Waspada, Sindrom Burnout di Kantor Bisa Picu Serangan Jantung

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Minggu, 19 Januari 2020 15:01
Waspada, Sindrom Burnout di Kantor Bisa Picu Serangan Jantung
Waduh.

Dream - Masalah di rumah, tekanan dalam pekerjaan, atau hubungan cinta yang bermasalah bisa membuat seseorang kelelahan. Keletihan ini ditandai dengan sangat capek sepanjang waktu.

Kini, penelitian menunjukkan bahwa kelelahan bekerja bisa mendorong kondisi jantung yang serius.

Dikutip dari studyfinds, Sabtu 18 Januari 2020, studi yang dirilis dalam jurnal European Journal of Preventive Cardiology menunjukkan bahwa sindrom burnout dikaitkan dengan atrial fibrilasi, gangguan yang berpotensi fatal pada irama jantung seseorang. Hal ini diungkapkan oleh para peneliti dari University of Southern California, Amerika Serikat.

Burnout biasanya disebabkan oleh stres berkepanjangan dan mendalam di kantor atau rumah. Ini berbeda dengan depresi yang ditandai dengan rendahnya suasana hati, rasa bersalah, dan harga diri yang buruk,” kata penulis studi, Parveen, K. Garg.

Menurut Garg atrial fibrilasi merupakan bentuk ritme jantung yang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Namun, ilmu kedokteran modern masih belum sepenuhnya yakin apa yang sebenarnya menyebabkan kondisi tersebut.

Stres psikologis telah lama dianggap sebagai faktor dalam perkembangannya, tetapi penelitian sebelumnya tentang masalah ini telah menghasilkan hasil yang tidak meyakinkan. Selain itu, sampai sekarang, kemungkinan hubungan antara kelelahan dan kelelahan keseluruhan dan fibrilasi atrium belum pernah diselidiki secara luas.

Para peneliti mensurvei lebih dari 11 ribu orang pada tingkat kelelahan dan kemarahan mereka, penggunaan antidepresan, dan tingkat dukungan sosial. Kemudian, semua peserta dilacak selama 25 tahun, untuk mengamati siapa yang akhirnya mengembangkan ritme denyut jantung yang seperti itu.

Secara keseluruhan, tim peneliti menemukan bahwa individu yang menunjukkan tingkat kelelahan vital tertinggi, atau kelelahan berlebihan, demoralisasi, dan lekas marah, adalah 20 persen lebih mungkin mengembangkan atrial fibrilasi selama periode tindak lanjut 25 tahun. Itu ada didibandingkan dengan peserta yang menunjukkan sedikit atau tidak ada tanda-tanda kelelahan pada awal penelitian.

Penulis studi mengakui bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami hubungan yang tepat di sini, tetapi yakin ada beberapa jenis hubungan antara tingkat kelelahan dan kemungkinan mengembangkan detak jantung yang tidak teratur.

“ Kelelahan vital dikaitkan dengan peningkatan peradangan dan aktivasi respons stres fisiologis tubuh. Ketika dua hal ini dipacu, itu bisa memiliki efek serius dan merusak jaringan jantung dan bisa menyebabkan perkembangan aritmia ini,” kata dia.

1 dari 5 halaman

Hati-Hati! Pegawai Keseringan Lembur Terancam Sindrom Kronis Ini

Dream - Dunia kerja kini semakin kompetitif. Kondisi tersebut tanpa disadari menyebabkan banyak orang bekerja di luar jam kerja ideal. Bahkan, tak sedikit yang terpaksa lembur dan bekerja hingga dini hari.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit St. Carolus, Laurentius Aswin Pramono, mengatakan jam kerja yang terlalu lama bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti imunitas turun serta gampang terserang penyakit seperti flu dan pneunomia.

“ Ditandai dengan burn out,” kata Aswin dalam peluncuran PRUTotal Critical Protection di Jakarta, Senin 13 Januari 2020.

Dia mengatakan stres secara mental tak diperbolehkan sebab bisa menyebabkan gangguan seperti cemas, depresi , dan psikosomatis. Tanda lain yang kerap dialami adalah sindrom lelah kronis atau chronic fatigue syndrome.

 peluncuran PRUTotal Critical Protectionpeluncuran PRUTotal Critical Protection © Dream.co.id/Cynthia Amanda Male

“ Itu ditandai ketika seseorang sudah istirahat, tapi nggak pulih-pulih tenaganya. Itu psikologis,” kata Aswin.

Jika sudah terkena penyakit tersebut, Aswin menyarankan untuk melakukan penyembuhan mental maupun fisik.

" Perlu dukungan keluarga, mengistirahatkan diri sendiri, nonton bioskop, makan enak bersama teman, yang menyenangkan secara psikologis. Liburan itu perlu," kata dia.

2 dari 5 halaman

Sering Lembur, Pria Ini Meninggal Saat Wawancara Kerja

Dream - Terlalu banyak lembur tak baik juga bagi kesehatan. Selain bisa sakit, lembur yang berlebihan bisa memicu kematian dini, seperti yang terjadi pada seorang pria di Hangzhou, China.

Dikutip dari World of Buzz, Rabu 3 Desember 2019, pria berusia 36 tahun itu meninggal dunia saat mengikuti wawancara kerja. Dia mengembuskan napas terakhir setelah terus lembur dalam pekerjaan sebelumnya.

 

 © Dream

 

Pria yang tak disebutkan namanya itu tiba-tiba kolaps saat berbicara dengan pewawancara kerja. Dia langsung dibawa ke rumah sakit saat pupilnya melebar dan dinyatakan meninggal dunia.

Pewawancara mengatakan pria ini selalu lembur dan ini alasannya ingin berganti pekerjaan. Tak hanya itu, kandidat ini juga punya darah tinggi.

3 dari 5 halaman

Pasien Jantung Jangan Bekerja Terlalu Keras

Dokter mengatakan, pria itu meninggal karena serangan jantung. Pasien yang mengidap penyakit jantung koroner dan hipertensi berisiko tinggi mengalami serangan jantung. Penyakit serangan jantung ini juga bisa menyerang siapa pun yang sehat.

Dokter yang menangani pria ini sempat merawat pasien lain yang bertahan dari serangan jantung di tempat kerjanya dua minggu sebelumnya.

Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, kondisi pasien membaik. Namun, pasien ingin keluar dari rumah sakit karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Dokter menyarankan siapa pun yang pernah mengalami serangan jantung harus berhati-hati dan menghindari bekerja terlalu keras. Ini bisa menghindarkan diri dari potensi serangan jantung.

4 dari 5 halaman

Sering Lembur? Hati-hati Rambut Bisa Cepat Botak

Dream – Peringatan bagi kamu yang sering bekerja lembur. Kajian menyebutkan ada potensi kebotakan dua kali lebih cepat yang dialami oleh karyawan yang bekerja lebih dari 52 jam per minggu.

Dikutip dari World of Buzz, Kamis 24 Oktober 2019, peneliti dari Sungkyunkwhan University of Medicine di Korea Selatan, menemukan orang-orang yang bekerja lebih dari 52 jam per minggu akan mengalami kebotakan dua kali lebih cepat daripada yang bekerja di bawah 52 jam per minggu.

 © Dream

Dalam kajian yang dirilis di “ Annals of Occupational and Environmental Medicine”, pada 2017, peneliti membagi 13.391 responden menjadi tiga kelompok berdasarkan jam kerja, yaitu normal (bekerja 40 jam per minggu), panjang (52 jam per minggu), dan sangat panjang (lebih dari 52 jam per minggu). Para responden ini merupakan pria dan wanita yang berusia 20—59 tahun. Mereka juga didata berdasarkan umur, status pernikahan, pendidikan, dan faktor-faktor lainnya.

Hasil penelitian ini menunjukkan jam kerja tinggi mendorong peningkatan rambut rontok. Kondisi ini bsa memicu terjadinya kebotakan.

5 dari 5 halaman

Stres Picu Kebotakan

Menurut kajian, grup “ normal” memiliki tingkat kebotakan 2 persen, “ panjang” 3 persen, dan “ lebih panjang” 4 persen. Dikatakan juga pria yang memiliki jam kerja lebih panjang, memiliki tingkat kebotakan lebih tinggi daripada yang normal.

Jam kerja yang tinggi menimbulkan stres. Nah, stres ini bisa menghentikan pertumbuhan rambut di kepala. Terlalu lama bekerja juga bisa mengubah level hormon yang bisa berdampak negatif kepada tubuh.

Berdasarkan penelitian, periset meminta legislator untuk mengurangi jam kerja karyawan.

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak