Riset: 75 Persen Konsumen Tolak Kenaikan Tarif Ojol

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 7 Mei 2019 10:43
Riset: 75 Persen Konsumen Tolak Kenaikan Tarif Ojol
Dengan kenaikan ini, berarti konsumen harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi mereka. Padahal banyak konsumen dari kalangan mengengah ke bawah.

Dream – Jajak pendapat yang dilakukan oleh Research Institute of Socio-Economic Development (Rised) menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen menolak kenaikan tarif ojek online. Naiknya tarif membuat pelanggan mengeluarkan biaya lebih.

Ketua Tim Peneliti Rised, Rumayya Batubara, mengatakan, melibatkan 3.000 konsumen ojek online dalam survei ini. Para responden derasal darii Jabodetabek, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Palembang, Malang, dan Makassar.

Hasilnya, 47,6 persen responden menyatakan hanya bersedia mengeluarkan tambahan biaya kenaikan maksimal Rp4 ribu hingga Rp5 ribu. Sementara, 27,4 persen konsumen sama sekali tidak mau ada kenaikan.

" Total persentase kedua kelompok tersebut mencapai 75 persen secara nasional,” kata Rumayya di Jakarta, Senin 6 Mei 2019.

Sejak 1 Mei lalu, Kementerian Perhubungan, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan (Kemenhub) Nomor 348 Tahun 2019 menaikkan tarif ojek online. Kenaikan tarif dibagi menjadi tiga zona.

Ketiga zona itu adalah Zona I Sumatera, Jawa dan Bali kecuali Jabodetabek, Zona II Jabodetabek, dan Zona III untuk wilayah Kalimantan, Sulawesi hingga Maluku. Aturan kenaikan tarif itu telah diumumkan oleh Kemenhub pada awal April 2019 lalu.

Bila diklasifikasikan berdasarkan zona, maka konsumen yang menolak kenaikan tarif ojek online di zona I adalah 67 persen, zona II sebanyak 82 persen, dan zona III sebesar 66 persen.

Selama ini, angka kenaikan tarif yang ditampilkan ke publik seperti zona I Rp 1.850-Rp2.300 per kilometer, zona II Rp2.000-Rp2.500, zona III Rp2.100-Rp3.125, itu tarif yang diterima oleh pengemudi.

Sementara, biaya yang harus dibayarkan oleh konsumen untuk zona I Rp2.312-Rp2.875, zona II Rp2.500-3.125 dan zona III Rp2.625-Rp3.250 per kilometer.

1 dari 1 halaman

Karena Gaji?

Menurut Rumayya, alasan penolakan kenaikan tarif karena mayoritas pengguna ojol, terutama di wilayah Jabodetabek, Surabaya, dan Bandung, memiliki penghasilan menengah ke bawah.

" (Ada) 75,2 persen konsumen berpendapat (berasal dari) menengah ke bawah. Gajinya Rp2,5 juta," kata dia.

Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fitra Faisal, mengatakan, kenaikan tarif ojol ini harus dievaluasi karena bisa berdampak pada sektor lain. Sebab, pengeluaran transportasi menyumbang cukup besar untuk pengeluaran per bulan.

" Kenaikan tarif ojol yang cukup tinggi tentunya akan berkontribusi pada semakin tingginya tingkat inflasi. Apalagi hasil survei RISED, biaya pengeluaran transportasi sehari-hari berkontribusi sekitar 20 persen perbulannya,” kata Fithra.

Beri Komentar
Anak Millenial Wajib Tahu, Ini Tips Umroh Tenang Tanpa Utang