melonjak di Agustus dan masih bertahan tinggi di September. LNG turun tajam di September, dari harga tembaga juga mengalami kenaikan," kata dia.

Sementara untuk batubara belum menunjukkan adanya pemulihan.

" Batubara belum ada pemulihan, masih shock, sejak Mei dan belum ada tanda pemulihan, harga stabil. Jadi dalam hal ini RI, komoditas batubara masih tertekan, CPO membaik, LNG ada perbaikan meski masih labil," jelas dia.

(Sah, Merdeka.com)

2 dari 4 halaman

Siap-Siap! Indonesia Masuk Resesi Ekonomi

Dream - Ekonomi Indonesia kemungkinan besar bakal mengalami resesi. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 bakal terkontraksi 2,9-1,0 persen.

Jika perkiraan tersebut sesuai, ekonomi Indonesia dipastikan mengalami resesi teknikal karena pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal bertutur-turut.

" Kementerian Keuangan melakukan revisi forecast pada bulan September ini,"  ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers virtual APBN Kita, Rabu, 23 September 2020.

Sebelumnya Kemenkeu memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di kisaran minus 1,1 hingga positif 0,2 persen. Perkiraan terbaru hingga bulan September tahun 2020 memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kisaran minus 1,7 hingga minus 0,6. 

 

3 dari 4 halaman

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI

Sri Mulyani mengatakan sejumlah institusi sampai saat ini ini memang belum membuat revisi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebagian besar sudah memprediksi ekonomi Indonesia 2020 akan mengalami pertumbuhan negatif. 

“ Kalau kita lihat berbagai institusi yang melakukan forecast terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia belum ada update, namun kira-kira mereka rata-rata sekarang memproyeksikan ekonomi Indonesia tahun 2020 semuanya pada zona negatif kecuali bank dunia yang masih pada posisi nol,” kata Menkeu.

Diketahui OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar minus 3,3 persen. Perkiraan ini lebih baik dari yang perkiraa sebelumnya antara 3,93 hingga minus 2,8 persen (yoy).

Bank Pembangunan Asia memperkirakan Indonesia mengalami kontraksi 1 persen (yoy), Bloomberg - 1 persen (yoy), IMF di - 0,3 persen (yoy), dan Bank Dunia 0 persen (yoy).

“ Ini artinya negatif teritori kemungkinan akan terjadi pada Kuartal ke-3. Dan mungkin juga masih akan berlangsung untuk kuartal ke-4 yang kita upayakan untuk bisa mendekati nol atau positif,” tutur Menkeu.

 

4 dari 4 halaman

Di tahun 2021, pemerintah tetap menggunakan perkiraan sesuai dengan yang dibahas dalam RUU APBN 2021, yaitu pertumbuhan ekonomi antara 4,5 hingga 5,5 persen (yoy) dengan forecast titiknya 5,0 persen (yoy).

OECD tahun depan memperkirakan Indonesia tumbuh di 5,3 persen, ADB juga pada kisaran 5,3 persen, Bloomberg median di 5,4 persen, IMF 6,1 persen, dan World Bank di 4,8 persen.

“ Semua forecast ini semuanya subject to, atau sangat tergantung kepada bagaimana perkembangan kasus covid-19 dan bagaimana ini akan mempengaruhi aktivitas ekonomi,” pungkas Menkeu.

(Sah, Sumber: Liputan6.com)

Beri Komentar