Sumur Pertamina di Laut Karawang Bocor, 8 Desa dan 7 Pantai Tercemar Minyak

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 30 Juli 2019 17:20
Sumur Pertamina di Laut Karawang Bocor, 8 Desa dan 7 Pantai Tercemar Minyak
Setiap harinya ada ribuan barel minyak Pertamina yang tumpah ke laut.

Dream – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat tumpahan minyak yang dipicu gelembung gas di sekitar sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) Pertamina mencapai 51 ribu barel per hari.

Berdasarkan laporan tim di lapangan kebocoran minyak terjadi sejak munculnya gelembung gas, setiap harinya minyak yang tumpah di ‎perairan mencapai ‎3 ribu barel per hari.

‎" Laporan dari tim di lapangan, kira-kira semburan minyak itu sebesar kira kira 3.000 Bopd per hari, konstan sejak 12 Juli," kata Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM ‎Djoko Siswanto, di Jakarta, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 30 Juli 2019.

Djoko mengatakan tumpahan minyak tersebut segera ditangani. Upaya untuk mematikan bocoran gas yang berada di sekitar sumur YYA-1 terus dilakukan agar gelembung gas berhenti.

Berdasarkan data tim Kementerian ESDM di lapangan, tumpahan minyak sudah berdampak ke delapan desa di Karawang, dua desa di Bekasi dan tujuh pantai yang diketahui terpapar tumpahan minyak.

" Data-data saya baca, per hari ini oil spill sudah ke arah barat. Terdampak 52 mil. Ada delapan desa karawang dan dua desa bekasi. (Ada data)‎," kata dia.

1 dari 5 halaman

Gelembung Gas di Blok Migas ONWJ Timbulkan Tumpahan Minyak

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, sudah terdapat tumpahan minyak di area yang terdapat gelembung gas dari sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ON‎WJ) yang dioperatori Pertamina Hulu Energi ONWJ.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal‎ Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, gelembung gas muncul sejak Jumat, 12 Juli 2019, kini sudah menimbulkan tumpahan minyak. Namun dia belum bisa memastikan sumber tumpahan minyak.

" ‎Sekarang sudah ada oil spill (tumpahan minyak), sudah ada," ‎ kata dia di Jakarta.

2 dari 5 halaman

Belum Sampai Daratan

Tumpahan minyak dipastikan belum sampai ke daratan karena tim yang diterjunkan terus berupaya menghalau tumpahan minyak agar tidak sampai kedaratan. Selain itu, penanganan yang dilakukan dengan menyedot minyak yang ‎tumpah.

‎" Upaya terus dilakukan untuk atasi oil spill. Berapa besar tidak tahu, tetapi tindakan antisipasi sudah diambil. Belum sampai ke pesisir," kata dia.

Djoko mengungkapkan, upaya yang dilakukan atas kemunculan gelembung gas tersebut adalah menyelamatkan pekerja agar tak timbul korban jiwa. Langkah selanjutnya adalah mengantisipasi kerusakan lingkungan akibat tumpahan minyak.

" ‎Upaya pertama orang evakuasi, kedua lingkungan supaya minyak ngga tersebar kemana-mana, kita tangkap kita bereskan,” kata dia.

3 dari 5 halaman

Pertamina Kerahkan Peralatan Canggih Atasi Tumpahan Minyak di Karawang

Direktur Teknik dan Lingkungan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas bumi Kementerian ESDM, Adhi Wibowo memastikan prosedur penanganan tumpahan minyak yang dilakukan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) sudah tepat.

Hidro karbon yang menyembur dari sumur YYA-1 ini adalah jenis waxy oil, semacam minyak berat seperti lilin. Upaya penanganan memerlukan cara khusus yakni menggerahkan octopus skimmer untuk menghisap tumpahan minyak tersebut.

" Memang seperti itu yang mesti dilakukan dalam penanganan oil spill, yakni dengan memasang oil boom dan juga menggunakan skimmer," kata dia di Jakarta.

Pelibatan Oil Spill Combat Team (OSCT) Indonesia oleh PHE ONWJ juga dinilai sangat membantu karena sudah memiliki pengalaman dalam kasus peanggulangan tumpahan minyak di dalam negeri maupun di luar negeri.

" Jika peralatan perusahaan tidak cukup, maka memang wajib mendatangkan peralatan tersebut dan menangani oil spill hingga tuntas, contohnya adalah dengan menambah jumlah Octopus skimmer," kata dia.

Selain mengerahkan Giant Octopus Skimmer, Pertamina juga membentangkan Static Oil Boom berukuran 5x400 meter di sekitar anjungan YY di wilayah Karawang Jawa Barat. Strategi ini menjadi andalan dan dinilai terbukti efektif untuk menahan penyebaran tumpahan Minyak.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman mengungkapkan, Static Oil Boom ditempatkan di sekitar anjungan YY yang diindikasikan terdapat sumber utama keluarnya minyak mentah sehingga dapat mengisolasi minyak tersebut agar tidak melebar kemana-mana di lautan.

“ Pertamina terus berupaya maksimal menangani tumpahan minyak dengan menerjunkan berbagai peralatan dan metode sesuai standar di industri migas,” kata dia.

4 dari 5 halaman

Ada Gelembung Gas, Pertamina Evakuasi Pekerja di Anjungan Lepas Pantai YYA

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menyatakan bahwa telah terjadi gelembung gas di lapangan YYA, Blok Offshore North West Java (ON‎WJ). Blok minyak dan gas (migas) tersebut terletak di perairan Pantai Utara Pulau Jawa.

Vice President Relations Pertamina Hulu Energi Ifki Sukarya mengatakan, ‎pada 12 Juli telah dilakukan pengeboran sumur YYA-1 yang menyebabkan muculnya gelembung di sekitar anjungan lepas pantai YAA yang dioperatori PHE ONWJ. Sumur tersebut di sekitar 2 kilometer (km) dari Pantai Utara Jawa, Karawang, Jawa Barat.

" Bahwa sumur YY A1 ini sumur yang eksplorasi sebelumnya dan sedang kita preproasi untuk produksi. Itu bikin lubang-lubang untuk kegiatan produksi. Saat melubangi itulah timbul flow, muncul gelembung gas," kata Ifki, di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Pertamina Hulu Energi ONWJ telah mengaktifkan Incident Management Team (IMT), untuk ‎menanggulangi kejadian gelembung gas ini.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan pihak Pertamina Hulu Energi ONWJ sudah menutup kegiatan pengeboran sumur YYA1, selain itu juga memindahkan pekerja yang berada di anjungan lepas pantai dan menara pengeboran.

" Jadi kami segera pada saat dilakukan penutupan, kami aktiviasi IMT yang bertugas monitor situasi di lapangan," kata dia.

5 dari 5 halaman

Kronologi Terjadinya Tumpahan Minyak di Pantai Utara Karawang

Pertamina tengah melakukan investigasi awal terkait tumpahan minyak (oil spill) yang menceceri laut pantai utara Karawang pada beberapa waktu lalu. Berdasarkan dugaan awal tumpahan minyak tersebut terjadi karena kebocoran gas yang menimbulkan gelembung udara di sumur YYA-1 Blok Offshore North West Jawa (ONWJ).

" Kami masih lakukan investigasi mendalam, bisa kami sampaikan bahwa gas yang dari permukaan ini lah yang menyebabkan," kata Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan H. Samsu, di Jakarta.

Dharmawan menyebut, ada indikasi terjadi anomali tekanan pengeboran sumur YYA-1 sehingga menyebabkan munculnya gelembung gas diikuti oil spill. Kebocoran gas tersebut kemudian berdampak pada terjadinya pergeseran pondasi anjungan YY.

" Sehingga itu mengakibatkan terjadinya tumpahan minyak dan terbawa arus pantai terdekat,” kata dia.

Dharmawan menjelaskan, rankaian peristiwa tersebut bermula pada 12 Juli 2019. Di mana pada pukul 01.30 WIB ketika melakukan kegiatan muncul gelembung gas di anjungan YYA-1 yang terletak di wilayah operasi offshore ONWJ.

Melihat kejadian itu, pada 14 Juli sekitar pukul 22.40 WIB seluruh pekerja yang di seluruh anjungan dari sekitar area tersebut dievakuasi ke tempat yang aman.

Di hari selanjutnya, PHE ONWJ menyatakan keadaan darurat dengan mengirim surat kepada SKK Migas dan Kementerian ESDM.

Pada 16 Juli mulai terlihat ceceran lapisan minyak di permukaan laut sekitar di samping gelembung yang masih terus terjadi. Pada 18 Juli, lapisan minyak mencapai pantai barat. Di mana jarak anjungan dengan garis pantai Karawang berada pada 2 kilometer.

Pertamina Ambil Alih Penyelesaian Kasus Tumpahan Minyak di Pantai Karawang

Sebagai induk perusahaan PT Pertamina Hulu Energi, Pertamina akan mengambil alih penanganan gelembung gas yang terjadi di sumur minyak dan gas (migas) lepas Pantai YYA-1 yang ada di area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java atau PHE ONWJ. Langkah ini merupakan komitmen perseroan dalam melakukan upaya insentif untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

" Saat ini (penanganan) ditarik ke level korporat sebagai komitmen Pertamina menyelesaikan masalah ini seintensif mungkin," kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, di Jakarta.

Dia mengklaim, upaya ini dilakukan pihaknya guna menunjukkan kredibilitas dan kapabilitas Pertamina. Di mana sejak kejadian awal perseroan secara responsif telah melakukan berbagai penanganan.

" Kami juga telah sampaikan bahwa Pertamina telah dan akan melakukan berbagai upaya secara insensif, dengan prioritas keselamatan dan keamanan masyarakar sekitar," kata dia.

Di samping itu, lanjut dia tim respons darurat Pertamina hingga saat ini dan ke depannya juga akan terus bekerja di lapangan dan wilayah pesisir sekitar kejadian. Itu dilakukan guna meminimalisir dampak dari kebocoran gas tersebut.

" Tim emergency response kami juga terus bekerja 24 jam di lapangan sekitar anjungan maupun daerah pesisir," pungkasnya.

(Sumber: Liputan6.com/Pebrianto Eko Wicaksono)

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'