Survei: Tato, Warna Rambut, dan Pilihan Baju Bisa Bikin Pelamar Kerja Ditolak

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Sabtu, 27 Juni 2020 12:00
Survei: Tato, Warna Rambut, dan Pilihan Baju Bisa Bikin Pelamar Kerja Ditolak
Padahal, yang berpenampilan kurang menarik justru punya keterampilan lebih baik.

Dream – Bagi pelamar kerja, alangkah baiknya memperhatikan penampilan di samping surat lamaran maupun Curriculum Vitea yang disodorkan ketika melamar pekerjaan. Imbauan ini disampaikan karena masih banyak perusahaan yang menilai kandidat salah satunya dari penampilan.

Dikutip dari studyfinds.org, Sabtu 27 Juni 2020, Greene King dan One Poll melakukan survei kepada 1.000 manajer dan pimpinan perekrutan di Inggris. Hasilnya, 51 persen responden mengaku sadar telah mendiskriminasi karyawan potensial dari penampilan.

Sebanyak 43 persen responden mengaku tidak mempekerjakan kandidat yang bertato. Selanjutnya 40 persen menilai dari baju kandidat dan 30 persen dari warna rambut.

Yang mengejutkan, sebanyak 21 persen responden mengaku menolak kandidat karena memiliki kecacatan tubuh.

“ Pengusaha harus berpikiran terbuka dan mempekerjakan orang berdasarkan potensi, bukan hanya penampilan,” kata Direktur SDM Greene King, Andrew Bush.

Bush menyayangkan perusahaan yang hanya menilai kandidat dari “ sampul”. Padahal, kandidat yang bertato, bertindik, atau berpenampilan kurang menarik justru punya keterampilan yang cemerlang.

 

1 dari 2 halaman

Alasan Tolak Pegawai Bertato

Untuk kandidat yang bertato, manajer perekrutan sulit mengabaikan faktor ini. Tato dinilai mengganggu oleh 28 persen responden. Kemudian, ada 25 persen responden yang tak bisa mengabaikan cara orang berpakaian dalam wawancara.

Secara keseluruhan, 90 persen responden menilai penampilan secara profesional adalah aspek penting dalam menavigasi proses perekrutan di perusahaan mereka.

Kemudian, 57 persen pengusaha lebih “ lunak” untuk penampilan pelamar berusia di bawah 24 tahun

2 dari 2 halaman

Jarang Lirik Kandidat Tanpa Gelar

Tak hanya penampilan, perusahaan juga memilih kandidat berdasarkan latar pendidikan. Secara keseluruhan, 38 persen perusahaan jarang mempekerjakan kandidat yang putus sekolah dan 38 persen tak mau jika tanpa gelar sarjana.

Ada juga 25 persen responden yang tidak mempertimbangkan kandidat yang tidak kuliah sama sekali.

Lalu, ada 85 persen responden yang merasa “ open minded” saat hendak mempekerjakan karyawan baru, 37 persen lainnya memandang kelas sosial, dan 21 persen tak pernah merekrut orang dengan catatan kriminal.

Beri Komentar